Widyanuari Eko Putra, buruh swasta dan periset lepas. Tinggal di Batursari, Demak.
Kekayaan tidak mengubah sifat manusia, ia hanya mempertegas saja. Begitu kata kawan lama saya. Kami satu kelas saat kuliah, dan itu lebih dari satu dekade yang lalu. Pekan lalu kami tidak sengaja bertemu.
Kami mengobrol hampir tiga jam. Di luar hujan deras tetapi obrolan kami jauh lebih deras. Dari pertemuan itu saya menyimpulkan ia tidak banyak berubah sejak kuliah dulu, masih giras dan doyan ngobras (baca: ngobrol apa saja).
Jika dulu ia suka berkawan dosa, misalnya mentraktir kawan-kawannya menenggak congyang sambil santap rica-rica biawak, kini ia lebih dekat ke agama. Ia bilang baru pulang umroh, meski ia mengaku belum piawai salat tepat waktu.
Dan satu hal yang membuat saya merasa ia sudah mulai menua: banyak kutipan bijak melorot dari mulutnya, dan itu bukan hal yang buruk-buruk amat saya kira. Minimal ia tidak jualan kutipan bijak.
Dari ceritanya saya tahu ambisinya sekarang adalah menjadi lebih kaya. Jika kau pernah menonton film The Wolf of Wall Street dengan Leonardo Dicaprio memerankan Jordan Belfort sebagai lakon utamanya, kau akan tahu mengapa seorang lelaki harus kaya.
“Aku pernah tajir maupun fakir. Dan sampai kiamat pun akan tetap memilih jadi orang tajir. Sebab biarpun aku sedang kena masalah, tapi aku menghadapinya sambil naik limusin, pakai jas mahal dan tentu saja jam tangan super mewah,” ucapnya.
Omong-omong tentang Leo, Leonardo maksud saya, ia adalah aktor yang jago berkawan dengan kemiskinan. Sebagai Jack di film Titanic, ia adalah persona sempurna seorang mokondo. Pun demikian saat ia menjelma Bob Ferguson di film One Battle After Another, ia lelaki sosialis kere yang doyan giting.
Tapi bukankah kemiskinan bagi Leo hanya sebatas properti cerita? Kenyataannya, Leo tetaplah seorang bujang kaya yang tahu cara menghambur-hamburkan tumpukan dolar di brangkasnya. Ingat foto paparazi yang viral tempo hari? Di atas kapal pesiar mewah Leo gabut dan bengong sambil bertelanjang dada. Lelaki miskin mana bisa?
Sayangnya kawan saya itu bukan Leo. Ia hanya budak korporat yang selalu berdoa agar istrinya berhenti kerja kantoran, dan memilih jadi istri idaman. “Aku cuma kepingin tiap pulang kerja disambut istri sambil pakai daster kembang-kembang. Syukur-syukur menawari memijit, atau setidaknya bertanya mau teh atau kopi,” ucapnya sembari menatapku dalam-dalam.
Selama ini ia mengaku lebih sering melihat istrinya seperti manekin yang selalu rapi tapi dingin dan kaku. Konon istrinya mau-mau saja asal tiap awal bulan ada segepok duit ia terima sebagai pengganti gajinya di kantor. Membayangkan itu kawan saya geleng-geleng. “Berat, Bos!”
Untuk itu agar khayalannya terpenuhi, ia harus tambah kaya. Katanya, kaya itu baik, sebab lelaki miskin tak ubahnya selembar tisu. Jika tidak untuk mengelap sisa bekas cebok, ia paling-paling jadi lap di meja makan. Atau kalau mau meromantisasi, ia paling bagus jadi penampung air mata wanita.
Dilihat dari sudut pandang apa pun, tidak ada manusia yang mau jadi miskin. Dan saya sendiri pernah dengan kesadaran penuh berdoa kepada Tuhan agar saya bisa menjadi kaya. Sampai hari ini, doa itu masih terucap setiap saya selesai salat Jumat.
Bukan saya tak tahu diri. Permintaan itu sungguh rasional. Saya orang yang gampang berkeringat. Sepuluh menit saja makan di warung pinggir jalan, saya bakal menyerupai permukaan gelas es teh. Keringat merembes ke mana-mana, dan wajah saya jadi mirip orang tolol.
Belum lagi tuntutan hidung saya yang gampang bersin saat terpapar asap rokok merek aneh-aneh. Dari dua hal itu saja artinya saya harus jadi orang kaya. Apa pun yang terjadi, biar dunia kiamat sekalipun, lelaki harus berjuang mati-matian agar bisa jadi kaya.
Seandainya George Orwell masih sehat walafiat, saya akan memintanya menulis novel dengan tokoh orang-orang kaya. Terkadang ia terlalu menghayati karakter orang miskin. Saya masih ingat betapa mengenaskan tokoh Charles di novelnya Down and Out in London and Paris. Ia terpaksa menjual sekoper baju yang ia miliki demi bisa nyemil sekerat roti. Tinggal di kamar sewaan, dan hidupnya luntang-lantung.
Kemiskinan begitu menyedihkan, tetapi herannya orang-orang suka sekali menceritakannya. Ada seeorang politisi yang gemar sekali memamerkan masa kecilnya yang susah. Orangtuanya melengkapi kesialan itu dengan jadi buta huruf sampai ke liang kuburan.
Kisah itu ia ceritakan sekarang, ketika jabatan sebagai wakil rakyat sudah ia genggam. Barangkali ia tidak sadar kalau sekarang sudah jadi politisi, dan banyak orang tahu bahwa kemiskinan itu sebenarnya dirawat dan dipelihara oleh mereka sendiri sebagai lahan subur sebelum pemilu kelak.
Barangkali bagi seorang lelaki miskin, Dea Anugerah adalah penulis paling bajingan yang pernah ada. Bagaimana mungkin ada orang menulis “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya”. Memangnya indah mengisap rokok murahan beraroma klaras? Apa pula indahnya terjaga dini hari gara-gara bunyi tit tit tit dari token listrik?
Mungkin miskin memang seburuk-buruknya nasib. Tapi seburuk-buruknya kemiskinan, konon kekayaan bukanlah segalanya. Dari seorang Jim Carrey, aktor yang dulu saya kenal lewat perannya sebagai Ace Ventura, saya menemukan nasihat, “Saya kira semua orang harus menjadi kaya, sampai mereka sadar bahwa di sana tidak ada apa-apa.”
Em… memangnya kau percaya?
November, 2025
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

