Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ketika Seksualitas Dijadikan Alat Kontrol, Kekerasan Jadi Tak Terelakkan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ketika Seksualitas Dijadikan Alat Kontrol, Kekerasan Jadi Tak Terelakkan

Redaktur Opini
Last updated: Januari 30, 2026 3:01 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N, mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.

Hal itu terjadi karena masyarakat umum berpandangan bahwa kehormatan seksualitas seseorang adalah tanggung jawab individu yang harus “dijaga”, bukan hak untuk dihormati.

 

Pada Agustus 2025 di Cianjur, dua guru ngaji ditangkap karena mencabuli 14 santriwati. Yang satu beraksi sejak 2015 dengan dalih “pengobatan”, sementara yang lain berpura-pura dengan modus meminta bantuan mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu dan mengepel. Mereka akhirnya menghadapi hukuman 15 tahun penjara. Ini bukan kasus pertama, dan sayangnya, bukan pula yang terakhir.

Setiap kali berita serupa muncul, respons publik mengikuti pola yang sama sebelum-sebelumnya, yaitu kemarahan sesaat, pencarian kambing hitam, lalu lupa. Jarang kita bertanya lebih dalam: mengapa pelecehan seksual terus berulang meski pelakunya berasal dari beragam latar belakang?

Jawabannya terletak pada cara masyarakat kita memandang seksualitas. Bukan sekadar dilihat dari aspek biologis, tetapi sebagai alat untuk mengklasifikasi, menilai, dan mengontrol manusia.

Di sinilah letak masalahnya. Kelamin secara biologis adalah organ netral untuk reproduksi, tetapi kemudian “diubah” menjadi instrumen penilaian moral. Kita tidak hanya melihat seseorang sebagai manusia utuh, tetapi pertama-tama sebagai “laki-laki” atau “perempuan”.

Mereka kemudian mengajukan penilaian: siapakah yang cukup “suci”, cukup “jantan”, atau cukup “normal”. Perempuan yang tidak memenuhi standar “kesucian” dianggap rendah nilai moralnya. Laki-laki yang tidak cukup “maskulin” kehilangan status sosialnya.

Dampaknya nyata. Saat ini ketika seorang anak menjadi korban pelecehan, pertanyaan pertama yang sering kali muncul bukan “Apa yang dilakukan pelaku?”, melainkan “Apa yang dilakukan korban?” Pakaian korban ditanyakan. Perilaku korban dianalisis. Keberadaan korban di tempat-tempat tertentu dijadikan pembenaran.

Hal itu terjadi karena masyarakat umum berpandangan bahwa seksualitas adalah tanggung jawab individu yang harus “dijaga”, bukan hak untuk dihormati. Ujung-ujungnya, korban disalahkan, dan sebaliknya pelaku dimaklumi.

Ironinya, konteks kelamin sangat dekat dengan wacana kebudayaan kita. Monas (Monumen Nasional) adalah representasi Lingga dan Yoni, simbol kesuburan dalam mitologi Nusantara. Candi-candi kuno penuh relief yang merayakan kehidupan. Namun, di saat yang sama, ironisnya ialah ketika membicarakan seksualitas di ruang publik justru dianggap tabu.

Pendidikan seksual ditolak karena “tidak sesuai budaya”. Padahal di sinilah akar masalahnya. Kemunafikan budaya kita menerima seksualitas sebagai simbol di monumen dan candi, tetapi menolaknya sebagai pengetahuan untuk keselamatan hidup.

Lalu di mana letak masalah sebenarnya? Bukan pada kelamin atau seksualitas itu sendiri, melainkan pada pemaksaan. Pemaksaan standar kecantikan yang membuat perempuan merasa tidak cukup. Pemaksaan kejantanan yang membuat laki-laki merasa harus mendominasi.

Pemaksaan orientasi yang membuat individu menyembunyikan identitas. Dan yang paling berbahaya adalah pemaksaan dalam relasi intim yang berubah menjadi pelecehan dan kekerasan seksual. Setiap kali norma dipaksakan tanpa konsensus, kekerasan menjadi tak terelakkan.

Kembali ke kasus Cianjur. Kedua guru bisa melancarkan aksi bejadnya selama bertahun-tahun lantaran sistem sosial kita gagal melihat seorang anak sebagai individu yang berhak atas otonomi tubuhnya sendiri.

Mereka dipandang sebagai objek yang bisa diatur dan, sayangnya, dilecehkan. Selama kita masih menggunakan seksualitas sebagai alat untuk menilai dan mengontrol orang lain, saya kira kasus-kasus seperti ini akan terus berulang.

Yang kita butuhkan adalah perubahan paradigma. Berhentilah melihat kelamin sebagai penentu nilai moral, dan mulai melihatnya sebagai bagian netral dari tubuh yang hanya berbahaya ketika dipaksakan atau dijadikan alat kontrol.

Musuh kita bukanlah seksualitas, melainkan sistem pemaksaan dan penghakiman yang memungkinkan kekerasan itu terjadi, lalu menyalahkan korban. Hanya dengan mengubah cara pandang inilah kita bisa berharap bahwa kasus Cianjur tersebut benar-benar menjadi kasus terakhir.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Naikin Gaji ASN, Prabowo Main Aman atau Efisien?

Prabowo dan Sirkus Uang

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

Ketika Alam Membalas Tuntas

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Calon pembeli mendapat penjelasan mengenai keunggulan mobil listrik G3+ Polytron, di Polytron EV Showroom & Services, Jl Ahmad Yani, Kota Semarang. Mobil Listrik Polytron Nggak Cuma Buat Jalan, tapi Bisa Jadi Genset Darurat saat Mati Listrik
Next Article Wali Kota Solo, Respati Ardi, resmi meresmikan tiga bangunan SD Negeri sekaligus, Jumat (30/1/2026). Resmikan 3 Gedung Baru SD Negeri, Respati Dorong Ekosistem Pendidikan Inklusif di Solo

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Bersama-sama Tapi Sendiri

November 19, 2025
Opini

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Januari 22, 2026
Opini

Cerita Kelam Petani di Pundenrejo

Desember 3, 2025
Opini

Regulasi Tar-Nikotin: Adaptasi Bijak untuk Ekosistem Tembakau Nusantara

Februari 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ketika Seksualitas Dijadikan Alat Kontrol, Kekerasan Jadi Tak Terelakkan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?