Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan

Redaktur Opini
Last updated: April 28, 2026 8:37 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
Ilustrasi pemain ebeg saat kesurupan.
SHARE

Ahmad Rofiul Khoir, mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

“Saat mau kesurupan, ada dorongan dari atas. Waktu coba bertahan, dorongan itu makin kuat — sampai akhirnya nggak sadar, mati rasa, dan nggak ingat apa-apa.”

 

Begitu pengakuan Heri Ardianto (21), pemain Ebeg Banyumasan Paguyuban Karyo Budoyo di Karang Agung, Bulungan, Kalimantan Utara kepada saya.

Buat yang belum familiar, Ebeg adalah kesenian khas Banyumasan. Itu sejenis tarian kuda lumping yang diiringi oleh musik gamelan disertai alunan lagu yang penuh dengan unsur mistis dan spiritual.

Ebeg Banyumasan berkembang di wilayah Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Kebumen, dan Banjarnegara diperkirakan sejak abad ke-16 dan pada tahun 2021, kesenian ini resmi ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Di Kalimantan, Ebeg dibawa oleh masyarakat transmigran yang kemudian dimainkan secara kolaboratif dengan masyarakat lokal Kalimantan. Sejak grup Ebegnya berdiri pada tahun 2014, aturan mainnya jelas. Pemain dewasa harus melalui ritual khusus sebelum tampil. Salah satunya adalah mandi kembang.

Sebelum pertunjukan, ketua grup memimpin doa khusus. Semua pemain duduk melingkar, mendengarkan bacaan yang berfungsi memanggil indang untuk hadir. Dalam kesenian Ebeg, indang adalah roh atau energi spiritual yang merasuki pemain saat pertunjukan. Setiap pemain punya indang berbeda-beda, ada yang indang kethek (monyet), macan (harimau), jaran (kuda), dan lain-lain. Indang inilah yang membuat pemain bisa melakukan atraksi-atraksi ekstrem.

Kesurupan di kesenian Ebeg bukan sembarang kesurupan. Bukan tiba-tiba atau kebetulan. Ini terencana, ada ritualnya, bahkan sudah diplot siapa aja yang bakal kesurupan.

“Pemain-pemain dewasa sudah diplotin dia bakal kesurupan,” ujar Heri. Artinya, sebelum naik panggung, mereka sudah tahu apa yang bakal terjadi. Mereka sudah siap untuk jatuh, untuk kehilangan kontrol, untuk menyerahkan tubuh mereka pada indang yang akan merasuki mereka.

Heri bilang, momen kesurupan itu datangnya tiba-tiba tapi tidak bisa ditolak. “Di saat momen kesurupan yang dirasain semacam ada dorongan dari atas dan gak bisa dielakkan. Seakan-akan pemain dipaksa jatuh,” ujar Heri mengenang pengalamannya. Para pemain bisa merasakan sesuatu yang mulai datang. Semacam tekanan atau energi dari luar tubuh mereka. Beberapa pemain bahkan sempat melawan, mencoba tetap berdiri, tetap sadar, tapi usaha itu sia-sia.

“Karena ada beberapa momentum pemain memaksa tidak jatuh tapi dorongan dari atas semakin kuat,” tambah Heri.  Dorongan itu makin kuat, sampai akhirnya tubuh mereka menyerah, dan saat sudah jatuh semuanya jadi gelap.

“Pas jatuh pemain tidak merasakan apa-apa. Mati rasa,” jelasnya. Mati rasa. Blank. Tidak ingat apa-apa. Itulah yang dirasakan pemain Ebeg saat kesurupan. Mereka melakukan berbagai atraksi ekstrem, seperti menari tidak karuan. Makan barang-barang aneh. Bahkan kadang berperilaku seperti binatang sesuai dengan indang yang merasuki mereka. Tapi saat sadar pemain ebeg tidak mengingat apa-apa.

Proses penyembuhan dari kesurupan dilakukan oleh penimbul atau dukun Ebeg. Dialah yang jadi penjembatan antara pemain dan indang. Penimbul inilah yang mengendalikan jalannya pertunjukan. Dia memberi makan sesaji untuk indang, dan akhirnya mengembalikan pemain ke kesadaran normal.

“Pas sadar dari kesurupan pemain lemes seperti bangun dari pingsan,” kata Heri.

Pemain biasanya merasa sangat lelah, lemas, bahkan kadang bingung soal apa yang baru aja mereka lakukan. Beberapa pemain sampai harus dibantu berdiri atau berjalan karena tenaga mereka habis total. Tapi buat mereka, ini bagian dari seni. Bagian dari tradisi yang harus dijaga.

Di balik kesurupan yang tampak ekstrem itu, ada kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan. Orang-orang seperti Heri rela kehilangan diri sejenak, demi menjaga tradisi di tengah disrupsi kehidupan modern dan derasnya perubahan zaman.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Mengapa Perdebatan di Media Sosial Mudah Berakhir Ejekan

Guru Paruh Waktu, Luka Penuh Waktu

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Grup WA Kelas Bukan Ruang Penghakiman

Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Hotman Paris dan tim mendampingi kliennya, bos Sritex dalam sidang kasus korupsi di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (27/4/2026). (bae) Hotman Bongkar Fakta Mengejutkan: Bos Sritex Disikat setelah Tolak Gabung BUMN Danareksa
Next Article Taksi mobil listrik yang mogok di tengah rel kereta menjadi pemicu tabrakan maut KRL vs Argo Bromo Angrek di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Detik-detik Tabrakan Maut KRL vs Argo Bromo: Dipicu Taksi Listrik Mogok di Tengah Rel Kereta

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Adik Prabowo Peringatkan Dolar Bisa Tembus Rp22.000: Punya Dampak Politik Luar Biasa Negatif

RAIH PRESTASI - Veri Saputra dan Muhamad Raffi Dimas Wahyudi, dua mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang menorehkan prestasi di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026.

Mahasiswa FISIP Untag Semarang Sabet Emas dan Perak Voli Pantai Porprov Jateng 2026

Penjelasan UAH Soal Malaikat dan Setan Bikin Ngakak..

BIDIK KASUS - Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kronologi Dugaan Korupsi Pita Cukai Djarum: Berawal dari OTT DJBC hingga Penggeledahan di Kudus

UAH Jelaskan Ziarah Kubur, Bukan Sekadar Tradisi Jumat

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Digitalisasi Pembayaran: Kemudahan Transaksional dan Ujian Sosial

Juni 15, 2026
OpiniPolitik

Resah Menjelang Agustus

Juli 24, 2026
Opini

Bantulah Usaha Memberi Pendidikan Politik Kritis bagi Masyarakat

Oktober 16, 2026
Opini

Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah

Maret 30, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?