Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ribut Mulu di Rumah, Ini Cara Ademkan Kakak Adik
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Ribut Mulu di Rumah, Ini Cara Ademkan Kakak Adik

Psikolog anak dari Johns Hopkins Children’s Center, Jeff Garofano, menjelaskan bahwa pertengkaran ringan antar saudara sebenarnya termasuk hal yang wajar dalam masa kanak-kanak. Bahkan, konflik kecil justru bisa jadi sarana belajar yang penting.

Nugroho P.
Last updated: Mei 6, 2026 8:38 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
keributan kakak beradik yang sering terjadi di rumah.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Suara teriak, rebutan mainan, sampai adu mulut soal hal sepele sering jadi “background sound” di banyak rumah yang punya lebih dari satu anak. Buat orangtua, situasi ini kadang bikin capek sendiri, apalagi kalau kejadian berulang tiap hari seolah nggak ada habisnya.

Padahal, di balik drama kecil itu, ada proses tumbuh kembang yang lagi berjalan. Hubungan kakak adik memang unik—dekat tapi juga rawan gesekan, akrab tapi gampang tersulut emosi, dan semuanya terjadi dalam satu ruang yang sama setiap hari.

Psikolog anak dari Johns Hopkins Children’s Center, Jeff Garofano, menjelaskan bahwa pertengkaran ringan antar saudara sebenarnya termasuk hal yang wajar dalam masa kanak-kanak. Bahkan, konflik kecil justru bisa jadi sarana belajar yang penting.

Menurutnya, anak-anak memang perlu mengalami konflik untuk memahami cara menghadapi perbedaan. Dari situ mereka belajar negosiasi, memahami emosi, sampai mencari solusi sendiri tanpa selalu bergantung pada orangtua.

Kalau dilihat lebih jauh, penyebab pertengkaran kakak adik biasanya berubah sesuai usia. Anak balita sering ribut karena hal sederhana seperti rebutan mainan atau ingin perhatian lebih dari orangtua.

Masuk usia sekolah dasar, konflik mulai bergeser ke soal keadilan. Siapa yang lebih dulu, siapa yang lebih banyak dapat bagian, atau siapa yang lebih sering disuruh—hal-hal seperti ini bisa jadi pemicu perdebatan panjang.

Sementara itu, saat masuk usia remaja, konflik biasanya lebih kompleks. Privasi, perbandingan prestasi, sampai rasa cemburu bisa jadi sumber gesekan yang nggak lagi sekadar soal hal sepele.

Meski begitu, orangtua tetap perlu peka membedakan mana konflik yang masih wajar dan mana yang sudah mulai berbahaya. Kalau pertengkaran sudah mengarah ke kekerasan fisik atau ada niat menyakiti, itu bukan lagi hal yang bisa dianggap biasa.

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketimpangan kekuatan yang mencolok, misalnya kakak yang jauh lebih besar terus mendominasi adik. Atau konflik yang terjadi terus-menerus tanpa ada tanda mereda.

Perubahan sikap juga bisa jadi sinyal. Anak yang tiba-tiba jadi pendiam, takut, atau menarik diri dari interaksi dengan saudaranya bisa jadi sedang mengalami tekanan yang lebih serius.

Kalau kondisi ini dibiarkan, dampaknya nggak main-main. Pertengkaran yang terlalu sering dan keras bisa memengaruhi kesehatan mental anak, bahkan sampai ke masa dewasa.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan antar saudara bisa menurunkan rasa percaya diri, membuat anak kurang puas dengan hidupnya, bahkan meningkatkan risiko depresi di kemudian hari.

Karena itu, cara orangtua menyikapi konflik jadi kunci utama. Bukan cuma datang saat ribut lalu jadi hakim dadakan, tapi lebih ke membangun pola interaksi yang sehat sejak awal.

Salah satu langkah penting adalah memberi contoh langsung bagaimana menyelesaikan konflik. Anak biasanya meniru apa yang mereka lihat, termasuk cara orangtua berkomunikasi saat berbeda pendapat.

Selain itu, jangan hanya fokus pada kesalahan saat anak bertengkar. Justru momen ketika mereka akur dan bekerja sama perlu lebih sering diapresiasi agar perilaku positif itu makin kuat.

Orangtua juga bisa bikin sistem sederhana yang mendorong kerja sama, misalnya memberi “reward” kalau kakak adik bisa kompak menyelesaikan tugas bersama. Cara ini bikin mereka melihat satu sama lain sebagai tim, bukan lawan.

Pendekatan seperti ini perlahan mengubah dinamika hubungan. Dari yang awalnya penuh persaingan, jadi lebih banyak kolaborasi dan saling dukung.

Yang nggak kalah penting, orangtua perlu bersikap netral saat konflik terjadi. Memihak salah satu anak justru bisa memperparah situasi dan menimbulkan rasa tidak adil.

Alih-alih langsung memutuskan siapa yang benar atau salah, lebih baik bantu anak mengungkapkan perasaannya. Ajak mereka bicara, dengarkan dua sisi, lalu arahkan untuk menemukan solusi bersama.

Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap konflik bisa diselesaikan tanpa harus saling menjatuhkan. Mereka juga jadi lebih paham cara mengelola emosi sendiri.

Pada akhirnya, rumah memang nggak selalu harus sunyi tanpa pertengkaran. Sedikit ribut itu wajar, selama masih dalam batas sehat dan bisa jadi ruang belajar.

Karena dari situ, kakak dan adik bukan cuma belajar hidup berdampingan, tapi juga tumbuh jadi pribadi yang lebih kuat, lebih peka, dan lebih siap menghadapi dunia di luar rumah. (*)

You Might Also Like

Dokter Cantik Sebut Cara Sahur Bumil Biar Awet Kenyang saat Puasa

Ginjal Tetap Aman, Deretan Makanan Ini Diam Diam Menjaga

Tips Agar Tidak Terjebak Gogle Maps yang Ngaco

Gusi Berdarah Bisa Jadi Alarm Masalah Ginjal

Teh Hangat Saat Sahur, Aman atau Bikin Lemas

TAGGED:kakak adikparentingtips
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ngantuk Jadi Lomba, Seoul Bikin Kompetisi Tidur Siang
Next Article Ambisi Orangtua Kelewat Tinggi, Anak Bisa Jadi Takut Makan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

MENGAIS REZEKI - Pelaku UMKM sedang melayani pembeli saat penutupan MTQ di Semarang, Sabtu (19/9/2026). (dul)

Cerita Pelaku UMKM Kerajinan Tangan Jualan di MTQ Nasional Semarang: Cuma Laku Empat

SAMPAIKAN KEPUTUSAN - Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI Tahun 2026, Prof. Dr. H. E. Syibli Syarjaya, membacakan keputusan lomba didampingi Sekretaris Dewan Hakim, Dr. Muhammad Ramli Massange, M.A. Sabtu (19/9/2026). (dul)

Kaltim Juara Umum MTQ Nasional ke-31, Jateng Nomor Berapa?

Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi memberi sambutan saat penutupan penutupan MTQ Nasional ke-31, Sabtu (19/9/2026). (dul)

Penutpan MTQ Nasional, Gubernur Jateng Sampaikan Pesan Ini kepada Kafilah

Agustina Tegaskan Trans Semarang Bukan Bisnis

JUARA REBANA--Tim DM Group asal Kediri menerima hadiah secara simbolis usai menjadi juara pertama Festival Rebana Nasional 2026 yang jadi rangkaian MTQ di Kota Semarang. (ist)

DM Group Kediri Juara Festival Rebana MTQ Nasional di Semarang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Urutan Tahlil Singkat Plus Arab Latin Artinya Biar Nggak Bingung Pas ‘Nyekar’

Maret 18, 2026
Tips

Buah Favorit Bisa Jadi Kunci Berat Badan Tetap Aman dan Nyaman

Juli 5, 2026
Tips

Nyeri Dada Bikin Panik? GERD dan Jantung Sering Disalahpahami

Maret 30, 2026
Tips

Jangan Salah Paham, Lima Operasi Ini Tak Ditanggung BPJS

Desember 29, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ribut Mulu di Rumah, Ini Cara Ademkan Kakak Adik
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?