Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Redaktur Opini
Last updated: Desember 16, 2025 10:41 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Di tengah ekspansi kawasan tambang dan kawasan penunjang, cara pikir “nanti dibereskan belakangan” adalah resep krisis yang terus berulang.

 

Banjir, longsor, kekeringan lokal, air keruh, dan sumur yang tiba tiba kering. Sekian masalah itu makin sering tayang di berita. Setiap kali itu terjadi, kita cenderung menyalahkan hujan. Terlalu deras, terlalu lama, atau cuaca tengah tidak bersahabat.

Padahal hujan seringkali hanya pemicu. Yang menentukan apakah hujan kelak berubah jadi bencana adalah kondisi ruang hidup, yakni hutan, lereng, sungai, dan cara kita memperlakukan semuanya. Hujan ibarat tamu. Kalau rumahnya rapuh, tamu sebentar saja sudah cukup membuat kerusakan.

Di sinilah konsep eksternalitas bekerja, dan sering diam-diam menipu. Dalam konteks bahasa ekonomi, eksternalitas adalah biaya yang tidak ikut muncul dalam perhitungan bisnis. Produksi berjalan, harga komoditas terlihat kompetitif, tetapi biaya ekologisnya dititipkan ke publik.

Sungai dangkal karena sedimentasi, warga kemudian harus menanggung dampaknya, yaitu air bersih makin mahal. Lereng yang rawan longsor berimbas desa di sekitarnya menanggung kerugian sekaligus rasa tidak aman. Banjir merusak jalan dan jembatan, pemerintah menanggung rehabilitasi lewat anggaran publik. Sejak awal ada selisih. Keuntungan tercatat di satu pihak, sementara biayanya disebar ke banyak orang.

Masalah eksternalitas bukan sekadar istilah kampus. Ia membentuk kebiasaan kebijakan. Pemulihan dianggap urusan belakangan, tepatnya setelah lobang terbuka, setelah air berubah warna, setelah bencana datang. Itu seperti membeli motor tanpa rem, lalu kaget saat melintasi jalanan menurun.

Ketika pemulihan ditempatkan di belakang, ia mudah jadi negosiasi. Ditunda, diperkecil, atau dikalahkan oleh target produksi. Di tengah ekspansi kawasan tambang dan kawasan penunjang, cara pikir “nanti dibereskan belakangan” adalah resep krisis yang terus berulang.

Eksternalitas juga menciptakan ilusi efisiensi. Biaya produksi terlihat rendah karena ongkos banjir, sedimentasi, rehabilitasi jalan, dan kesehatan warga tidak tercatat sebagai biaya usaha. Akibatnya, laba tampak wajar, sementara kerugian ekologis dan sosial menyebar, bahkan ditanggung masyarakat, dan akhirnya dibayar lewat anggaran publik.

Karena itu, saya mengusulkan penyegaran cara baca. Bukan eksternalitas, melainkan konsekuensi pemulihan. Artinya pun tegas. Pemulihan bukan bonus, bukan Corporate Social Responsibility (CSR), bukan pekerjaan yang baru diingat ketika masalah tampak membesar. Pemulihan adalah konsekuensi langsung dari izin dan desain usaha, dan harus dihitung sebelum usaha berjalan. Jika sebuah proyek tidak sanggup membayar pemulihan sejak awal, proyek itu belum layak beroperasi.

Agar konsep itu tidak berhenti sebagai slogan, ia perlu dibuat operasional. Tetapkan fungsi minimum yang wajib pulih, misalnya kualitas air, stabilitas lereng, tutupan vegetasi, dan akses air bersih. Ukur kondisi awal sebelum operasi, termasuk pH, kekeruhan, debit, titik rawan erosi, serta kondisi sosial ekonomi yang bergantung pada air dan lahan.

Turunkan risiko operasi menjadi paket pemulihan rinci, seperti pengendalian erosi, kolam endapan, pengolahan air, reklamasi bertahap, revegetasi, dan pemulihan sempadan sungai. Lalu kunci dananya lewat rekening penjamin atau bank garansi yang tidak bisa dipakai untuk kebutuhan produksi. Prinsipnya sederhana, tanpa jaminan, tanpa operasi.

Jika konsekuensi pemulihan dipakai, harga komoditas menjadi lebih jujur karena memasukkan ongkos menjaga ruang hidup. Publik tidak lagi jadi penanggung risiko, dan pembangunan berhenti menganggap bencana sebagai ongkos rutin.(*)

You Might Also Like

Tragedi Kaca Transparan

Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca

Demokratisasi Akses Literasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Dasar

Kita Ringkih dan Kalah, Tetapi Keras Kepala dan Enggan Menyerah

Rindu Masa Kecil Padahal Dulu Ingin Cepat Dewasa

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Warga Aceh kibarkan bendera putih, mereka nyerah bantuan seret. Warga Aceh Kibarkan Bendera Putih, Prabowo Singgung soal Serangan Politik
Next Article Pemkot Fokus Benahi BUMD Biar Setoran ke PAD Makin Nendang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Jalan Rusak: Ujian Keseriusan Tata Kelola Infrastruktur Daerah

Januari 25, 2026
Opini

Ketika Alam Membalas Tuntas

Desember 2, 2025
Opini

Mahasiswa Jawa dan Cara Inklusif Berteman ala “Jawakarta”

Februari 6, 2026
Opini

Dengan Berhijab Perempuan Berkuasa Penuh Menentukan Cara Tubuhnya Dipandang

Maret 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?