BACAAJA, SEMARANG – Kisah tentang Dajjal selalu menarik perhatian karena sosok ini disebut sebagai salah satu fitnah terbesar menjelang hari kiamat. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah di mana sebenarnya Dajjal berada sebelum waktunya keluar ke dunia.
Dalam sejumlah hadis shahih, Dajjal digambarkan sebagai manusia yang mendapat kemampuan luar biasa untuk menyesatkan manusia. Ia kelak mengaku sebagai Tuhan dan membawa berbagai tipu daya yang menjadi ujian berat bagi keimanan.
Sumber-sumber Islam menyebut Dajjal saat ini masih berada dalam keadaan terikat dan dikurung di sebuah tempat yang tidak diketahui secara pasti. Gambaran tentang tempat tersebut salah satunya muncul dalam kisah perjalanan Tamim Ad-Dari yang diriwayatkan Imam Muslim.
Kisah Tamim Ad-Dari
Tamim Ad-Dari bersama sekitar 30 orang berlayar di lautan. Perjalanan mereka berlangsung selama satu bulan dan kapal yang ditumpangi akhirnya terdampar di sebuah pulau.
Di pulau tersebut, rombongan Tamim bertemu makhluk berbulu lebat yang dikenal dengan nama Al-Jassasah. Makhluk itu kemudian mengarahkan mereka menuju sebuah gua.
Di dalam gua, mereka melihat seorang pria bertubuh besar dengan kedua tangan terbelenggu hingga leher serta kaki yang dirantai. Pria tersebut kemudian mengaku sebagai Dajjal.
Dajjal lalu menanyakan sejumlah keadaan di berbagai tempat, termasuk kurma Baisan, Danau Thabariyyah, dan mata air Zughar. Ia juga menanyakan kabar Nabi yang diutus kepada bangsa Arab.
Dalam percakapan itu, Dajjal menyebut dirinya akan mendapat izin untuk keluar. Ia juga mengatakan akan menjelajahi bumi, tetapi tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah karena akan dihalangi para malaikat.
Rasulullah SAW Membenarkan Kisah
Kisah Tamim Ad-Dari kemudian disampaikan kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW membenarkan cerita tersebut dan mengaitkannya dengan kabar mengenai Dajjal yang sebelumnya telah disampaikan kepada para sahabat.
Dalam hadis tersebut disebutkan:
فَإِنَّهُ أَعْجَبَنِي حَدِيثُ تَمِيمٍ أَنَّهُ وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أَحَدِتْكُمْ عَنْهُ… أَلَا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّامِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ
Latin: Fa innahu a‘jabani hadītsu Tamīm annahu wafaqa alladzī kuntu aḥadditsukum ‘anhu… alā innahu fī baḥri asy-Syām aw baḥri al-Yaman, lā bal min qibali al-masyriq mā huwa.
Artinya: “Kisah Tamim menakjubkan hatiku, dan sesuai dengan apa yang telah aku ceritakan kepada kalian. Ketahuilah, Dajjal berada di Laut Syam atau Laut Yaman. Tidak, melainkan dari arah timur! Dia dari arah timur!” (HR. Muslim).
Hadis tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai keberadaan Dajjal. Namun, lokasi pulau tempat Dajjal berada tidak disebutkan secara pasti.
Bukan Pulau yang Bisa Dipastikan
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa kisah Tamim Ad-Dari merupakan hadis shahih. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas kisah tersebut, sementara lokasi pasti pulau yang dimaksud tetap menjadi perkara yang tidak diketahui.
Ada pendapat yang mengaitkan arah timur dengan kawasan timur Jazirah Arab, Samudra Hindia, Laut Yaman, hingga wilayah sekitar Laut Arab. Beberapa peneliti Muslim modern juga pernah menghubungkannya dengan kawasan sekitar Kepulauan Socotra.
Namun, dugaan tersebut belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Karena itu, umat Islam diingatkan agar tidak menjadikan pencarian lokasi fisik Dajjal sebagai fokus utama.
Ujian Iman Menjelang Akhir Zaman
Dalam berbagai penjelasan tentang akhir zaman, kemunculan Dajjal digambarkan sebagai ujian besar bagi manusia. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang dianjurkan setelah tasyahhud akhir adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Allahumma inni a‘ūdzu bika min fitnati al-Masīḥ ad-Dajjāl.
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”
Sampai sekarang, keberadaan pasti tempat Dajjal diikat tetap menjadi bagian dari perkara gaib. Kisah Tamim Ad-Dari memberi gambaran tentang keberadaannya, tetapi lokasi persisnya tidak dapat dipastikan manusia. (*)

