BACAAJA, SEMARANG – Jumlah korban tewas korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan update korban gempa NTT.
Pemerintah terus mengintensifkan penanganan pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Senin (17/8/2026), jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 68 jiwa, sementara ratusan warga lainnya mengalami luka-luka.
Perkembangan terbaru tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton S.P. Panjaitan, dalam siaran langsung melalui kanal YouTube BNPB Indonesia.
Bacaaja: Ada 37 Gempa Susulan Guncang NTT, BNPB: Dua Korban Jiwa di Sikka
Bacaaja: Pimpin Upacara HUT RI di Sekolah Partai, Megawati Perintahkan Kader PDIP Bantu Korban Gempa NTT
Berton menyampaikan bahwa pemerintah turut berduka cita atas jatuhnya korban dalam bencana tersebut. Ia menegaskan seluruh unsur pemerintah terus bekerja untuk mempercepat penanganan dan pemulihan di wilayah terdampak.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban dan seluruh warga yang terdampak akibat bencana gempa bumi di NTT ini,” ujarnya. Senin (17/8/2026).
Berdasarkan data sementara yang dihimpun BNPB, sebanyak 68 warga meninggal dunia tersebar di sejumlah kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban terbanyak, yakni 26 jiwa, disusul Manggarai Timur 24 jiwa, Nagekeo 8 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 2 jiwa, dan Ngada 2 jiwa.
Selain korban meninggal, tercatat sebanyak 213 warga mengalami luka-luka. Pemerintah masih terus melakukan pendataan di lapangan sembari memastikan tidak ada lagi warga yang belum terjangkau bantuan.
Di tengah upaya penanganan, aktivitas kegempaan juga masih berlangsung. BNPB mencatat telah terjadi 1.576 kali gempa susulan sejak gempa utama terjadi. Sebagian besar merupakan gempa berkekuatan kecil, namun beberapa di antaranya masih dirasakan masyarakat.
Meski demikian, kabar baik datang dari proses pencarian korban. Hingga 17 Agustus 2026, BNPB menyebut sudah tidak ada lagi laporan warga hilang di tujuh kabupaten terdampak. Kendati demikian, tim gabungan Basarnas tetap disiagakan untuk melakukan penyisiran dan pencarian di sejumlah titik yang dinilai masih berpotensi membutuhkan bantuan.
Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan dua unit rumah sakit lapangan yang ditempatkan di Kabupaten Manggarai dan Nagekeo. Fasilitas tersebut diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan bagi korban, terutama karena sejumlah rumah sakit dan puskesmas turut terdampak gempa.
Tak hanya itu, dua tim manajemen krisis kesehatan juga diterjunkan ke Kabupaten Sikka dan Ende untuk memperkuat koordinasi penanganan di lapangan. Sementara dua tim Emergency Medical Team (EMT) difokuskan untuk melayani wilayah Ende, Nagekeo, Manggarai Barat, dan Sikka.
Pemerintah juga mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di sejumlah lokasi strategis guna memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat.
Dari sisi personel, sebanyak 1.467 anggota gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, serta berbagai kementerian dan lembaga masih bekerja di lapangan. Mereka bertugas melakukan evakuasi, distribusi bantuan, hingga penanganan infrastruktur yang rusak akibat gempa.
Untuk mempercepat distribusi logistik ke daerah-daerah yang sulit dijangkau, pemerintah turut mengerahkan 10 armada udara. Lima unit ditempatkan di wilayah Larantuka dan lima unit lainnya disiagakan di Maumere.
Sementara itu, proses pemulihan layanan publik juga menunjukkan perkembangan positif. BNPB mencatat sebanyak 566.797 pelanggan yang sempat terdampak kini telah kembali terlayani hingga 99,5 persen. Tinggal sekitar 2.732 pelanggan yang masih memerlukan penanganan lanjutan.
Di sektor telekomunikasi, jaringan yang dikelola PT Telkom di Pulau Flores telah pulih hingga 95,4 persen. Namun, wilayah Manggarai Timur masih menjadi perhatian karena proses pemulihan jaringan di daerah tersebut baru mencapai sekitar 76,3 persen.
Pemerintah berharap seluruh proses penanganan darurat, pemulihan infrastruktur, hingga pelayanan kepada masyarakat dapat segera dituntaskan. BNPB juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut memberikan dukungan dan doa bagi warga NTT yang sedang menghadapi masa sulit pascagempa.
“Kami berharap penanganan gempa bumi di NTT dapat segera diselesaikan dengan baik. Mohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia agar kita bisa bersama-sama melewati bencana ini,” kata Berton. (dul)

