Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Mengapa Kita Bicara Semakin Cepat dan Nyaring?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Mengapa Kita Bicara Semakin Cepat dan Nyaring?

Redaktur Opini
Last updated: Juni 2, 2026 9:18 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Ridho Pratama Satria adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di media sosial terstimulasi pula pada kehidupan nyata. Kita mulai bicara cepat dalam proses komunikasi kita sehari-hari, baik itu secara disadari atau pun tidak.

 

Akhir-akhir ini, ada fenomena unik yang tidak kita sadari sedang terjadi, yaitu orang-orang mulai bicara ‘ngegas’ atau bicara sangat cepat. Fenomena ini terlihat sangat jelas pada konten-konten media sosial, terutama sekali konten-konten video pendek.

Anehnya, fenomena ini tidak hanya terjadi di media sosial, tetapi juga muncul di acara-acara televisi seperti acara talkshow dan acara debat politik. Pembawa acara serta narasumber terdengar bicara ngebut. Mau diakui atau tidak, munculnya fenomena ini secara tidak langsung didorong oleh dampak media sosial.

Media sosial yang berkembang pesat terus menawarkan kita jenis-jenis konten yang baru di setiap harinya. Namun sekarang, konten-konten video singkat menjadi konten yang dominan di seluruh platform media sosial.  Dengan beredarnya jutaan video di algoritma media sosial, maka para konten kreator harus putar otak agar konten-kontennya bisa menarik perhatian pengguna media sosial.

Salah satu cara menarik perhatian di media sosial adalah penggunaan konsep hook atau konsep pancingan. Konsep hook sendiri banyak ragamnya, seperti pengenalan fakta baru hingga penerapan konsep call to action. Namun, hook ini harus disampaikan dalam kurun waktu yang singkat, sekitar 3 – 10 detik di bagian awal video.

Jika hook ini tidak efektif, maka penonton akan melewatkan konten video sang konten kreator. Tanpa penonton, maka sang kreator akan kehilangan jumlah view, engagement, eksposur, hingga potensi monetitasi dari kontennya. Karena itulah, para konten kreator harus berbicara secepat mungkin sejak awal video, agar narasi hook yang mereka bawa tersampaikan secara keseluruhan.

Dengan banyaknya konten video singkat semacam itu, para kreator harus mengutamakan produksi konten-konten yang mengandalkan kualitas visual yang tinggi. Hal ini terjadi karena konten video singkat harus memberikan visual-pleasure atau visual yang memanjakan pandangan penonton.

Sama dengan penjelasan konsep hook di atas, maka konten visual harus memanjakan pandangan sang penonton sejak awal video itu diputar demi mengejar atensi para penonton. Anehnya, penggunaan visual ini juga bergantung kepada kecepatan penyampaian visual ke penonton. Karena itulah, beberapa konten visual mulai menggunakan transisi-transisi visual seba cepat untuk mengimbangi penyampaian narasi yang cepat dari sang kreator.

Di saat yang bersamaan, transisi visual yang cepat memberikan keuntungan lain. Semakin cepat transisi visualnya, maka satu konten video bisa memuat banyak layer (lapisan), seperti layer untuk teks yang estetik, hingga beberapa potongan footage yang beragam. Semakin banyak isi dari konten videonya, maka semakin tinggi pula kualitas dari konten video yang diproduksi.

Kondisi di atas membuat para kreator harus menciptakan keseimbangan di antara narasi dan transisi visual video yang serba cepat. Jika kedua komposisi ini tidak seimbang, maka kontennya terasa ada yang janggal. Seakan-akan kita mengendarai kendaraan dengan roda yang kempes.

Hal semacam itu bisa disebut sebagai dominasi. Konten yang menggunakan narasi dan transisi visual serba cepat ini secara tidak langsung memberitahu para konten kreator, jika tipe konten inilah yang menjadi standar kerangka konten yang harus ditiru. Akhirnya, konten ini akan memenuhi algoritma secara tidak terkendali.

Di saat yang bersamaan, kerangka konten ini mendorong pengguna media sosial untuk terstimulasi tentang konten apa yang harus mereka nikmati di media sosial. Dengan stimulasi inilah, maka kita akan terbiasa dengan konten-konten dengan tempo narasi yang cepat.

Masalahnya, stimulasi ini memberikan dampak yang negatif. Dampak ini bisa kita rasakan sendiri. Contohnya, ketika kita menonton konten dengan narasi tempo lambat, maka kita akan merasa kontennya tidak menarik. Hal ini terjadi karena konten dengan narasi tempo cepat sudah mendominasi algoritma sehingga tipe konten ini menjadi normalitas bahkan menjadi standar. Akhirnya kita memiliki kecenderungan untuk melewatkan konten-konten video dengan narasi tempo yang rendah.

Padahal, konten-konten yang bersifat edukatif seperti konten dokumenter dan podcast, cenderung menggunakan narasi dan transisi video yang rendah. Hal ini memang sengaja dilakukan agar para penonton bisa memahami konten-konten pembelajaran yang ditawarkan secara menyeluruh. Namun, dengan stimulasi yang telah dijelaskan di atas, maka konten-konten edukatif ini akan kesulitan mendapat penonton.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di media sosial terstimulasi pula pada kehidupan nyata. Kita mulai bicara cepat dalam proses komunikasi kita sehari-hari, baik itu secara sadar atau pun tidak sadar. Masalahnya, kita mulai bicara tanpa menghiraukan apakah informasi yang kita berikan sudah tersampaikan dengan sempurna atau tidak. Ujung-ujungnya pembicaraan kita hanya berlalu seperti angin lewat saja.

Oleh karena itu, jangan sampai kita membiarkan diri kita tenggelam di dalam permainan algoritma, sehingga kita tidak menyadari saat dampak-dampak negatifnya sudah muncul di dalam kehidupan.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Sihir Media Sosial dan Otak yang Pelan Tapi Pasti Menjadi Tumpul

Eksistensi Sedekah Bumi di Tengah Hegemoni Budaya Industri

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Ada Kalanya Tak Perlu Menolak Lupa

Menengok Metode Suzuki, Upaya Menjaga Jarak dari Apropriasi Budaya

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article IKA Lemhannas Jateng-LPMK Banyumanik Dekatkan Pancasila dengan Gen Z

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mengapa Kita Bicara Semakin Cepat dan Nyaring?

IKA Lemhannas Jateng-LPMK Banyumanik Dekatkan Pancasila dengan Gen Z

Sate Berujung Maut, Menantu Klaim Dikasih Jampi-Jampi Bukan Racun

Cek, Napas Masih Panjang atau Mulai Pendek? Paru-Paru Punya Jawaban

2 Juni Dompet Mulai Senyum, Gaji Ke-13 Cair Bawa Kabar Lega

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Satu Tahun Agustina-Iswar: Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Februari 22, 2026
Opini

Ketika Manusia Dipandang Sebatas Angka

Maret 4, 2026
Opini

Betapa Dekat dan Akrab Warga Bekasi dengan Banjir

Februari 5, 2026
Opini

Politik Iba ala Jokowi

Februari 2, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Mengapa Kita Bicara Semakin Cepat dan Nyaring?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?