Sulung Pamanggih, peternak Kambing. Tinggal di Bojongnangka, Pemalang.
Terkadang lupa bukan sebuah kelemahan, melainkan mekanisme bertahan hidup. Jadi benteng tebal untuk menyelamatkan kita dari kegilaan.
Lupa ternyata tidak selalu menyeramkan. Bahkan perkara lupa terkadang bisa menjadi semacam kemewahan kecil, bahwa hidup tak lagi sesempit dahulu. Akhir-akhir ini, misalnya, saya sering takjub karena tiba-tiba menemukan duit di saku celana, satu hal yang beberapa tahun lalu nyaris mustahil saya alami. Jangankan puluhan ribu, uang seribu perak pun pasti saya ingat.
Dari sudut pandang mana pun, itu adalah progres yang bagus dalam hidup saya, bahwa saya tidak lagi memikirkan duit kecil dan biarlah mereka tersebar di mana-mana. Itu adalah jenis lupa yang menyenangkan dan risikonya ketika menceritakan kebahagiaan kecil ini, paling-paling saya dianggap jumawa.
Beberapa waktu lalu, saat tinggal dengan seorang teman di rumah kontrakan. Teman saya itu jenis manusia yang kerap digerogoti lupa mendadak. Ia pergi ke dapur dan terpekur lama di sana karena lupa mau berbuat apa. Apakah harus berak, goreng krupuk, atau sekadar minum air putih. Dengan handuk terselempang di pundak, dia mematung di depan kompor.
“Kamu mau mandi?”
“Tunggu, tunggu,” katanya sambil memicingkan mata dan menahan saya jangan mendekat dengan gerakan tangannya, seolah saya berniat menikamnya. “Ya kan gara-gara kamu aku jadi lupa mau ngapain.” Memori yang mendadak terputus macam itu aku pikir rasanya perih.
Belakangan saya tahu, itu disebut Doorway Effect atau Efek Ambang Pintu yang bisa terjadi karena fokus terbagi. Saat memasuki ruangan lain sambil memikirkan banyak hal, otak terpecah dan akhirnya melepas informasi tujuan awal dan yang terjadi hanya bengong sesaat atau mungkin beberapa saat.
Namun terkadang, melupakan tujuan ke dapur itu lebih baik daripada kita sering terlalu ingat pada hal-hal yang seharusnya dibiarkan lewat. Misalnya orang-orang menyebalkan yang keberadaannya sungguh menyita pikiran dan tenaga. Kerap ada orang jenis itu dalam lingkaran pertemanan. Hidupnya sangat melorot, berisi drama, gosip dan urusan keuangan yang bermasalah.
Dalam hidup yang sudah begitu gaduh macam ini, menaruh lupa dengan rasa hormat setinggi-tingginya terhadap orang semacam itu adalah keputusan yang bijak. Keputusan serupa juga bisa berlaku untuk mantan toksik yang sudah memeras emosionalmu. Anggap saja orang itu tidak pernah ada dalam hidupmu dan percayalah, hidup akan terasa jauh lebih ringan dijalani.
Ya, dengarkan baik-baik: terkadang lupa bukan sebuah kelemahan, melainkan mekanisme bertahan hidup. Jadi benteng tebal untuk menyelamatkan kita dari kegilaan. Mungkin itu pula sebabnya rakyat di negara ini tetap waras di tengah gempuran bualan para politisi. Sudah benar kita anggap omongan mereka semacam lagu pop yang tiba-tiba terdengar saat kita sedang menunggu menu pesanan di resto, lalu terbang lagi terbawa angin.
Realitas hidup menjadi dewasa mungkin memang begitu: pelan-pelan kita belajar mana yang harus diingat dan mana yang perlu dibiarkan tersimpan di saku celana dan kelak ditemukan lagi dengan tidak sengaja.
Kalau semua hal diingat otak kita barangkali sudah meledak: kecerewetan pasangan soal barang yang harus diletakkan di tempat semula usai digunakan, perintah bos yang kadang tak kenal waktu, bunyi pedas alarm token listrik, dan belum lagi notifikasi pay later yang hampir jatuh tempo. Buset. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

