Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Mengenal Kampung Mati di Banjarnegara yang Masih Bernapas
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Mengenal Kampung Mati di Banjarnegara yang Masih Bernapas

Suara gemuruh tanah yang bergeser jadi hal menakutkan waktu itu. Warga merasa tak aman, apalagi setelah beberapa rumah mulai amblas perlahan. Kini, hanya suara angin dan kambing yang terdengar di sela reruntuhan bangunan.

Nugroho P.
Last updated: Oktober 15, 2025 8:33 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
Kampung yang dulu ramai kini sepi, ada di Madukara Banjarnegara.
SHARE

DUSUN  Praguman di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, tengah jadi bahan obrolan di media sosial. Banyak yang menyebutnya sebagai Kampung Mati — tempat yang dulu ramai, kini sepi, ditinggal warganya karena tanah terus bergerak tanpa henti.

Contents
Zona Merah yang DitinggalkanTanah yang Tak Pernah Benar-Benar DiamSaksi Sunyi di Tengah SepiKampung Mati yang Masih Hidup di Ingatan

Dari kejauhan, dusun ini tampak seperti potret kehidupan yang berhenti di tengah jalan. Rumah-rumah berdiri miring, sebagian retak dan sebagian lain sudah roboh. Rumput liar tumbuh lebat di halaman yang dulu penuh suara anak-anak bermain.

Kampung ini dulunya punya dua RT dengan lebih dari 50 kepala keluarga. Tapi sejak bencana tanah gerak besar pada 2007, satu per satu warga memilih pindah ke tempat relokasi yang disediakan pemerintah desa.

Suara gemuruh tanah yang bergeser jadi hal menakutkan waktu itu. Warga merasa tak aman, apalagi setelah beberapa rumah mulai amblas perlahan. Kini, hanya suara angin dan kambing yang terdengar di sela reruntuhan bangunan.

Zona Merah yang Ditinggalkan

Kepala Desa Clapar, Somad, menjelaskan bahwa Praguman masuk zona merah rawan longsor. Karena itu, pemerintah desa bersama Pemkab Banjarnegara memutuskan relokasi massal sejak 2007.
“Jadi karena masuk zona merah rawan bencana, warga direlokasi ke tempat lebih aman. Tapi ada satu-dua yang tetap bertahan,” katanya.

Proses relokasi waktu itu dilakukan dengan pertimbangan keamanan. Wilayah baru berada tak jauh dari kantor desa agar akses warga tetap mudah. Di sana berdiri rumah-rumah baru yang kini menjadi pusat kehidupan warga Clapar.

Sementara di Praguman, banyak rumah yang akhirnya tak terurus. Beberapa dijadikan kandang kambing, sebagian lainnya dibiarkan runtuh dan ditumbuhi pohon salak. Dari 15 rumah yang masih berdiri, hanya segelintir yang masih berpenghuni.

Tanah yang Tak Pernah Benar-Benar Diam

Mutmainah, warga yang sesekali datang ke rumah lamanya, mengaku suara tanah bergerak masih sering terdengar.
“Kalau malam suka dengar suara gemuruh pelan, kaya tanah pecah. Ngeri juga, tapi udah biasa,” tuturnya.

Ia sendiri kini tinggal di tempat relokasi, tapi sesekali kembali untuk mengurus kebun salak yang masih tumbuh subur di tanah lama. “Kalau siang suka ke sini. Masih banyak warga yang ke kebun juga,” ujarnya.

Pergerakan tanah memang jadi masalah utama di wilayah ini. Tanah yang terus bergeser membuat bangunan tak stabil, dinding mudah retak, dan akses jalan pun bergelombang. Karena itu, banyak warga memilih tidak kembali.

Saksi Sunyi di Tengah Sepi

Meski dijuluki Kampung Mati, Praguman tidak sepenuhnya mati. Masih ada kehidupan kecil di sana — kambing yang mengembik, pohon salak yang tumbuh, dan seorang nenek yang menolak pergi.

Nenek Syamroni, satu dari sedikit warga yang tetap bertahan, tinggal di rumah lamanya bersama empat ekor kambing. Ia menolak pindah meski sudah berkali-kali dibujuk anaknya.
“Saya sudah sering bujuk, tapi ibu nggak mau. Katanya udah nyaman di sini,” kata Ginem, anak sulungnya.

Syamroni diketahui mengalami gangguan kejiwaan sejak anak bungsunya merantau ke Malaysia dan belum pernah kembali. Namun bagi nenek itu, rumah di Praguman bukan sekadar tempat tinggal — melainkan bagian dari dirinya sendiri.

“Sekarang cuma dua rumah yang masih ditempati. Satu ibu saya, satu lagi ada tiga orang yang tinggal,” jelas Ginem lagi.

Kampung Mati yang Masih Hidup di Ingatan

Kini, Dusun Praguman jadi lokasi yang menarik perhatian banyak orang. Banyak yang datang sekadar ingin melihat langsung “kampung mati” yang viral di media sosial lewat unggahan akun TikTok @bomal_vlog.

Di video tersebut, tampak jalanan sepi, rumah-rumah tua, dan sisa-sisa kehidupan yang tertinggal. Namun di balik kesunyian itu, ada cerita keteguhan, kehilangan, dan cinta terhadap tanah sendiri.

Bagi warga yang sudah pindah, Praguman tetap punya tempat di hati mereka. Kampung itu mungkin tak lagi layak huni, tapi kenangan tentangnya masih terasa hidup.

Malam di sana tetap sunyi, tapi tak sepenuhnya mati. Masih ada cahaya dari lampu minyak di rumah Syamroni, tanda bahwa kehidupan belum sepenuhnya pergi dari Kampung Mati di Banjarnegara. (*)

You Might Also Like

Polda Jateng Amankan 730 Pelaku Kejahatan

Longsor Pandanarum Bikin Warga Kocar-Kacir, Ladang Ikut Ambyar, Segini Kerugiannya

Sekali Jalan, Kulon Progo Sajikan Tiga Sensasi, Darat, Air dan Udara Sekaligus

Menyoal Fasilitas Super Mewah KPU pada Pemilu 2024, Rute Jet Pribadi Disorot

Ayu Aulia Masuk Tim Negara, Jejak Lamanya Disorot

TAGGED:banjarnegarakampung matilongsortanah bergerak
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Launching buku memperingati 100 hari wafatnya Mbah Dukuh. 100 Hari Wafatnya Mbah Dukuh: Merayakan Gagasan & Cinta KH M Imam Aziz
Next Article Cilacap Nandur Harapan di Tepi Laut, Wow Ini Caranya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sidat Citanduy Jadi Jalan Baru Warga Sidamukti

Kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Rektor Unsoed Kena OTT, Siapa Tanda Tangan Ijazah?

OMAH KEBOEN--Pengelola sedang memupuk tanaman di Omah Keboen di Jalan Wonodri Sendang Raya, Kota Semarang. (ist)

Hikayat Omah Keboen: dari Bank Sampah Jadi Pertanian Terpadu di Tengah Kota Semarang

PESAWAT CITILINK‐-Pesawat Citilink terparkir di apron Bandara Ahmad Yani Semarang. (ist)

Citilink Tambah Penerbangan Semarang-Jakarta, Pilihan Jam Makin Banyak

PEMERAN UMKM--UMKM mengikuti pemeran produk pada ajang WARASVERSE 2026 di The Park Mall Semarang, 21–23 Agustus 2026. (ist)

Jelang MTQ Nasional di Semarang, Agustina Siapkan UMKM Bersertifikat Halal

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ledakan pemusnahan amunisi kedaluwarsa milik TNI di Garut.
Unik

Pemusnahan Amunisi Kadaluarsa Jangan Lagi Memakan Korban Jiwa

Mei 14, 2025
Unik

Asap Sate di Malioboro Bikin Gerah dan Dikeluhkan, Petugas Langsung Tertibkan!!

Desember 31, 2025
Info

Sungai Sapi Keruh, Satpol PP Mulai Bergerak

Agustus 4, 2026
Plesir

Rumah Panggung Tetap Dijaga, Kampung Tajur Makin Pikat Wisatawan

Juli 8, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Mengenal Kampung Mati di Banjarnegara yang Masih Bernapas
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?