Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Saat Media Sosial Menggerus Fokus dan Kesehatan Mental Remaja
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
OpiniUnik

Saat Media Sosial Menggerus Fokus dan Kesehatan Mental Remaja

Redaktur Opini
Last updated: Juli 24, 2026 1:19 pm
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Khairul Anam, M.Pd., guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMPN 1 Salatiga.

Tantangan yang dihadapi bukanlah menghilangkan media sosial dari kehidupan remaja, melainkan membangun kemampuan untuk menggunakannya secara bijaksana.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara remaja Indonesia belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan. Gawai dan media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul persoalan baru yang semakin mendapat perhatian, yakni menurunnya kemampuan fokus serta meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental akibat penggunaan media sosial yang berlebihan.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Berdasarkan data We Are Social dan Hootsuite 2023 yang dikutip dalam artikel tersebut, terdapat 212,9 juta pengguna internet di Indonesia. Sekitar 167 juta di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial.

TikTok menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan, terutama oleh kalangan remaja, dengan jumlah pengguna aktif lebih dari 113 juta orang. Sementara itu, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu sekitar 3 jam 18 menit setiap hari di media sosial. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 2 jam 30 menit.

Tingginya intensitas penggunaan media sosial dinilai membawa konsekuensi terhadap kemampuan konsentrasi. Video berdurasi pendek yang disajikan secara cepat melalui teknik hook membuat pengguna terbiasa memperoleh stimulasi instan.

Kondisi tersebut secara perlahan melatih otak untuk terus mencari rangsangan baru sehingga kemampuan mempertahankan perhatian dalam waktu lama berkurang. Padahal, durasi fokus ideal bagi siswa usia SMP berkisar antara 10 hingga 20 menit dalam satu sesi belajar efektif.

Tak hanya berdampak pada konsentrasi, pola scrolling yang cepat juga memengaruhi kondisi emosional pengguna. Dalam hitungan detik, seseorang dapat berpindah dari video yang mengharukan ke tayangan humor, lalu berlanjut ke konten motivasi atau berita yang memicu kecemasan.

Perubahan emosi yang berlangsung terus-menerus tersebut menciptakan apa yang disebut sebagai roller coaster emosi atau mood swing, sehingga pengguna merasa lebih mudah lelah secara emosional dan kesulitan kembali fokus pada aktivitas lain.

Artikel tersebut menjelaskan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu berbagai persoalan kesehatan mental. Di antaranya adalah meningkatnya kecemasan dan stres akibat paparan konten negatif. Juga gangguan tidur karena kebiasaan menggunakan gawai sebelum beristirahat, bahkan hingga kelelahan emosional akibat otak yang terus dipaksa memproses berbagai jenis emosi dalam waktu singkat.

Dampak lain juga terlihat pada pola hidup remaja. Waktu yang terlalu banyak dihabiskan di depan layar membuat aktivitas fisik berkurang, sehingga meningkatkan risiko obesitas maupun gangguan postur tubuh.

Selain itu, banjir informasi yang diterima tanpa proses penyaringan dapat menyebabkan information overload yang memicu stres kognitif. Gangguan tidur akibat penggunaan gawai pada malam hari pun berpengaruh terhadap kemampuan berpikir, konsentrasi, dan akhirnya prestasi akademik siswa.

Meski demikian, media sosial tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Ada pula seorang siswa yang mampu mengembangkan kemampuan menggambar digital melalui komunitas di media sosial. Sebaliknya, terdapat pula contoh siswa yang mengalami penurunan prestasi belajar akibat terlalu lama menghabiskan waktu untuk scrolling TikTok hingga larut malam.

Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa manfaat atau dampak media sosial sangat bergantung pada cara pengguna mengelolanya. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, pemerintah telah meluncurkan sejumlah program. Kementerian Kesehatan menjalankan kampanye “Sehat Jiwa” yang berfokus pada edukasi kesehatan mental, pengelolaan stres, dan detoks digital bagi masyarakat, khususnya remaja.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengembangkan Gerakan Nasional Literasi Digital yang bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali konten clickbait, mengatur durasi penggunaan media sosial, serta menggunakan teknologi secara lebih produktif.

Di lingkungan pendidikan, Kemendikbudristek juga mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih bijaksana. Melalui Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026, pemerintah mengatur penggunaan gawai di sekolah hanya untuk kepentingan pembelajaran, melarang siswa SD dan SMP membawa gawai tanpa izin khusus, serta mendorong penerapan zona bebas gawai untuk meningkatkan interaksi sosial antarsiswa.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan minim distraksi digital.  

Terkait hal ini, ada beberapa solusi yang dapat diterapkan oleh keluarga maupun sekolah. Di antaranya adalah melakukan detoks digital dengan membatasi penggunaan media sosial selama satu hingga dua jam per hari. Bisa pula dengan menerapkan metode belajar agar kemampuan fokus meningkat.

Selain itu juga diperlukan upaya memperkuat literasi digital supaya remaja lebih kritis terhadap konten di media sosial. Dan yang lebih penting, meningkatkan peran orang tua dan guru dalam mengawasi penggunaan teknologi dan mendorong aktivitas fisik maupun interaksi sosial secara langsung.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Tantangan yang dihadapi bukanlah menghilangkan media sosial dari kehidupan remaja, melainkan membangun kemampuan untuk menggunakannya secara bijaksana.

Kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci agar teknologi tetap menjadi sarana belajar dan pengembangan diri. Tentunya tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas kehidupan generasi muda Indonesia. (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Uang Tunai Rp 2 Miliar dalam Plastik Mickey Mouse Disita dari Rumah Bos Sritex

Nongkrong Sambil Pegang Ular, Dua Pemuda Bogor Berakhir Tragis Malam

Alasan Mengapa Pemilu Dipisah Antara Nasional Dan Lokal

Di Ponpes Mujahidin, Bupati Temanggung dan Ratusan Lansia Ikhtiar Menjaga Tradisi Suluk Suro

Kurator Sritex Protes 72 Mobil Disita Kejagung

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Geothermal Belum Jalan, Warga Lawu Sudah Rasakan Dampak Lingkungan: Banjir Jadi Alarm
Next Article CUCI KAKI IBU - Terpidana anak membasuh kaki ibu pada peringatan Hari Anak Nasional 2026. Hari Anak Nasional, 34 Anak Binaan di Jateng Dapat ‘Diskon’ Masa Pidana

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Jateng Guyub Desak Tambang Bermasalah Ditutup dan Kriminalisasi Warga Dihentikan

Berkas Masuk Pengadilan, Kasus Korupsi Bupati-Sekda Cilacap Siap Disidang

Cara SDN Tandang 03 Semarang Rayakan Hari Anak Bikin Siswa Lupa Gadget

Pattiro Laporkan Komisi Informasi Jateng yang Telat Tangani Sengketa Informasi

Alasan Ortu Pilih SD Swasta Meski Harus Bayar Puluhan Juta

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Lima Kebiasaan Olahraga yang Diam-Diam Bikin Ginjal Kewalahan

November 14, 2025
Unik

Google Gemini Nano Banana, Edit Foto Jadi Animasi Sekejap

September 3, 2025
Viral

Ada yang Beda! Pulang Haji Jemaah Sulawesi Selatan Pakainnya Warna Warni Banget

Juni 7, 2026
Unik

Hati-Hati! Tanggal 20 Mei Ojek Online Diprediksi Lumpuh Total, dan Sulit Dicari, Ini Alasannya

Mei 15, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Saat Media Sosial Menggerus Fokus dan Kesehatan Mental Remaja
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?