Dalam ceramahnya, Gus Baha menjelaskan bahwa persoalannya bukan terletak pada gerakan mencium tangan itu sendiri. Ia lebih mengkhawatirkan dampak yang bisa muncul, baik bagi orang yang mencium maupun orang yang menerima penghormatan tersebut.
Dikutip dari tayangan di kanal YouTube Santri Gayeng, Gus Baha mengingatkan bahwa tindakan yang terlihat penuh adab sekalipun perlu disertai niat yang benar. Jangan sampai penghormatan justru membuka jalan bagi munculnya perasaan lebih mulia atau bangga terhadap diri sendiri.
Menurut Gus Baha, bersalaman merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW. Dalam sejumlah riwayat, Nabi Muhammad SAW juga pernah menerima penghormatan berupa ciuman tangan dari para sahabat. Namun, praktik tersebut tetap perlu ditempatkan secara proporsional dan tidak membuat seseorang terjebak dalam penyakit hati.
Ia mengaku tidak ingin terlalu sering mengalami situasi ketika orang bersalaman sekaligus mencium tangannya. Bukan karena menolak penghormatan, melainkan karena khawatir kebiasaan tersebut perlahan menumbuhkan rasa ujub atau merasa diri istimewa.
Gus Baha kemudian menyinggung sosok Uwais Al-Qarni yang dikenal dalam sejarah Islam karena kesalehan dan kerendahan hatinya. Ia menjadikan kisah tersebut sebagai pelajaran tentang pentingnya menjaga hati agar tidak mudah terpengaruh oleh perlakuan orang lain.
Sikap menghindari penghormatan berlebihan, menurut penjelasan Gus Baha, bukan berarti seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru, kehati-hatian itu bisa menjadi cara untuk mencegah munculnya kesombongan yang tidak disadari.
“Yang mencium rawan hina, yang dicium rawan ujub,” ucap Gus Baha dalam ceramahnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kedua pihak sama-sama perlu menjaga sikap. Orang yang memberikan penghormatan jangan sampai merasa dirinya rendah secara berlebihan, sementara orang yang menerimanya juga tidak boleh merasa lebih tinggi karena dihormati.
Karena itu, Gus Baha memilih jalan tengah. Ia tidak menolak tradisi bersalaman secara mutlak, tetapi juga tidak menjadikan cium tangan sebagai sesuatu yang harus selalu dilakukan setiap kali bertemu.
“Saya memilih tengah-tengah itu sudah saya pikir. Makanya itu jadi madzhab saya,” tuturnya.
Bagi Gus Baha, menghormati guru atau ulama tidak harus selalu diwujudkan melalui gestur fisik. Mendoakan guru, menyimak nasihatnya, belajar dengan sungguh-sungguh, dan mengamalkan ilmu yang diberikan juga merupakan bentuk penghormatan yang bermakna.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa adab bukan sekadar soal kebiasaan yang terlihat dari luar. Menjaga ketulusan, menghindari kesombongan, dan tetap rendah hati juga menjadi bagian penting dalam hubungan antara guru dan murid. (*)

