Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Gak Cuma Nurut, Begini Cara Bikin Anak Perempuan Tangguh
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Gak Cuma Nurut, Begini Cara Bikin Anak Perempuan Tangguh

Orangtua juga disarankan untuk lebih menghargai proses, bukan cuma hasil. Karena ketika anak merasa usahanya dihargai, mereka akan lebih termotivasi untuk terus belajar, meskipun belum sempurna.

Nugroho P.
Last updated: Mei 6, 2026 8:49 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
ilustrasi anak tangguh
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Perubahan zaman pelan-pelan ikut menggeser cara orangtua mendidik anak, terutama anak perempuan yang kini tumbuh di tengah tuntutan sosial yang makin kompleks dan kadang bikin tertekan. Kalau dulu anak perempuan identik dengan kata “patuh”, sekarang ceritanya sudah beda, karena dunia menuntut mereka bukan cuma menurut, tapi juga berani berdiri sendiri dan tahu arah hidupnya.

Di tengah arus itu, pola asuh yang terlalu menekankan kepatuhan mulai dipertanyakan, karena ternyata nggak cukup buat bekal anak menghadapi realita. Anak perempuan butuh lebih dari sekadar tahu aturan, mereka perlu punya rasa percaya diri, kemampuan mengambil keputusan, dan keberanian untuk menghadapi situasi yang nggak selalu ideal.

Psikolog Yustinus Joko Dwi Nugroho menjelaskan bahwa konsep “tangguh” sering disalahartikan sebagai sosok yang harus selalu kuat dan nggak boleh menunjukkan emosi. Padahal dalam dunia psikologi, tangguh justru punya makna yang lebih dalam dan manusiawi.

Menurutnya, anak perempuan yang tangguh bukan berarti nggak pernah menangis atau selalu terlihat kuat di luar. Justru, ketangguhan itu soal kemampuan untuk bangkit lagi setelah jatuh, belajar dari kesalahan, dan tetap punya pikiran yang jernih saat menghadapi masalah.

“Secara psikologis, tangguh itu artinya punya kemampuan untuk bangkit atau resilien saat menghadapi kesulitan,” jelasnya, menekankan bahwa proses jatuh dan bangkit adalah bagian penting dari tumbuh kembang anak.

Kalau dilihat lebih dekat, ada beberapa tanda yang biasanya muncul pada anak perempuan yang mulai tumbuh tangguh. Mereka cenderung berani mencoba hal baru tanpa terlalu takut gagal, punya kepercayaan diri yang cukup untuk belajar, dan nggak gampang menyerah saat menghadapi kesulitan.

Selain itu, kemandirian juga jadi salah satu ciri yang paling kelihatan. Anak mulai bisa mengambil keputusan kecil tanpa harus selalu menunggu arahan orangtua, dan pelan-pelan belajar bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya.

Kemampuan mengelola emosi juga nggak kalah penting. Anak yang tangguh bukan yang nggak punya emosi, tapi yang tahu cara mengekspresikannya dengan sehat, entah itu saat marah, sedih, atau kecewa, tanpa harus melampiaskannya secara berlebihan.

Ditambah lagi, mereka biasanya punya kemampuan memecahkan masalah dengan cara yang lebih tenang. Ketika menghadapi situasi sulit, anak nggak langsung panik, tapi mencoba mencari solusi, meskipun masih sederhana.

Sebaliknya, kalau anak hanya diajarkan untuk patuh tanpa diberi ruang berpikir, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang. Anak bisa tumbuh jadi pribadi yang ragu mengambil keputusan, karena terbiasa menunggu arahan dan takut salah.

Rasa takut itu sering muncul karena sejak kecil kesalahan dianggap sesuatu yang harus dihindari, bukan dipelajari. Akhirnya, anak jadi cenderung bergantung pada penilaian orang lain dan kurang percaya dengan kemampuannya sendiri.

Dalam beberapa kasus, anak juga jadi kurang berani menyampaikan pendapat. Mereka lebih memilih diam daripada salah, padahal keberanian bicara adalah salah satu kunci penting dalam membangun kepercayaan diri.

Di sinilah peran orangtua jadi krusial. Membangun kepercayaan diri anak nggak bisa instan, tapi perlu dimulai dari hal-hal kecil, seperti memberi kesempatan anak mencoba sesuatu tanpa langsung dihakimi dari hasil akhirnya.

Orangtua juga disarankan untuk lebih menghargai proses, bukan cuma hasil. Karena ketika anak merasa usahanya dihargai, mereka akan lebih termotivasi untuk terus belajar, meskipun belum sempurna.

Kesalahan pun sebaiknya mulai dinormalisasi. Anak perlu tahu bahwa gagal bukan akhir dari segalanya, tapi bagian dari perjalanan untuk jadi lebih baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua bisa mulai melatih kemandirian anak lewat pilihan-pilihan sederhana. Misalnya, membiarkan anak memilih baju yang ingin dipakai atau menentukan menu makanan yang disukai.

Langkah kecil seperti ini ternyata punya dampak besar, karena anak belajar bahwa pendapatnya dihargai dan punya arti. Dari situ, rasa percaya diri perlahan akan tumbuh.

Yang juga sering terjadi, orangtua terlalu cepat turun tangan saat anak menghadapi kesulitan. Niatnya memang membantu, tapi tanpa disadari justru membuat anak jadi kurang terlatih menghadapi tantangan sendiri.

Padahal, memberi kesempatan anak menyelesaikan masalah kecil bisa jadi latihan penting. Anak jadi tahu bahwa dirinya mampu, dan kepercayaan diri itu tumbuh dari pengalaman, bukan dari teori.

Ada juga tanda-tanda yang perlu diwaspadai ketika anak mulai kehilangan rasa percaya diri. Misalnya sering bilang “aku nggak bisa”, takut mencoba hal baru, atau terlihat cemas saat diminta tampil di depan orang lain.

Beberapa anak bahkan memilih menarik diri dari lingkungan atau jadi terlalu sensitif terhadap kritik, meskipun sebenarnya kritik tersebut ringan. Kondisi seperti ini perlu segera ditangani dengan pendekatan yang lebih suportif.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membiasakan anak untuk menyampaikan pendapatnya sejak dini. Mulai dari pertanyaan sederhana sampai melibatkan mereka dalam keputusan kecil di rumah.

Dengan begitu, anak belajar bahwa suaranya penting, dan mereka punya hak untuk didengar. Bahkan ketika tidak setuju, anak bisa dilatih menyampaikan pendapat dengan cara yang tetap sopan.

Pada akhirnya, mendidik anak perempuan agar tangguh memang butuh keseimbangan. Bukan soal melepas sepenuhnya atau mengatur sepenuhnya, tapi menemukan titik tengah antara arahan dan kebebasan.

Karena dari situlah anak perempuan bisa tumbuh jadi pribadi yang bukan cuma patuh, tapi juga percaya diri, mandiri, dan siap menghadapi berbagai tantangan yang ada di depan. (*)

You Might Also Like

Baju Kena Opor Saat Lebaran? Tenang, Ini Cara Simpelnya

Waspada Serangan Jantung, Jangan Nunggu Gejala Datang Baru Panik!

Suka Mandi Tengah Malam? Baca Dulu Risikonya

Biar Ketupat Lebaran Nggak Cepat Basi, Ini Triknya

Kata Primbon Jawa, Ini Ciri Wanita Dipercaya Bawa Hoki

TAGGED:parentingtips
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ambisi Orangtua Kelewat Tinggi, Anak Bisa Jadi Takut Makan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Gak Cuma Nurut, Begini Cara Bikin Anak Perempuan Tangguh

Ambisi Orangtua Kelewat Tinggi, Anak Bisa Jadi Takut Makan

Ribut Mulu di Rumah, Ini Cara Ademkan Kakak Adik

Ngantuk Jadi Lomba, Seoul Bikin Kompetisi Tidur Siang

Badan Berotot Tanpa Nyiksa, Ini Cara Benernya Biar Jadi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Doyan Pedas Boleh, Tapi Jangan Sampai Usus Protes Keras

Maret 29, 2026
Tips

Ngopi Pas Puasa, Sahur atau Pas Buka yang Aman Buat Tubuh?

Februari 19, 2026
Tips

Cocok Banget Buat Pemudik! Zikir di Tanjakan dan Turunan ala Rasulullah

Maret 15, 2026
Tips

Suka Makan Mi Instan Tapi Takut Gemuk? Intip Tips Ala Korea Ini!

September 19, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Gak Cuma Nurut, Begini Cara Bikin Anak Perempuan Tangguh
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?