Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Josepha Mau Dijadikan Duta, Drama LCC Belum Sepenuhnya Adem Lagi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Josepha Mau Dijadikan Duta, Drama LCC Belum Sepenuhnya Adem Lagi

Abcandra mengatakan pihak Kesekjenan MPR nantinya akan menyampaikan lebih lanjut soal kemungkinan Josepha menjadi duta LCC. Langkah itu dianggap sebagai bentuk perhatian terhadap peserta yang menjadi pusat sorotan setelah kontroversi penilaian di babak final tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Nugroho P.
Last updated: Mei 19, 2026 11:09 am
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
Josepha Alexandra
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Nama Josepha Alexandra masih terus jadi bahan obrolan setelah polemik Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat beberapa waktu lalu bikin media sosial ramai. Kini, di tengah panasnya perdebatan soal penilaian juri, muncul rencana baru dari Majelis Permusyawaratan Rakyat yang ingin menjadikan Josepha sebagai Duta LCC MPR RI.

Rencana itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman di kompleks parlemen, Jakarta, Senin 18 Mei 2026. Menurutnya, usulan tersebut muncul dari aspirasi banyak pihak yang mengikuti perkembangan polemik lomba cerdas cermat yang sempat viral beberapa hari terakhir.

Abcandra mengatakan pihak Kesekjenan MPR nantinya akan menyampaikan lebih lanjut soal kemungkinan Josepha menjadi duta LCC. Langkah itu dianggap sebagai bentuk perhatian terhadap peserta yang menjadi pusat sorotan setelah kontroversi penilaian di babak final tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Kasus ini sebelumnya ramai setelah Josepha menyampaikan keberatan terhadap keputusan juri saat final lomba berlangsung di Pontianak. Dalam momen yang kemudian viral di media sosial itu, Josepha dianggap salah ketika menjawab pertanyaan tertentu dan timnya mendapat pengurangan nilai minus 10 poin.

Yang membuat publik ikut geram, jawaban serupa kemudian diberikan peserta dari tim lain dan justru dinyatakan benar oleh dewan juri. Perbedaan keputusan itulah yang akhirnya memicu gelombang kritik dari warganet dan membuat potongan video lomba menyebar luas di berbagai platform media sosial.

Final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar kala itu mempertemukan tiga sekolah, yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau. Namun alih-alih jadi ajang adu wawasan yang seru, suasana lomba justru berubah tegang setelah keputusan penilaian dianggap tidak konsisten.

Respons juri dalam lomba tersebut juga ikut jadi sorotan. Nama Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita W.B. dan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI Indri Wahyuni ramai dibahas netizen setelah cuplikan video penilaian tersebar luas.

Di tengah ramainya kritik, MPR RI akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Abcandra mengaku pihaknya memahami kegaduhan yang muncul dan berharap masyarakat tetap mendukung pelaksanaan LCC MPR RI ke depan meski polemik sempat bikin citra lomba jadi sorotan nasional.

MPR juga membuka kemungkinan perubahan dalam sistem penjurian ke depan. Salah satu yang disampaikan adalah rencana menghadirkan juri yang dianggap lebih kompeten dan sesuai harapan masyarakat, termasuk melibatkan akademisi atau pakar tata negara agar keputusan lomba tidak lagi menimbulkan polemik.

“Saya pikir kami akan mengundang juri yang sesuai aspirasi masyarakat Indonesia ataupun yang kompeten dari universitas atau pakar tata negara,” kata Abcandra. Pernyataan itu langsung dianggap sebagai sinyal bahwa MPR sedang mencoba memperbaiki sistem pelaksanaan lomba setelah kritik besar dari publik.

Sebelumnya, MPR RI sempat memunculkan wacana menggelar ulang final LCC Kalbar sebagai jalan tengah setelah polemik penilaian. Namun rencana tersebut akhirnya batal dilakukan karena dua sekolah yang menjadi sorotan utama justru menolak perlombaan ulang.

Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abraham Liyanto mengatakan SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas sepakat tidak perlu ada pertandingan ulang. Menurutnya, keputusan itu juga sudah dibahas bersama seluruh pimpinan MPR RI.

MPR disebut telah bertemu langsung dengan perwakilan kedua sekolah pada pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, masing-masing pihak menyampaikan pandangan mereka terkait polemik yang terjadi dan akhirnya memilih tidak melanjutkan opsi lomba ulang.

Keputusan membatalkan final ulang ternyata juga memunculkan respons beragam. Ada yang merasa langkah itu tepat supaya polemik tidak semakin panjang, tetapi ada pula yang menilai pertandingan ulang seharusnya tetap dilakukan demi menjaga rasa keadilan bagi seluruh peserta.

Sementara itu, sosok Josepha sendiri kini justru mendapat perhatian luas dari publik. Banyak warganet memuji keberaniannya menyampaikan keberatan langsung di depan forum lomba. Tidak sedikit yang menilai ketenangan dan cara bicara Josepha saat protes menjadi alasan mengapa dirinya mendapat banyak dukungan.

Di media sosial, nama Josepha bahkan sempat trending dan dibanjiri komentar dukungan dari berbagai daerah. Banyak pengguna internet menyebut siswi SMAN 1 Pontianak itu sebagai representasi pelajar yang berani menyuarakan pendapat ketika merasa ada ketidakadilan.

Rencana menjadikan Josepha sebagai Duta LCC pun akhirnya dianggap sebagai langkah simbolis dari MPR untuk meredakan polemik sekaligus memperbaiki hubungan dengan publik. Meski begitu, sebagian orang tetap berharap pembenahan bukan hanya soal simbol atau figur semata, tetapi juga menyentuh sistem penilaian dan mekanisme lomba secara menyeluruh.

Kini perhatian publik tertuju pada langkah lanjutan MPR RI. Apakah evaluasi besar benar-benar dilakukan atau polemik ini hanya berhenti sebagai drama viral sesaat. Yang jelas, nama Josepha Alexandra sudah telanjur melekat dalam cerita panjang lomba cerdas cermat yang mendadak jadi pembahasan nasional. (*)

You Might Also Like

Tak Punya KTP Semarang? Kini Tetap Bisa Daftar Sekolah dari Awal

Tim Ekspedisi Patriot IPB Gelar FGD Bahas Pengembangan Sagu di Kawasan Transmigrasi Salor

Unwahas Buka Prodi Teknik Pertambangan Pertama di Jateng, Siap Cetak Bos Tambang!

Semarang Dukung PAUD Emas, Siapkan Bocil Jadi Generasi 2045

Tangis Ristia Pecah di Ruang Fraksi: Anak Saya Berangkat Sekolah, Pulangnya Penuh Memar

TAGGED:duta LCCJosepha AlexandralccLCC PontianakMPR
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ditolak Balikan Lagi, Suami di Temanggung Bacok Istrinya
Next Article Muhadjir Effendi Diperiksa KPK

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Satu Kasus Terbuka, Deretan Dugaan Lain Taufik Ikut Bermunculan

ilustrasi organ ginjal

Badan Gampang Loyo Terus, Bisa Jadi Ginjal Lagi Kasih Sinyal

Heboh Air Disebut Berkah, Ternyata Sumbernya Pipa PDAM Yang Bocor

KEKECEWAAN - Sejumlah awak media menaruh id card dan peralatan liputan di lantai sebagai bentuk protes dan kekecewaan setelah dilarang meliput Menkeu Purbaya di Muladi Dome Undip, Jumat (3/7/2026). (dul)

Apa yang Ditakutkan? Heboh, Wartawan Dilarang Meliput dan Wawancara Menkeu di Undip

Ilustrasi krisis air bersih saat kekeringan melanda. Peneliti menyebut, kekeringan bukan karena kemarau semata, melainkan karena rusaknya lingkungan oleh ulah manusia.

Kerusakan Lingkungan di Balik Ancaman Krisis Air, Peneliri: Bukan Lagi Sekadar soal Kemarau

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Wamendiktisaintek: Mahasiswa Jangan Cuma Jadi Penonton, Ikut Nyemplung di Riset Dosen!

Agustus 18, 2025
Pendidikan

Data KK Diduga Dimanipulasi, Bansos Lansia Ikut Terhenti, Bengkulu Geger

Juni 21, 2026
Tim Sar Sidoarjo sedang mengevakuasi reruntuhan bangunan Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo Jawa Timur yang ambruk. dari 42 ribu pesantren se_indonesia, hanya 51 pesantren yang bangunannya memiliki ijin atau legal. Foto: dok/PemkabSidoarjo
Pendidikan

42 Ribu Pesantren, Cuma 51 yang Legal. Serius Nih?

Oktober 8, 2025
Pendidikan

Puan Buka Suara Soal Kasus FH UI: “No Excuse!”

April 17, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Josepha Mau Dijadikan Duta, Drama LCC Belum Sepenuhnya Adem Lagi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?