Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?

Redaktur Opini
Last updated: Maret 27, 2026 11:42 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Syauqibillah Prabowo adalah mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Tinggal di Bebengan, Boja, Kendal.

Kita tidak hanya berhenti peduli pada dunia. Kita juga berhenti peduli pada diri kita sendiri.

 

Dunia ini tidak sedang baik-baik saja. Dan kali ini kalimat itu bukan sekadar kalimat klise. Di satu daerah, bencana datang bertubi-tubi hanya dalam satu tahun, dari banjir, longsor, kebakaran hutan, gempa, hingga abrasi.

Angkanya bisa dihitung, tapi kehilangan yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar tercatat. Rumah hilang bisa dibangun kembali, tapi rasa aman yang ikut hilang sering kali tidak pernah kembali dengan utuh.

Di tempat lain, manusia masih sibuk membicarakan kemungkinan perang berikutnya. Seolah-olah kehancuran selalu butuh versi yang lebih besar. Tapi yang lebih mengganggu bukan itu. Yang lebih mengganggu ialah betapa cepatnya kita terbiasa dengan berbagai bencana itu.

Di sebuah dusun kecil, Dusun Somopuro, Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kendal, misalnya. Udara tak lagi sesejuk dulu. Sawah berkurang sedikit demi sedikit lalu menghilang digantikan rumah-rumah kembar. Kebun sengon yang dulu berdiri kini hanya tinggal berdiam di ingatan. Semua tetap berjalan, seolah perubahan itu bukan kehilangan. Tapi kemajuan yang tidak perlu dipertanyakan.

Anak-anak yang tumbuh hari ini mungkin tidak pernah tahu seperti apa rupa tempat ini sebelumnya. Dan kita? Kita tetap ngopi. Membicarakan hidup, uang, masa depan, dan cinta, ketika dunia sedang berubah terlalu cepat. Tentang tragedi perang, ada yang menanggapinya serius, tetapi ada pula ada yang menganggapnya sebagai bercandaan belaka, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli.

“Ah, itu jauh. Kita ‘kan di Indonesia, Bro.” Lalu tertawa. Dan semuanya terasa normal. Seolah-olah jarak bisa menjadi alasan untuk tidak merasa terlibat, dan waktu bisa membuat segala sesuatu terasa tidak mendesak.

Di sudut lain, ternyata ada yang diam-diam mulai menanam. Mengantisipasi bila terjadi krisi pangan. Ada yang memelihara ayam. Menyimpan kemungkinan untuk bertahan. Mereka tidak banyak bicara, tetapi memahami sesuatu yang mereka takutkan mungkin akan benar-benar terjadi. Yang banyak bicara justru kita yang tidak benar-benar melakukan apa-apa.

Di tengah semua itu, muncul satu pemikiran yang sulit dihindari: mungkin kita memang harus egois. Mungkin bersikap peduli itu terlalu berat. Mungkin memahami dunia itu terlalu melelahkan. Mungkin satu-satunya cara untuk tetap waras adalah dengan tidak terlalu peduli. Hidup saja untuk diri sendiri. Ambil yang bisa diambil. Nikmati yang ada.

Terdengar masuk akal. Dan justru itu yang berbahaya. Karena tanpa sadar, kita mulai terbiasa. Terbiasa melihat kerusakan. Terbiasa mendengar ancaman. Terbiasa tidak melakukan apa-apa dan menyebutnya sebagai hal realistis belaka. Padahal mungkin itu hanya bentuk lain dari menyerah. Putus asa.

Kita tidak benar-benar menjadi kuat. Kita hanya menjadi kebal. Dan kebal ternyata bukan berarti sehat. Karena di titik tertentu, kita tidak hanya berhenti peduli pada dunia. Kita juga berhenti peduli pada diri kita sendiri. Dan mungkin tanpa kita sadari, kita tidak sedang bertahan. Kita hanya sedang perlahan-lahan menghilang. Dan yang paling menakutkan, kita tidak akan pernah sadar kapan terakhir kali kita benar-benar hidup. Hidup hanya menunda kekalahan.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Indonesia Bukan Krisis Petani, tetapi Krisis Kapabilitas Pertanian

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Menilik Potensi Umbi Porang sebagai Alternatif Pengobatan Diabetes Melitus

Dari Reshuffle, Prabowo Mulai Lepas Bayang Jokowi, Siapa Masuk Siapa Tersingkir?

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi warga menikmati layanan angkutan mudik hingga angkutan arus balik gratis. Gratis! 76 Bus Angkutan Balik Bawa Perantau Jateng Kembali ke Ibu Kota
Next Article Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Januari 23, 2026
Opini

Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh

Maret 3, 2026
Opini

Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar

Februari 16, 2026
Opini

Perempuan, Cantik Aja Nggak Cukup!

Februari 13, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?