Pesan tersebut disampaikan Buya Yahya dalam kajian tentang adab dan tata cara berdoa yang tayang di kanal YouTube @hijrah-bersama. Ia menyoroti kebiasaan manusia yang sering kali baru mengingat Allah ketika masalah datang bertubi-tubi.
“Model kita itu memang begitu, deketnya sama Allah pas bermasalah aja. Kalau Allah sayang, kadang sampai didatangkan dulu masalah agar si hamba datang kepada-Nya,” ujar Buya Yahya.
Menurutnya, kesulitan terkadang menjadi jalan yang membuat seseorang kembali mendekat kepada Allah. Ketika berbagai urusan terasa berat, manusia bisa lebih sadar akan keterbatasan dirinya dan kembali mencari pertolongan dari Sang Pencipta.
Namun, Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan masalah atau penyakit sebagai sesuatu yang harus ditunggu demi bisa lebih rajin beribadah. Jika diberi pilihan, seorang Muslim sebaiknya memohon kesehatan, kelapangan rezeki, dan kehidupan yang baik, lalu menggunakan semua nikmat itu untuk mendekat kepada Allah SWT.
“Sampai Allah kasih sakit, supaya kamu datang. Tapi jangan minta yang seperti itu. Minta sehat, minta nikmat, lalu gunakan nikmat itu untuk mendekat kepada Allah,” jelasnya.
Pesan ini menekankan bahwa doa bukan hanya untuk meminta pertolongan ketika keadaan sudah sulit. Saat tubuh sehat, pekerjaan lancar, keluarga baik-baik saja, dan kebutuhan tercukupi, seorang Muslim tetap dianjurkan bersyukur serta menjaga ibadah.
Kebiasaan berdoa dalam keadaan senang juga menjadi bentuk kesadaran bahwa semua yang dimiliki merupakan nikmat dari Allah. Dengan begitu, hubungan spiritual tidak hanya muncul ketika seseorang membutuhkan jalan keluar dari persoalan hidup.
Buya Yahya juga mengingatkan umat Islam untuk memanjatkan doa yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Salah satu doa yang bisa diamalkan adalah:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adhaban-nar.
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”
Doa tersebut memuat permohonan agar kehidupan di dunia dipenuhi kebaikan, sekaligus harapan mendapatkan keselamatan di akhirat. Keduanya berjalan beriringan, bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Buya Yahya mengajak umat Islam menjadikan doa sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar tempat mengadu saat sudah kehabisan jalan. Dengan membiasakan diri mengingat Allah dalam berbagai keadaan, seseorang diharapkan lebih siap menghadapi perubahan hidup.
Intinya, jangan sampai nama Allah baru disebut ketika masalah datang. Saat mendapat nikmat pun, seorang Muslim tetap perlu bersyukur, berdoa, dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melakukan kebaikan. (*)

