Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Perempuan Itu Jatuh Berkali-Kali Tetapi Tetap Bangkit dan Terus Bertahan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Perempuan Itu Jatuh Berkali-Kali Tetapi Tetap Bangkit dan Terus Bertahan

Redaktur Opini
Last updated: November 17, 2025 8:45 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Ana Fitri Aulia, mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Diponegoro.

 

Tidak semua perempuan bebas menentukan arah hidup sendiri, sekaligus memiliki banyak pilihan dalam hidupnya. Kebebasan ibarat sebuah kemewahan yang langka.

Seringkali, perempuan selalu ditempatkan dalam skenario-skenario sempit lagi sulit, dibatasi oleh stigma dari kalangan patriarki, serta ekspektasi publik yang kadang tak adil. Dan di balik itu semua, dunia seakan tak memberinya ruang untuk sekadar meluapkan keluhan.

Sialnya realitas tersebut dialami oleh banyak perempuan di Indonesia yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Film Pangku karya pertama penyutradaraan Reza Rahardian mengulas dengan tajam dilema moral dan tuntutan ekonomi yang dihadapi perempuan, terutama dari kelompok marjinal.

Film ini memperlihatkan bagaimana para perempuan bertahan di tengah kerasnya realitas hidup yang seringkali tidak memberi opsi selain bertahan. Film Pangku hadir untuk memartabatkan perempuan dan memartabatkan mereka yang selama ini hidup di pinggiran.

Tokoh utamanya bernama Sartika, dan ia representasi atas kompleksitas dinamika kehidupan yang dihadapi oleh banyak perempuan. Ia seorang ibu tunggal yang berjuang keras untuk memperbaiki nasib, demi dirinya dan anaknya tercinta.

Sartika terus melangkah, meski tak tahu ke mana langkah akan membawanya. Sartika tetap bekerja keras, meski seringkali terasa berat dan bertentangan dengan hati nuraninya.

Sartika sempat berharap pada cinta. Namun, cinta yang sempat menjadi pengharapannya itu ternyata justru membuatnya terluka. Tetapi Sartika tak berhenti di sana. Ia kembali bangkit dan menata hidupnya.

Sartika menjadi cermin perjalanan banyak perempuan: berjuang dengan segala keterbatasan, beradaptasi dengan keadaan, menggadaikan nurani, dipatahkan oleh cinta, lalu kembali berjuang di atas kakinya sendiri.

Film Pangku juga menguji ulang maskulinitas. Ia menggambarkan para laki-laki patriarki yang rapuh dan hanya menjadikan seks sebagai pelarian, dengan dompet pas-pasan yang terbagi antara biaya kopi dan rokok ketengan.

Dalam pandangan saya film ini menggambarkan para laki-laki patriarki yang tak sadar diri tengah menginginkan pengakuan, tetapi tak memiliki sumber daya yang pantas. Para laki-laki patriarki yang akhirnya clueless, dikaluti kebingungan yang mereka ciptakan sendiri.

Menariknya, meskipun menghadirkan sisi seksualitas, film ini menampilkannya dengan penuh kehati-hatian dan tetap menghormati karakter-karakter perempuan dalam film. Lensa kamera betul-betul sangat berhati-hati dalam menampilkan unsur seksualitas tanpa mengeksploitasi tubuh mereka, melainkan menyoroti luka dan sisi kemanusiaan perempuan.

Film Pangku tidak ditampilkan dengan menggebu-gebu. Penderitaan dan kesedihan tidak dipoles dengan romantisasi yang berlebihan. Semua ditampilkan apa adanya. Tidak terlalu berlebihan jika saya menganggap film Pangku ibarat cermin atas kenyataan di Indonesia.

Menonton Pangku dari sisi isu kemiskinan, film ini menyindir keadaan ekonomi di Indonesia yang masih jauh dari kata layak. Ekonomi yang semakin mencekik, akses pendidikan yang terbatas, dan pekerjaan yang sulit didapat. Semua itu membuat banyak orang terpaksa merantau demi bertahan hidup. Namun, dengan segala kesulitan tersebut, kehidupan sosial masyarakat tetap berjalan. Mereka saling menopang dan “memangku” satu sama lain.

Film Pangku juga mengingatkan kita tentang makna kesuksesan. Bahwa ternyata, kesuksesan tak selalu tentang pencapaian dan materi yang menjulang. Sebab bagi sebagian orang, bisa bertahan hidup saja sudah menjadi sebuah pencapaian yang layak diapresiasi. Maka dari Sartika kita belajar, meski terjerembab berkali-kali, ia selalu menemukan cara untuk berkemas dan melanjutkan kehidupan.

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

“Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Calon Investor PSIS Menguap Lagi
Next Article Ketua DPR RI Puan Maharani. Muhammadiyah Rayain Milad ke-113, Puan: Terus Berkhidmat Layani Umat

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SINDIR PEMERINTAH--Warga Kandri saat upacata HUT RI cosplay mengkritik ucapan Prabowo soal pengupas bawang. (bae)

Warga Kandri Cosplay Jadi Juragan Bawang saat HUT RI, Sindir Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu

BANGUNAN ROBOH - Sebuah bangunan di NTT roboh setelah diguncang gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).

Update Gempa NTT: BNPB Nyatakan Korban Tewas Bertambah Jadi 68 Jiwa

UPACARA UNIK--Emak-emak Kampung Gang Presiden, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, mengenakan kostum daur ulang sampah plastik saat menggelar upacara bendera HUT Kemerderkaan ke-81 Republik Indonesia (RI), Senin (17/8/2026). (ist)

Bukan Upacara Biasa! Emak-emak Gang Presiden Puntan Pakai Kostum Daur Ulang Sampah

Bidan Ngada Berjuang Terangi Persalinan Pakai HP

Kenapa Perempuan Lebih Rentan Cedera ACL?

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Pada Sebuah Cakram Padat Leonard Cohen

Desember 5, 2025
Opini

Mengapa Kita Bicara Semakin Cepat dan Nyaring?

Juni 2, 2026
Opini

Beban Ganda yang Harus Ditanggung Masyarakat Kecil

Juni 18, 2026
Opini

Banjir Pesisir dan Dinding Raksasa yang Belum Menjawab

Oktober 25, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Perempuan Itu Jatuh Berkali-Kali Tetapi Tetap Bangkit dan Terus Bertahan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?