BACAAJA, SEMARANG- Memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni, Forum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kecamatan Banyumanik bersama Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Lemhannas Jateng, Pemerintah Kecamatan Banyumanik, dan Kesbangpol Kota Semarang meluncurkan gerakan baru untuk memperkuat pemahaman nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda.
Kolaborasi ini hadir sebagai respons terhadap perubahan pola pikir pelajar, generasi milenial, dan Generasi Z yang tumbuh di tengah derasnya arus digitalisasi dan banjir informasi global.
Menurut penyelenggara, pembacaan teks Pancasila dalam upacara formal selama ini dinilai belum cukup untuk membangun penghayatan yang mendalam jika tidak dibarengi pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Perbedaan tingkat pemahaman antara generasi pendahulu dengan generasi muda saat ini menjadi salah satu alasan lahirnya program bertajuk “Pemantapan Nilai-Nilai Pancasila Bagi Pelajar dan Remaja”.
Baca juga: Ikal Lemhannas Jateng Siapkan Sekolah Bela Negara
Program tersebut dirancang untuk menggabungkan kreativitas, kecepatan adaptasi, dan kemampuan teknologi informasi yang dimiliki anak muda ke dalam aktivitas positif yang berlandaskan nilai kebangsaan.
Ketua IKA Lemhannas Jawa Tengah, Sri Puryono mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk menjaga agar nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. “Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk merawat nilai-nilai Pancasila agar tetap hidup di dada generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Program tersebut juga bertujuan meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai gotong royong, toleransi, serta musyawarah dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi pelajar dan remaja di Kecamatan Banyumanik maupun Kota Semarang secara umum.
Agenda Utama
Salah satu agenda utama dalam program ini adalah Lomba Video Pendek bertema “Cerita Kita, Nilai Pancasila”. Kompetisi ini menjadi ruang bagi pelajar dan remaja untuk mengekspresikan bagaimana nilai-nilai Pancasila hadir dan diterapkan di lingkungan sekitar mereka.
Peserta yang berasal dari kategori SMP, SMA, hingga Karang Taruna diminta membuat video berdurasi 30 hingga 90 detik dengan pendekatan kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebagai puncak kegiatan, sebanyak 100 peserta terbaik akan diundang mengikuti Diskusi Remaja bertema “Pancasila Bagi Generasi Milenial dan Gen Z”.
Baca juga: Ratusan Dosen Digembleng Jadi Agen Pancasila
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang dialog untuk membedah tantangan sosial, budaya, dan teknologi yang dihadapi generasi muda saat ini. Sri Puryono menegaskan, pendekatan berbasis teknologi digital menjadi salah satu cara agar Pancasila tidak lagi dipandang sebagai hafalan formalitas semata.
“Melalui terobosan berbasis teknologi digital ini, diharapkan Pancasila tidak lagi dipandang sebagai hafalan formalitas belaka, melainkan menjelma menjadi gaya hidup dan pemandu moralitas yang organik bagi generasi muda Kota Semarang dalam menjawab tantangan masa depan,” katanya.
Dulu orang mengenal Pancasila lewat buku pelajaran dan upacara bendera. Sekarang tantangannya berbeda: bagaimana membuat lima sila tetap hidup di tengah notifikasi, algoritma, dan tren yang berganti setiap hari. Sebab jika konten receh bisa viral dalam semalam, rasanya tak ada alasan nilai-nilai Pancasila kalah bersaing untuk masuk ke beranda generasi muda. (tebe)

