BACAAJA, SEMARANG – Di era media sosial yang serba pamer pencapaian, banyak orangtua tanpa sadar mulai membandingkan diri dengan keluarga lain yang terlihat “sempurna”, termasuk soal pola makan anak yang tampak rapi, sehat, dan tanpa drama. Dari situ, keinginan memberikan yang terbaik pelan-pelan berubah jadi tekanan untuk selalu benar, selalu ideal, dan tanpa cela.
Padahal, dorongan untuk jadi orangtua sempurna ini seringkali nggak terasa berlebihan di awal. Semuanya terlihat seperti niat baik—ingin anak makan sehat, tumbuh optimal, dan jauh dari kebiasaan buruk. Tapi ketika standar itu jadi terlalu kaku, efeknya justru bisa berbalik arah dan menyasar kesehatan mental anak.
Psikolog klinis Erin Parks mengingatkan bahwa perfeksionisme dalam pengasuhan biasanya muncul dari keyakinan bahwa jika semua dilakukan dengan sempurna, maka hasilnya pasti baik. Sayangnya, pola pikir seperti ini justru membuat orangtua menetapkan standar yang sulit dicapai, bahkan untuk anak-anak.
Tekanan itu sering paling terasa saat momen makan. Meja makan yang seharusnya jadi tempat santai justru berubah jadi ruang penuh aturan, mulai dari larangan makanan tertentu sampai kewajiban menghabiskan semua isi piring tanpa kompromi.
Pendiri Pediatric Health Coaching Academy, Thea Runyan, menilai aturan yang terlalu ketat bisa menciptakan hubungan yang nggak sehat antara anak dan makanan. Anak jadi nggak lagi melihat makan sebagai kebutuhan, tapi sebagai kewajiban yang penuh tekanan.
Akibatnya, muncul rasa bersalah saat mereka makan sesuatu yang dianggap “tidak sehat”. Bahkan, ada anak yang diam-diam mengambil makanan terlarang karena merasa terkekang, bukan karena lapar semata.
Lebih jauh lagi, cara orangtua memberi label pada makanan ternyata juga berdampak besar. Ketika makanan disebut “buruk” atau “nakal”, anak bisa ikut melabeli dirinya sendiri berdasarkan apa yang ia konsumsi.
Hal ini bikin kepercayaan diri anak ikut tergerus. Mereka bisa merasa “jelek” hanya karena makan kue, atau merasa “baik” saat makan sayur, seolah nilai diri mereka ditentukan oleh isi piring.
Yang sering luput, anak-anak ternyata sangat peka terhadap emosi orangtua. Meskipun orangtua merasa sudah menyembunyikan kekhawatiran soal makanan, anak tetap bisa menangkap kecemasan itu dari gestur atau nada bicara.
Situasi ini bikin anak ikut merasa tegang sebelum makan. Bahkan dalam beberapa kasus, anak bisa merasa cemas atau jijik terhadap makanan tertentu karena tekanan yang terus-menerus.
Psikiater anak dan remaja Asha Patton-Smith menyebut kondisi ini bisa membuat anak merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi orangtua jadi beban yang pelan-pelan mengganggu keseimbangan emosional mereka.
Ada beberapa tanda yang bisa jadi sinyal awal masalah. Misalnya, anak mulai menghindari acara sosial karena takut dengan makanan yang tersedia, atau terlalu khawatir dengan apa yang akan ia makan di luar rumah.
Tanda lain yang cukup mengkhawatirkan adalah ketika anak mulai menyebut dirinya “buruk” hanya karena makan sesuatu yang manis atau berlemak. Kalimat sederhana seperti ini bisa jadi alarm bahwa pola pikirnya mulai terganggu.
Selain itu, anak juga bisa terlihat cemas berlebihan sebelum makan, atau menunjukkan ekspresi tidak nyaman yang nggak biasa. Ini bukan sekadar soal selera, tapi sudah menyentuh aspek emosional.
Menariknya, larangan keras justru sering jadi bumerang. Ketika anak dilarang total terhadap suatu makanan, rasa penasaran mereka malah meningkat, dan keinginan untuk mencoba jadi makin besar.
Alih-alih melarang, pendekatan yang lebih fleksibel justru disarankan. Misalnya, mengganti camilan tertentu dengan alternatif yang lebih sehat tapi tetap punya tekstur atau rasa yang mirip.
Cara lain yang cukup efektif adalah melibatkan anak dalam proses makan itu sendiri. Mulai dari memilih menu, belanja bahan, sampai ikut memasak, semua bisa jadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus edukatif.
Ketika anak merasa dilibatkan, mereka cenderung lebih tertarik mencoba makanan yang ada. Proses ini juga membantu mereka membangun hubungan yang lebih positif dengan makanan.
Di sisi lain, orangtua juga perlu mulai mengubah cara pandang terhadap makanan. Nggak semua harus dikotakkan jadi “baik” atau “buruk”, karena pada dasarnya semua bisa dikonsumsi selama dalam batas wajar.
Dengan pendekatan yang lebih santai tapi tetap terarah, anak bisa belajar bahwa makan bukan soal aturan kaku, melainkan bagian dari hidup yang harus dinikmati dengan bijak.
Pada akhirnya, jadi orangtua memang nggak ada yang benar-benar sempurna. Tapi justru dari ketidaksempurnaan itulah anak belajar menerima diri, termasuk saat mereka membuat pilihan yang nggak selalu ideal.
Jadi, daripada mengejar standar tinggi yang melelahkan, mungkin lebih penting menciptakan suasana yang sehat—bukan cuma di meja makan, tapi juga di dalam pikiran anak.(*)

