Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Nrimo Ing Pandum, Jalan Jawa Menuju Hati Tenang
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Nrimo Ing Pandum, Jalan Jawa Menuju Hati Tenang

Nugroho P.
Last updated: September 24, 2026 9:26 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
Istilah nrimo ing pandum sudah lama dikenal dalam pandangan hidup masyarakat Jawa. Kalimat sederhana ini bicara soal kemampuan menerima bagian hidup dengan lapang, tanpa terus-terusan dikejar rasa kurang.
SHARE
BACAAJA, SEMARANG – Istilah nrimo ing pandum sudah lama dikenal dalam pandangan hidup masyarakat Jawa. Kalimat sederhana ini bicara soal kemampuan menerima bagian hidup dengan lapang, tanpa terus-terusan dikejar rasa kurang.

Kalau ditarik ke ajaran Islam, ada konsep yang punya irisan kuat, yakni qana’ah. Bukan berarti duduk diam dan pasrah begitu saja, melainkan tetap berusaha sambil belajar menerima hasil yang sudah ditetapkan Allah SWT.

Contents
BACAAJA, SEMARANG – Istilah nrimo ing pandum sudah lama dikenal dalam pandangan hidup masyarakat Jawa. Kalimat sederhana ini bicara soal kemampuan menerima bagian hidup dengan lapang, tanpa terus-terusan dikejar rasa kurang.Bukan Berarti Pasrah Tanpa UsahaKaya Bukan Cuma Soal HartaNrimo Bukan Alasan Berhenti BerjuangSyukur Jadi Kunci UtamanyaSaat Hidup Tidak Sesuai RencanaTetap Relevan di Zaman Serba Pamer

Di tengah kehidupan yang serba cepat, sikap seperti ini terasa makin relevan. Banyak orang punya pencapaian, penghasilan, atau barang yang cukup, tetapi tetap merasa kurang karena terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha

Dalam budaya Jawa, nrimo ing pandum dapat dimaknai sebagai menerima bagian yang diperoleh dalam kehidupan. Sikap ini berkaitan dengan ketenangan hati dan kemampuan menjalani kenyataan tanpa terus diliputi keluhan.

Sementara dalam Islam, qana’ah merupakan sikap merasa cukup atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Orang yang qana’ah bukan berarti berhenti mengejar cita-cita, tetapi tidak membiarkan keinginan terhadap dunia berubah menjadi keserakahan.

Jadi, ada dua sisi yang berjalan bareng. Manusia tetap melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.

Gambaran sederhananya seperti petani yang menanam dan merawat tanaman sebaik mungkin. Ia bekerja keras, tetapi tetap sadar bahwa hasil panen tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Kaya Bukan Cuma Soal Harta

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Laisa al-ghinā ‘an katsratil-‘aradhi walākinnal-ghinā ghinān-nafs.

Artinya: “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran kaya tidak selalu bisa dilihat dari apa yang menumpuk di rumah atau angka yang ada di rekening.

Seseorang bisa saja memiliki banyak harta, tetapi hatinya tetap gelisah karena selalu merasa kurang. Sebaliknya, orang dengan kehidupan sederhana dapat merasakan ketenangan ketika mampu mensyukuri apa yang dimiliki.

Di sinilah qana’ah menjadi penting. Hati tidak gampang terseret iri hanya karena melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih enak.

Nrimo Bukan Alasan Berhenti Berjuang

Ada anggapan bahwa nrimo ing pandum berarti menerima keadaan tanpa melakukan apa-apa. Pemahaman seperti ini justru membuat maknanya menjadi terlalu sempit.

Dalam Islam, tawakal datang setelah ikhtiar. Manusia tetap diminta berusaha, berdoa, mengambil keputusan, lalu menerima hasil yang diberikan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS At-Taghabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Mā aṣāba min muṣībatin illā bi’idznillāh.

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa dikendalikan manusia. Ada keberhasilan yang datang setelah perjuangan, ada pula rencana yang gagal meski sudah diusahakan semaksimal mungkin.

Sikap qana’ah membantu seseorang menerima bagian tersebut tanpa kehilangan semangat untuk kembali bangkit.

Syukur Jadi Kunci Utamanya

Qana’ah juga tidak bisa dipisahkan dari rasa syukur. Orang yang mampu melihat nikmat kecil sebagai sesuatu yang berharga biasanya tidak gampang terjebak dalam perlombaan memiliki lebih banyak.

Rasulullah SAW bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Qad aflaḥa man aslama wa ruziqa kafāfan wa qanna‘ahullāhu bimā ātāhu.

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Pesan hadis tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki rezeki yang cukup dan hati yang bisa menerimanya merupakan nikmat yang sering justru luput disadari.

Bukan berarti seseorang dilarang memiliki target lebih besar. Yang penting, keinginan tersebut tidak membuat hati kehilangan rasa syukur atau menghalalkan segala cara.

Saat Hidup Tidak Sesuai Rencana

Hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario. Ada kehilangan, kegagalan, masalah ekonomi, hubungan yang kandas, sampai rencana yang sudah disusun rapi tetapi akhirnya berantakan.

Pada situasi seperti itu, sikap nrimo dan qana’ah bisa menjadi pegangan agar seseorang tidak terus tenggelam dalam penyesalan. Menerima kenyataan bukan berarti menyukai semua yang terjadi, melainkan mengakui bahwa ada hal-hal yang memang berada di luar kendali manusia.

Rasulullah SAW juga menggambarkan besarnya nikmat yang sering dianggap biasa saja:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Man aṣbaḥa minkum āminan fī sirbihi, mu‘āfan fī jasadihi, ‘indahu qūtu yaumihi, faka’annamā ḥīzat lahu ad-dunyā.

Artinya: “Barang siapa di antara kalian pada pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajak manusia melihat kembali nikmat yang sering dianggap sepele: keamanan, kesehatan, dan makanan yang cukup.

Tetap Relevan di Zaman Serba Pamer

Di era media sosial, rasa kurang bisa muncul kapan saja. Melihat orang lain membeli rumah, mengganti kendaraan, berlibur, atau mendapatkan pencapaian tertentu terkadang membuat seseorang merasa hidupnya tertinggal.

Di titik inilah nilai qana’ah bisa menjadi rem. Seseorang tetap boleh punya ambisi dan mengejar kehidupan yang lebih baik, tetapi tidak perlu menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran harga dirinya.

Nrimo ing pandum dan qana’ah pada akhirnya sama-sama mengajarkan pentingnya mengelola hati. Berusaha tetap jalan, doa tidak ditinggalkan, sementara hasil diterima dengan lapang.

Jadi, nrimo ing pandum bukan sekadar ajakan untuk pasrah. Jika dipahami berdampingan dengan konsep qana’ah dalam Islam, falsafah ini justru mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar, tawakal, dan syukur agar manusia tidak mudah kehilangan ketenangan hanya karena mengejar sesuatu yang belum dimiliki. (*)

You Might Also Like

Rahasia Tidur Nyenyak yang Diam-Diam Bikin Otak Fresh Total

Mau Anak Jago Cari Solusi, Ini Trik dari Psikolog

Jangan Asal Cium Bayi, Risikonya Bisa Serius

Pancaroba, Gadget Begadang Bikin Imun Anak Ikut Drop

Waspada! Ada Fenomena Jemaah Haji Mirip ‘Zombi’ Tahun 2026

TAGGED:falsafah jawaislamislami
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Wayang Jadi Jurus Dakwah Sunan Kalijaga

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Nrimo Ing Pandum, Jalan Jawa Menuju Hati Tenang

Wayang Jadi Jurus Dakwah Sunan Kalijaga

Warga Takut Kasus Geotermal Dieng Terulang di Gunung Ungaran

CEK KESEHATAN RUTIN - PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah mendorong seluruh personel untuk mengenali kondisi tubuh melalui pelaksanaan Daily Health Checking. Pemeriksaan rutin kesehatan ini dilakukan bagi personel sebelum memulai aktivitas kerja.

PLN Icon Plus Dorong Penerapan Budaya HSSE melalui Daily Health Checking

AKSI DI GUBERNURAN--Warga yang melakukan aksi jalan kaki dari Gedong Songo membaur dengan massa aksi Jateng Guyub di depan Gubernuran, Semarang, Kamis (24/9/2026). (bae)

Jalan Kaki dari Gedong Songo, Warga Suarakan Penolakan Geotermal di Gubernuran

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Maulid dan Maulud, Apa Bedanya Menurut Quraish Shihab?

Agustus 25, 2026
Tips

Anak Sering Begadang? Efeknya Ternyata Nggak Main-Main Lho Moms

Juli 7, 2026
Tips

Imam Malik dan Adab yang Mengangkat Derajat Ilmu

September 17, 2026
Info

Nikah Kok LDR, Kuat Nggak Hati dan Iman?

Maret 4, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Nrimo Ing Pandum, Jalan Jawa Menuju Hati Tenang
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?