BACAAJA, TEMANGGUNG – Peternak ayam petelur di Temanggung menggelar aksi demonstrasi. Mereka menjerit, harga pakan ternak mahal. Sementara harga telur tak bisa untuk menutupi.
Aksi demonstrasi peternak ayam petelur Kota Tembakau cukup unik. Mereka turun ke jalan. Bukan cuma membawa spanduk dan menyampaikan orasi.
Dalam aksi damai ini, mereka membagikan secara gratis 5.000 ekor ayam kepada warga yang ada di lokasi.
Bacaaja: Mulai 2027, Trans Jateng Sambungkan Magelang-Temanggung
Bacaaja: Polemik Revisi PP Kesehatan, Agus Gondrong Harap Keresahan Petani Tembakau Didengar
Aksi yang diinisiasi Koperasi Pengusaha Peternakan Rakyat Ayam Petelur Kabupaten Temanggung bersama Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Jawa Tengah itu digelar di kawasan Alun-Alun hingga halaman Kantor DPRD Kabupaten Temanggung, Senin (10/8/2026).
Masalahnya klasik, tapi dampaknya bikin peternak makin terjepit. Harga pakan naik. Sementara harga telur dan ayam di tingkat peternak justru anjlok. Peternak pun mengaku sudah berada di posisi serba sulit.
Perwakilan peternak, Ibnu Parwata, mengatakan kondisi yang dialami peternak rakyat saat ini sangat berat.
“Kami merasakan sangat luar biasa pedihnya karena harga telur sangat rendah dan juga ditekan harga pakan yang melambung tinggi,” katanya.
Ia juga menyinggung Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang dinilai belum banyak menyerap hasil produksi peternak rakyat. Para peternak berharap pemerintah bisa memberi perlindungan, terutama bagi usaha peternakan kecil.
Lebih baik dibagikan daripada mati di kandang
Aksi bagi-bagi ayam gratis itu bukan sekadar hiburan atau sensasi. Bagi para peternak, aksi tersebut menjadi simbol kondisi usaha mereka yang sedang tidak baik-baik saja.
Orator aksi, Buyung Adi Nugraha, mengatakan harga telur yang terus turun tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan.
“Harga telur sangat jatuh, harga pakan naik luar biasa. Kami tidak keberatan kalau harga telur murah, asalkan pemerintah bisa menjamin pakan juga murah,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini benar-benar tidak seimbang. Karena itu, para peternak memilih membagikan ayam kepada masyarakat.
“Lebih baik ayam ini kita berikan kepada masyarakat daripada mati di kandang ayam kami sendiri,” katanya.
Bupati turun langsung, janji kawal aspirasi hingga pusat
Bupati Temanggung Agus Setyawan (Agus Gondrong) ikut menemui langsung massa aksi. Ia datang bersama Forkopimda untuk mendengarkan aspirasi para peternak sekaligus menjelaskan langkah yang sudah dilakukan Pemkab Temanggung.
Agus mengatakan, Pemkab sebenarnya sudah lebih dulu mengirim surat resmi kepada Menteri Pertanian pada 7 Agustus 2026.
Surat itu berisi sejumlah usulan untuk membantu peternak rakyat yang sedang tertekan. Di antaranya meminta intervensi darurat untuk menekan harga pakan ternak.
Pemkab juga mengusulkan perpanjangan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP Jagung. Selain itu, ada usulan penyesuaian Harga Acuan Pemerintah untuk telur ayam ras.
Pemkab juga meminta pemerintah pusat memperkuat perlindungan terhadap peternak rakyat dari dominasi korporasi besar.
Tak cuma itu. Hasil produksi peternak lokal juga diusulkan bisa lebih banyak diserap untuk kebutuhan Program MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.
Agus menegaskan, Pemkab Temanggung tidak ingin berhenti hanya dengan mengirim surat. Menurutnya, aspirasi para peternak akan terus dikawal sampai ke pemerintah pusat.
“Kami tidak hanya sekadar bersurat. Pemkab Temanggung bersama DPRD dan Forkopimda akan terus mengawal,” tegas Agus.
Ia memastikan, jika peternak membutuhkan pendampingan untuk kembali menyuarakan tuntutan ke pemerintah pusat, Pemkab Temanggung siap ikut mendampingi.
Sekarang, para peternak menunggu langkah nyata. Sebab bagi mereka, harga pakan yang terus mahal dan harga telur yang jatuh bukan lagi sekadar soal angka. Tapi soal bagaimana usaha mereka bisa tetap hidup. (*)

