Fara Ulya tinggal di Semarang. Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi, UIN Walisongo.
Kebahagiaan sejati bukan dari akumulasi kesenangan sesaat, melainkan didapat ketika kita hidup dengan bijak dan tidak dikuasai oleh keinginan yang tidak perlu.
Pandai menarik-ulur kehidupan adalah PR yang sangat sulit bagi saya. Seperti halnya bermain layang-layang. Kita harus punya siasat agar tidak cepat liwung (bingung). Sering sekali menjumpai keos saat menghadapi rutinitas, bisa jadi karena kita tidak memiliki skala prioritas. Saya pribadi menyebutnya kerancauan prioritas.
Pada salah satu kesempatan, saya menanyakan perihal bagaimana mengatur waktu dengan baik untuk memenuhi prioritas kepada salah satu profesor di kampus. Jawaban beliau singkat sekali: nafsu. Kika kamu bisa mengendalikannya, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Pada praktiknya, melawan nafsu adalah hal yang sulit. Contoh konkretnya: scroll di media sosial tanpa durasi waktu. Dalam keadaan sadar sekalipun, kita lebih memilih mengikuti keinginan.
Perihal kesenangan dalam konsep pleasure principle, seperti yang dikemukakan psikolog sigmund Freud, manusia memiliki dorongan alami untuk mencari kesenangan dan menghindari ketidaknyamanan. Namun meskipun hal ini wajar, penting untuk belajar mengelola dorongan ini dengan prinsip realitas agar dapat mencapai keseimbangan hidup, agar urip lebih urup.
Setelah berselancar mencari jawaban di berbagai referensi, akhirnya saya bertemu Epicurus. Epicurus adalah filsuf Yunani yang hidup sekitar 341-270 SM. Ia punya pandangan yang relevan untuk zaman now. Dia membagi keinginan manusia menjadi tiga kategori: Natural and Necessary Desires (keinginan alami dan perlu), Natural but Non-Necessary Desires (keinginan alami tapi tidak perlu), dan Vain and Empty Desires (keinginan sia-sia dan kosong).
Natural and Necessary Desires adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar kita bisa hidup dengan tenang. Makanan untuk menghilangkan lapar, air untuk menghilangkan haus, tempat berlindung dari cuaca, dan persahabatan untuk ketenangan jiwa. Ini bukan soal makan di resto mewah atau punya rumah megah. Cukup nasi dengan lauk sederhana, air putih, atap yang melindungi, dan teman yang bisa diajak ngobrol. Simple, sederhana, tapi esensial.
Natural but Non-Necessary Desires adalah upgrade dari kebutuhan dasar. Misalnya, kamu butuh makan (necessary), tapi ingin makan pizza atau sushi (non-necessary). Kamu butuh tempat tinggal, tapi ingin kamar dengan estetika ala Pinterest. Keinginan ini wajar dan boleh dikejar, tapi jangan sampai bikin hidup kita jadi stres atau keluar jalur. Epicurus bilang, silakan nikmati kalau ada kesempatan, tapi jangan jadikan ini pusat kehidupan.
Vain and Empty Desires adalah kategori yang paling berbahaya. Keinginan yang tidak ada habisnya dan tidak pernah bikin puas. Keinginan akan kekayaan berlimpah, kekuasaan, ketenaran, atau validasi dari orang lain. Scroll berjam-jam di media sosial, mengejar jumlah followers, membandingkan hidup dengan orang lain, ini semua masuk kategori Vain and Empaty Desaires. Epicurus bilang, keinginan ini harus dihindari karena mereka seperti lobang hitam yang menyedot energi tanpa pernah memberi kepuasan sejati.
Nah, bagaimana korelasinya dengan masalah “kerancauan prioritas” yang tadi saya singgung? Ternyata, banyak dari kita stuck di kategori ketiga tanpa sadar. Kita scroll tanpa henti bukan karena butuh informasi (necessary), tapi karena takut ketinggalan, ingin dianggap up to date, atau sekadar pelarian dari kebosanan. Itu adalah vain desire, keinginan kosong yang mencuri waktu untuk hal-hal yang sebenarnya lebih penting.
Seorang profesor di kampus saya yang bilang “nafsu” sebagai kunci mengatur waktu sebenarnya memberikan clue yang sama dengan Epicurus. Nafsu dalam konteks ini bukan hanya soal keinginan fisik, terapi semua dorongan yang bikin kita kehilangan fokus. Ketika kita bisa membedakan mana keinginan yang necessary, mana yang nice to have, dan mana yang purely kosong, kita jadi punya clarity dalam menentukan prioritas.
Freud dengan pleasure principle-nya menjelaskan mengapa kita cenderung memilih kesenangan instan. Otak kita memang dirancang untuk mencari dopamine hit, scroll media sosial, menonton video pendek, ngemil, semuanya memberi kepuasan sesaat. Tapi Epicurus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan dari akumulasi kesenangan sesaat, melainkan dari ataraxia (ketenangan jiwa) yang didapat ketika kita hidup dengan bijak dan tidak dikuasai oleh keinginan yang tidak perlu.
Lalu, bagaimana menerapkannya dalam keseharian? Mulailah dengan latihan sederhana: setiap kali ada keinginan muncul, tanya ke diri sendiri, ini masuk kategori yang mana? Ingin buka Instagram jam 2 pagi? Itu vain desire. Ingin makan siang yang enak setelah kerja keras? Itu natural but non-necessary, boleh dinikmati tanpa rasa bersalah. Butuh tidur cukup dan makan teratur? Itu necessary, jadi prioritaskan.
Dengan kerangka berpikir ini, kita jadi punya filter untuk memilah. Urip jadi lebih urup, terang, jelas, tidak terjebak dalam bias karena terlalu banyak distraksi. Seperti bermain layang-layang, kita belajar kapan harus narik, kapan harus mengulur, dan kapan harus membiarkan angin membawa layang-layang naik sampai di puncak ketinggian. Walaupun ini cuman teori, tapi bisa menjadi landasan berpikir yang bagus untuk kehidupan sehari-hari.
Epicurus menawarkan jalan yang tenang untuk ditempuh, tidak perlu terburu-buru, dan menenangkan. Jadi, apakah penting belajar mengelola dorongan dengan prinsip realitas? Menurut Epicurus jawabannya sangat penting. Karena di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, kemampuan untuk membedakan antara “yang perlu” dan “yang kosong” adalah kesanggupan yang kita semua butuhkan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

