Titis Widjayanti adalah lulusan S1-Bahasa dan Sastra Indonesia Undip, mantan jurnalis dan content writer. Saat ini menggeluti bidang Seni Pertunjukan melalui grup MERAMU: Dapur Pertunjukan.
Karena sebagai seorang perempuan, tentu wajar jika ada semacam perasaan tak terima cinta dan tubuh pasangannya dibagi untuk orang lain.
Beberapa waktu belakangan, aku sempat tercengang saat membaca salah satu status seseorang (random) di media sosial mengenai informasi yang ia bagikan. Akun tersebut menyebut bahwa dirinya sedang mencarikan pacar untuk suaminya.
Secara singkat ia menyebut, bahwa dirinya menyadari tidak bisa membagi waktunya untuk berperan sebagai teman cerita sang suami, sebab ia sudah terlampau kehabisan energi menjalani rutinitas: bekerja, mengerjakan urusan rumah, hingga mengurus anak mereka. Alhasil, dia memilih untuk mencari jalan tengah: mencarikan pacar untuk suaminya, khususnya mencarikan teman ngobrol secara emosional.
Status curahan hati itu pun mendapatkan beragam tanggapan dari warganet. Ada yang pro, sebab mengerti kondisi Wanita tersebut. Namun, tak sedikit pula yang kontra. Apalagi jika dihubungkan dengan keyakinan beragama. Meski, untuk agama-agama tertentu dibolehkan seorang lelaki memiliki lebih dari satu istri.
Di balik peristiwa itu, aku jadi teringat ‘slentingan’ beberapa kawan yang menyebut banyak pula orang di sekitar kami menjalani hubungan open relationship walaupun sudah menikah. Alih-alih memilih untuk melakukan poligami dan memperbanyak istri.
Jika pada sebuah pernikahan yang menganut prinsip poligami seorang suami dibolehkan memiliki istri lebih dari satu, untuk poliandri sebaliknya. Maka, belakangan ini semakin banyak istilah-istilah dan jenis-jenis hubungan non-monogami konsensual lainnya, yang cukup popular dan banyak dipraktikkan dalam sebuah hubungan. Baik itu bagi yang sudah menikah maupun masih berpacaran. Beberapa jenis hubungan tersebut ditengrai lahir dari pemikiran baru untuk mencari jalan tengah supaya semua pihak tidak ada yang dirugikan.
Contoh hubungan yang cukup populer adalah prinsip open relationship dan poliamori. Dua jenis relasi ini sering kali dianggap sebagai jenis hubungan yang mampu memberikan keadilan setara semua pihak. Itu lantaran berdasarkan asas kesepakatan bersama. Namun, terkadang orang keliru dalam praktiknya. Atau tak jarang juga salah pemahaman terkait perbedaan kedua jenis hubungan ini.
Padahal pada prinsipnya, baik open relationship maupun poliamori, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan dan aturan-aturan atau batasan yang tidak sama. Lalu apa saja perbedaannya?
Pakar seksolog, dr. Haekal Anshari, M.Biomed (2022) menyebut bahwa ada prinsip aturan yang harus digarisbawahi dari praktik hubungan open relationship dan poliamori. Di antaranya ialah, open relationship memiliki hubungan primer yang tetap didahulukan oleh pasangan utama. Meskipun keduanya sepakat bisa menjalin hubungan dengan orang lain di luar hubungan primer tersebut.
Open relationship tidak melibatkan emosi atau perasaan. Dan itu lebih mengedepankan kepada hubungan seksual. Dengan begitu, dua orang yang menjalani hubungan itu bisa mendapatkan kepuasan seksual dari bukan pasangan utama mereka, tetapi tetap mengutamakan urusan hubungan primer.
Di sisi lain, poliamori justru berlaku sebaliknya. Prinsip dalam hubungan ini memang membebaskan seseorang memiliki lebih dari satu pasangan. Namun, tidak ada hubungan yang diutamakan. Semua setara dan dianggap berimbang. Tujuannya pun berbeda.
Open relationship secara aturan tidak memperbolehkan pasangan utama melibatkan perasaan. Poliamori justru ditujukan kepada perasaan dan kebutuhan emosional, bukan seksual. Melihat kedua fenomena itu, jujur saja aku cukup kaget. Karena sebagai seorang perempuan, tentu wajar jika ada semacam perasaan tak terima cinta dan tubuh pasangannya dibagi untuk orang lain.
Perlu beberapa waktu bagiku memahami fenomena tersebut. Dan setelah menggali berbagai informasi untuk memahaminya secara lebih lebih mendalam, justru jenis hubungan “modern” tersebut dinilai sebagai jalan tengah yang tepat dalam sebuah hubungan di era kekinian.
Terlebih jika seseorang telah menjalaninya cukup lama—timbul rasa bosan, dan tidak bisa atau tidak mampu berpisah dengan pasangannya. Entah karena norma sosial, lelah mencari pasangan primer lain, atau alasan kompleks lain.
Sementara itu, pada hubungan non-monogami konsensual seperti disinggung sebelumnya, hal itu dianggap sebagai “win-win solution” karena kedua belah pihak memiliki hak yang sama. Dan yang terpenting adalah semua pihak sepakat dan saling tahu. Poin ini juga dianggap sebagai hal yang penting karena diharapkan menjauhkan seseorang dari tindakan perselingkuhan.
Dalam paham hubungan yang menganut paham liberal, ide itu muncul sebagai kritik untuk hubungan monogami konsensual yang dianggap justru membatasi kebebasan individu, otonomi tubuh, dan kejujuran dalam berelasi.
Oleh karenanya, penting bagi penganut paham ini untuk mencatat dan tak lupa etika praktiknya. Yakni keterbukaan, kepercayaan, dan kejujuran dalam berkomunikasi. Sehingga tidak ada dari satu pihakpun yang merasa dirugikan atas prinsip yang telah disepakati bersama tersebut.
Bagaimana? Apakah kamu siap dengan tren jenis hubungan ini? Jika iya, apa yang akan kamu pilih? Poliamori atau open relationship? (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

