Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah

Redaktur Opini
Last updated: April 8, 2026 10:11 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Akhmad Idris, dosen  sekaligus awardee BPI 2023 program doktoral di Universitas Negeri Malang.

Lebih baik tidak dianggap indah daripada tetap bertahan dengan keindahan dan kecantikan yang dimilikinya, tetapi harus kehilangan kesempatan menikmati sisa umurnya di dunia.

 

Kebanyakan manusia berlomba-lomba untuk mengejar keindahan. Buktinya sebagian besar manusia berkeinginan memiliki rumah seperti istana raja. Mayoritas manusia berharap mendapatkan jodoh yang cantik rupa, pola, dan hartanya. Padahal indah itu bisa saja malah menjadi sebuah musibah.

Maksud dari kata ‘musibah’ adalah ujian, sehingga dianugerahi sebuah keindahan berarti bersiap-siap menghadapi ujian bukan malah bersiap-siap menyambut kesenangan. Hal ini mengingatkan saya tentang analogi yang disampaikan oleh Jalaluddin Rumi dengan sebuah kisah tentang orang bijaksana dan seekor merak di dalam karyanya yang bertajuk Al Matsnawi.

Kisahnya seperti ini. Di suatu pagi yang cerah, seorang lelaki yang terkenal dengan kebijaksanaannya sedang berjalan hendak menuju ke ladangnya. Ketika sampai di ladang, Si Lelaki Bijaksana tersebut kaget dengan kejadian aneh yang ia lihat di depannya. Ia melihat seekor merak sedang merusak bulu-bulu indahnya dengan paruhnya sendiri.

Kejadian itu benar-benar tidak bisa diterima oleh akal Si Lelaki Bijaksana itu. Ia menggumam di dalam hati, “bagaimana bisa merak merusak keindahan yang dimilikinya, sedangkan hewan-hewan lain justru merasa iri dengan keindahan bulu merak”. Ia pun memutuskan meneriaki merak dan menyuruhnya berhenti dari tindakan penrusakan tersebut. Ia berkata kepada merak bahwa tindakan yang dilakukan merak adalah tindakan yang sangat ceroboh, karena menghancurkan sebuah anugerah kecantikan.

Mendengar perkataan dan teguran dari Si Lelaki Bijaksana, Si Merak akhirnya memutuskan untuk menceritakan kepada lelaki itu tentang alasannya merusak bulu-bulu indahnya. Si Merak mengatakan bahwa hal yang membuatnya merusak bulu-bulu indahnya sendiri ialah karena bulu-bulu indahnya adalah sumber bahaya terbesar baginya. Bulu warna-warni yang memanjakan mata siapapun yang memandangnya adalah jurang terdalam bagi pemiliknya yang kurang beruntung.

Keanggunan bulu merak dapat menarik minat para pemburu yang telah dipenuhi oleh rasa rakus. Para pemburu selalu mengejar dan memburu burung-burung yang memiliki keindahan pada bulu-bulunya. Si Merak merasa tak punya kekuatan yang cukup untuk sekadar mengimbangi perlawanan para pemburu, apalagi mengalahkan mereka semua.

Oleh sebab itu, Si Merak memilih untuk membersihkan dirinya dari keindahan bulu warna-warni. Lebih baik tidak dianggap indah daripada tetap bertahan dengan keindahan dan kecantikan yang dimilikinya, tetapi harus kehilangan kesempatan menikmati sisa umurnya di dunia. Akibat dari perbuatannya, tidak ada pemburu yang tertarik untuk mengejar dan memburunya. Selamatlah ia dari bahaya yang mengancamnya setiap waktu.

Selanjutnya Jalaluddin Rumi menyebutkan bahwa keindahan bulu merak adalah analogi dari kepintaran, kedudukan, dan kekayaan duniawi, sedangkan ancaman dari para pemburu adalah analogi dari kelalaian diri terhadap hal yang lebih sejati, yaitu Pemilik Semesta. Maksudnya, manusia seringkali ‘dibutakan’ oleh kejeniusan pikiran yang membuat semua orang mengagung-agungkannya.

Orang dengan kedudukan tinggi menyebabkan orang-orang di sekitar memuliakannya. Kekayaan duniawi membuat seseorang didekati teman-temannya. Sederhananya, kehebatan seseorang terkadang membuatnya kehilangan kesadaran bahwa ia hanyalah sekadar sesuatu makhluk yang diciptakan. Sehingga sehebat apa pun seseorang, yang layak dipuja adalah Pencipta. Jika manusia yang mengaku hebat itu tidak dikehendaki ada oleh Sang Pencipta, bukankah kehebatan yang teramat istimewa itu juga tak akan pernah ada?

Sejarah membuktikan bahwa keindahan-keindahan duniawi, misalnya kepintaran, kedudukan, dan kekayaan, seringkali berujung dengan celaka, sebut saja Qorun, Fir’aun, dan lain-lain. Namun, ada beberapa manusia pilihan lain yang juga berhasil melaksanakan ujian dengan Indeks Prestasi Kumulatif alias cumlaude, seperti Nabi Yusuf. Kemuliaan Nabi Yusuf bahkan dijelaskan di dalam kalam suci dengan perumpamaan Matahari, Bulan, dan Bintang yang bersujud pada Nabi Yusuf.

Pertanyaannya sederhana, apakah kemuliaan itu berujung kegembiraan? Tidak, gegara kemuliaan tersebut Nabi Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri dan dibuang jauh-jauh dari sisi ayahnya, yaitu Nabi Ya’qub. Terbuang dari tanah kelahiran sendiri serta dibenci oleh saudara sendiri apakah ‘layak’ disebut sebagai sebuah kenikmatan?

Selain itu, Nabi Yusuf juga dianugerahi ketampanan level max yang membuat para perempuan Mesir tidak merasakan rasa sakit teriris pisau ketika melihat wajahnya. Irisan pisau itu tak lagi terasa menyakitkan, karena ketampanan adalah obat bagi orang-orang yang dijeruji kesakitan. Masih dengan pertanyaan yang sama, apakah ketampanan itu berujung kesenangan? Tidak. Ketampanan itulah yang membuat Nabi Yusuf ‘terpenjara’.

Pada akhirnya, sekali lagi: indah itu bisa saja menjadi musibah, lalu musibah adalah ujian. Pilihan yang tersedia dalam ujian tersebut adalah kita termasuk yang lulus atau yang hangus?(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?

Menyoal Ucapan “Anak Bukan Investasi”

Menilik Potensi Umbi Porang sebagai Alternatif Pengobatan Diabetes Melitus

Mengapa Kita Sampai Pada Situasi Ini?

Kantin Sekolah, Pasar Baru Ekonomi Halal

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Jateng Gaspol Susun “Uang Sendiri” buat 2027
Next Article Apresiasi Kinerja Gubernur-Wakil Gubernur Jateng, Saleh: On The Track, tapi . . .

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kasus Bullying di Pemalang Disorot, Pemprov: CCTV Jangan Cuma Jadi Pajangan

Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng periode 2003–2013, Dr. Sos. Drs. KH. Muhammad Adnan, M.A., meninggal dunia pada Rabu (7/10/2026) malam di RS Samsoe Hidajat, Semarang. (Dok. Maarif NU Jawa Tengah)

Kiai Adnan, Mantan Ketua PWNU Jateng dan Sosok Akademisi Itu Telah Wafat

Tim PKM FK Unnes Kawal Kesehatan Ternak hingga Daging Kurban di Magelang

Usai Asian Games, Takraw Jateng Bidik Tiga Emas PON 2028

Giant Sea Wall Belum Berdiri, Mangrove Diminta Jadi Pasukan Pertama Jaga Pantura

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Desember 16, 2025
Menteri Purbaya, ya? Mungkinkah dia cuma jadi bayang-bayang Luhut Binsar Panjaitan, ikut-ikutan tanpa suara sendiri? Atau malah jagoannya Luhut yang siap jadi pemain cadangan di panggung besar?. Gambar ilustrasi: Tim Kreatif/dok. 
Opini

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

September 10, 2025
Opini

Semasa Kecil di Sawah

November 25, 2025
Tangkapan layar channel YouTube Ganjar Pranowo.
Opini

Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi

Februari 12, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?