Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa

Redaktur Opini
Last updated: Mei 13, 2026 8:51 am
By Redaktur Opini
9 Min Read
Share
SHARE

Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).

Kaum “wong cilik” digambarkan hidup dalam keterbatasan dan penuh kerja keras. Mereka harus bekerja dari pagi hingga sore, bahkan sampai “nibo nangi” sebagai representasi kerja tanpa jeda demi kebutuhan hidup.

 

Lagu-lagu Jawa kontemporer selain berfungsi sebagai hiburan, dapat dibaca sebagai representasi sosial yang merekam realitas kehidupan masyarakat kelas bawah. Dalam perspektif Geertz (1960), budaya Jawa dapat dipahami sebagai sistem makna yang membentuk cara manusia menafsirkan kehidupan sehari-hari, termasuk kerja, kemiskinan, dan spiritualitas.

Di beberapa lirik lagu Jawa, tema kerja, kemiskinan, dan spiritualitas hadir saling terkait sebagai cara masyarakat memaknai hidup yang penuh keterbatasan. Beberapa lagu yang menggambarkan topik-topik tersebut ialah “Anak Lanang”, “Jalur Langit”, dan “Ilmu Padi”.

Ketiganya menceritakan kehidupan kelas pekerja Jawa yang dibentuk oleh tuntutan ekonomi, relasi sosial yang tidak setara, serta keyakinan religius yang menjadi ruang pengharapan. Dari ketiga lagu tersebut tampak bahwa manusia Jawa selain sebagai “manusia kerja” juga “manusia doa” yang menggantungkan hidup pada usaha sekaligus restu Illahi.

Dalam lagu “Anak Lanang” yang liriknya ditulis oleh Ndarboy Genk dan Hendra Kumbara, digambarkan kehidupan sebagian masyarakat Jawa yang hidup di garis kemiskinan. Kemiskinan itu lahir dari keterbatasan akses ekonomi. Mereka bekerja sebagai buruh proyek, petani, atau buruh pabrik, dengan penghasilan tidak menentu.

Karena itu, kemiskinan dalam lagu itu tidak tampil sebagai konsep abstrak, melainkan hadir melalui gambaran-gambaran keseharian yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat desa. Kemiskinan itu mula-mula tampak pada penggambaran rumah gedek.

Dalam lirik “biyen omahku gedek”, rumah digambarkan berdinding anyaman bambu. Bambu menjadi material paling murah karena mudah tumbuh di halaman belakang rumah. Dalam masyarakat Jawa desa, rumah gedek biasanya menjadi penanda kelas sosial bawah. Di atasnya ada rumah kayu, rumah jati, rumah gedong yang terbuat dari tembok, hingga rumah besar yang disebut loji.

Penggambaran kemiskinan itu diperkuat melalui lirik “trocoh yen udan bledek”. Kata ‘trocoh’ berarti bocor ketika hujan deras datang hingga air masuk ke rumah. Rumah bukan lagi ruang nyaman untuk berlindung, melainkan ruang rapuh yang selalu kalah menghadapi musim hujan. Kesederhanaan hidup masyarakat kecil digambarkan secara jujur dan tanpa romantisasi.

Kemiskinan dalam lagu itu juga tampak melalui keterbatasan akses pendidikan. Sekolah dipahami sebagai jalan untuk keluar dari kemiskinan, tetapi justru harus berhenti karena keadaan ekonomi. Lirik “biyen pedot sekolah mergo kahanane susah” memperlihatkan bahwa kemiskinan sering memutus masa depan seseorang sejak usia muda. Pendidikan yang semestinya menjadi jembatan menuju kehidupan lebih baik tidak dapat dijangkau oleh semua orang.

Di sisi lain, lagu itu juga menghadirkan etos kerja masyarakat Jawa. Dalam budaya Jawa, anak laki-laki memikul tanggung jawab besar sebagai penerus ayah dalam mencari nafkah keluarga. Ketika ayah tidak lagi mampu bekerja, anak lanang diharapkan menggantikan perannya. Karena itu, laki-laki Jawa dibentuk menjadi sosok yang kuat secara fisik maupun mental.

Etos kerja itu tampak pada lirik “kerjo ku mung turut dalan”. Frasa “turut dalan” dapat dimaknai sebagai bekerja di jalan: berdagang kecil-kecilan, menjadi sopir, kernet, atau pekerjaan informal lain yang mengandalkan tenaga dan ketahanan hidup. Pekerjaan apa pun dijalani selama dapat membantu keluarga bertahan hidup.

Meskipun demikian, lagu “Anak Lanang” ini tidak hanya berbicara tentang kerja keras. Di balik kerja dan tanggung jawab, terdapat spiritualitas yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Jawa. Hal itu tampak pada lirik “kulo nyuwun pangestu” dan “kulo nyuwun donga restu”. Manusia memang wajib bekerja keras, tetapi keberhasilan diyakini tidak hanya ditentukan oleh usaha pribadi. Ada campur tangan Tuhan dan restu orang tua yang dipercaya menentukan kelancaran hidup seseorang.

Dalam pandangan masyarakat Jawa yang religius, doa orang tua memiliki kekuatan moral dan spiritual. Karena itu, penghormatan kepada bapak dan ibu menjadi bagian penting kehidupan. Permohonan restu dalam lagu ini menunjukkan bahwa hubungan manusia Jawa dengan Tuhan sering kali berjalan melalui penghormatan kepada orang tua.

Melalui lagu “Anak Lanang”, Ndarboy Genk menghadirkan potret manusia kecil Jawa: bekerja keras, memikul tanggung jawab keluarga, hidup dalam keterbatasan, tetapi tetap menggantungkan harapan kepada doa dan restu. Mereka adalah manusia kerja sekaligus manusia doa.

Lagu lainnya yang tak kalah menarik ialah “Jalur Langit” yang liriknya ditulis oleh Agungsant. Lagu ini memperlihatkan potret nasib kelas buruh. Hal ini tampak dari diksi “aku balungan cilik”. Kata cilik (kecil) beroposisi dengan gedhe (besar). Yang “besar” merepresentasikan pemodal, pengusaha, atau kelompok mapan seperti pegawai ber-NIP, sedangkan yang “kecil” merujuk pada kelas pekerja atau buruh.

Istilah balungan cilik menggambarkan kondisi buruh yang rapuh secara ekonomi dan sosial. Kehidupan mereka serba tidak pasti karena pekerjaan yang tidak tetap. Banyak di antara mereka adalah buruh kontrak yang sewaktu-waktu kontraknya dapat diputus. Dalam kondisi seperti ini, mereka juga tidak memiliki cadangan tabungan yang memadai untuk menopang hidup.

Bourdieu (1986) menjelaskan, posisi sosial “balungan cilik”  tidak hanya ditentukan oleh modal ekonomi, tetapi juga oleh ketiadaan modal sosial dan simbolik yang membuat kelompok ini berada dalam posisi subordinat dalam struktur masyarakat.

Dalam situasi tersebut, kekuatan utama yang mereka miliki adalah bersandar kepada Tuhan. Yang dapat mereka lakukan adalah sikap nrimo, sabar, tidak banyak mengeluh (ora ngresulo), serta pasrah pada takdir. Hal ini memperlihatkan bagaimana dimensi spiritual menjadi ruang bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi.

Diksi yang sangat menarik muncul dalam ungkapan “nasibku saiki mung dinggo ancik-ancik.” Di sini terlihat kesadaran kelas bahwa kehidupan mereka sering kali hanya menjadi “anak tangga” bagi orang lain untuk meraih derajat yang lebih tinggi. Posisi ini menegaskan bahwa tubuh dan tenaga buruh menjadi penopang bagi mobilitas sosial kelompok lain.

Dalam perspektif ini, buruh dapat dipahami sebagai “manusia kalah”. Mereka tidak memiliki kekuatan modal maupun akses kekuasaan untuk melawan struktur yang menindas. Karena itu, satu-satunya ruang yang tersisa adalah doa, harapan, tangisan, dan kepasrahan total. Jalur langit menjadi metafora bagi jalan spiritual yang mereka tempuh ketika jalur sosial-ekonomi tertutup.

Tak heran jika dalam lagu ini muncul diksi seperti wani ngalah, yang menunjukkan strategi bertahan hidup melalui pengalah-an diri. Hidup dalam keterbatasan tetap dijalani dengan prinsip “sing penting berkah”, meskipun secara material serba kekurangan.

Sementara itu, pada lagu “Ilmu Padi” karya Didik Budi & Sadewok pada bait awal sudah menghadirkan pembacaan relasi sosial antara “kamu” dan “aku”. Hal itu secara implisit dapat dimaknai sebagai orang kaya dan orang kecil. Ungkapan “sugihmu titipane Gusti, pangkatmu ora jamin surgamu” menegaskan bahwa kekayaan dan jabatan bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Tuhan. Sekaligus, keduanya juga tidak memiliki jaminan moral maupun spiritual untuk keselamatan seseorang.

Dalam relasi ini, orang kaya kerap dipahami sebagai pihak yang merasa pencapaian ekonominya berasal dari usaha pribadi, sementara dalam teks lagu tersebut diingatkan bahwa semua itu tetap berada dalam kendali Tuhan. Sebaliknya, kaum “wong cilik” digambarkan hidup dalam keterbatasan dan penuh kerja keras. Mereka harus bekerja dari pagi hingga sore, bahkan sampai “nibo nangi” sebagai representasi kerja tanpa jeda demi kebutuhan hidup.

Dalam kondisi tersebut, modal utama kaum pekerja bukanlah gengsi atau status sosial, melainkan keteguhan untuk bekerja tanpa mengeluh dan kesediaan melepas gengsi. Lagu ini juga menegaskan prinsip bahwa tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras dan tidak ada kekayaan tanpa usaha. Namun, seluruh proses tersebut pada akhirnya tetap dipasrahkan kepada Gusti, yang menjadi sumber makna dan pengharapan. Dengan demikian, spiritualitas dalam lagu ini hadir sebagai sikap tawakal yang menyatu dengan etos kerja, sekaligus menjadi cara kelas pekerja memahami ketimpangan hidup yang mereka alami.

Ketiga lagu tersebut memperlihatkan pola yang saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat kelas bawah Jawa: kerja keras yang tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan, ketimpangan sosial yang membentuk kesadaran kelas, serta spiritualitas yang menjadi ruang utama untuk bertahan hidup. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Andil Orang Dewasa Ketika Ada Seorang Anak Menyakiti Temannya

Pidato Berapi-api di PBB: Momentum Emas atau Janji Manis Prabowo di Panggung Dunia?

Pertemuan Jokowi–Prabowo: Silaturahmi, Gimmick atau Sinyal Politik?

CEO yang Menyamar dan Fantasi Kenaikan Kelas

Satu Tahun Agustina-Iswar: Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Asyik Joget Dangdut, Motor Dibawa Kabur
Next Article Sepuluh Pemprov Kumpul di Semarang, Bahas Sampah sampai Tembok Laut Raksasa

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sepuluh Pemprov Kumpul di Semarang, Bahas Sampah sampai Tembok Laut Raksasa

Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa

Asyik Joget Dangdut, Motor Dibawa Kabur

Sekda Minta Satpol PP Lebih Humanis

Suami di Kebumen Ngamuk: Istri dan Mertua Tewas Dianiaya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Bagaimana Orang Jawa Mengungkapkan Rasa Cinta

Desember 22, 2025
Opini

Perempuan, Cantik Aja Nggak Cukup!

Februari 13, 2026
Opini

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

November 20, 2025
Opini

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Desember 17, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?