BACAAJA, SEMARANG – Pernah tiba-tiba bersin gara-gara debu, lalu beberapa saat kemudian malah cegukan? Atau baru rebahan sebentar, suara ngorok langsung keluar tanpa sadar? Tenang, berbagai reaksi tubuh itu sebenarnya punya alasan masing-masing.
Bersin, batuk, cegukan, mendengkur, dan menguap memang sering muncul tanpa kita rencanakan. Tubuh seperti punya sistem otomatis yang bekerja ketika saluran pernapasan terganggu, otot tertentu berkontraksi, atau tubuh masuk ke kondisi rileks dan mengantuk.
Meski kelihatannya sepele, setiap reaksi tersebut merupakan bagian dari mekanisme tubuh. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi ketika tubuh tiba-tiba bersin, batuk, cegukan, mendengkur, atau menguap?
Bersin
Bersin merupakan respons otomatis tubuh untuk membersihkan hidung dari benda atau partikel yang mengganggu. Debu, serbuk sari, asap, udara dingin, hingga infeksi seperti flu bisa memicu saraf di dalam hidung.
Ketika saraf tersebut mendeteksi gangguan, otak memerintahkan sejumlah otot untuk bekerja secara cepat. Udara kemudian didorong keluar melalui hidung dan mulut dengan tekanan tinggi agar partikel pengganggu ikut tersingkir.
Itulah sebabnya bersin bisa terjadi begitu mendadak dan sulit ditahan. Saat sedang flu, frekuensi bersin juga bisa meningkat karena saluran hidung mengalami iritasi dan dipenuhi lendir.
Karena percikan dari bersin bisa membawa droplet dan partikel infeksius, sebaiknya tutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau bagian dalam siku. Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi penyebaran kuman ke orang sekitar.
Batuk
Kalau bersin lebih banyak berkaitan dengan hidung, batuk merupakan salah satu cara tubuh membersihkan tenggorokan dan saluran pernapasan. Asap, debu, lendir, makanan yang salah masuk, atau iritasi lainnya bisa memicu refleks batuk.
Mekanismenya cukup cepat. Saluran pernapasan mendeteksi gangguan, otot-otot pernapasan kemudian berkontraksi, lalu udara didorong keluar dengan kuat untuk membantu mengeluarkan benda atau lendir yang mengganggu.
Batuk tidak selalu berarti seseorang sedang sakit. Namun, batuk juga bisa menjadi gejala berbagai gangguan seperti infeksi saluran pernapasan, alergi, asma, atau masalah kesehatan lainnya.
Sama seperti bersin, batuk saat mengalami infeksi dapat menyebarkan kuman. Karena itu, menutup mulut ketika batuk tetap jadi kebiasaan penting.
Cegukan
Suara “hik” yang muncul berulang kali saat cegukan sebenarnya berasal dari kontraksi diafragma yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak disengaja.
Diafragma merupakan otot utama yang membantu proses pernapasan. Ketika otot ini mengalami kontraksi mendadak, udara masuk secara cepat dan kemudian pita suara menutup secara refleks sehingga terdengar bunyi khas “hik”.
Cegukan bisa muncul setelah makan terlalu cepat, makan terlalu banyak, minum minuman berkarbonasi, tertawa, atau mengalami perubahan emosi secara tiba-tiba. Biasanya kondisi ini hanya berlangsung sebentar dan akan hilang dengan sendirinya.
Namun, jika cegukan berlangsung sangat lama atau terus berulang sampai mengganggu aktivitas, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele dan perlu diperiksakan.
Mendengkur
Mendengkur atau mengorok terjadi ketika aliran udara saat tidur melewati saluran pernapasan yang menyempit. Jaringan lunak di sekitar tenggorokan kemudian bergetar dan menghasilkan suara.
Posisi tidur juga bisa berpengaruh. Pada sebagian orang, tidur telentang membuat lidah dan jaringan di sekitar tenggorokan lebih mudah mempersempit jalan napas.
Berat badan berlebih, hidung tersumbat, konsumsi alkohol, serta bentuk saluran napas tertentu juga dapat membuat seseorang lebih mudah mendengkur.
Sesekali mendengkur belum tentu menjadi masalah. Tetapi kalau dengkuran sangat keras dan disertai jeda napas saat tidur, sering terbangun, atau rasa kantuk berlebihan pada siang hari, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan sleep apnea dan sebaiknya diperiksa.
Menguap
Menguap sering identik dengan rasa kantuk. Saat tubuh mulai masuk fase rileks atau lelah, seseorang biasanya lebih mudah menguap.
Dulu, menguap sering dijelaskan sebagai cara tubuh mengambil lebih banyak oksigen karena kadar oksigen dalam paru-paru menurun. Namun, penjelasan tersebut kini dianggap terlalu sederhana dan belum didukung bukti kuat.
Para peneliti masih mempelajari alasan pasti manusia menguap. Salah satu teori yang banyak dibahas adalah kaitannya dengan pengaturan kondisi tubuh dan tingkat kewaspadaan.
Yang unik, menguap juga bisa terasa menular. Melihat orang lain menguap, mendengar suara orang menguap, bahkan sekadar membicarakan soal menguap bisa membuat kita ikut melakukannya.
Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan mekanisme sosial dan respons otak terhadap perilaku orang lain. Meski begitu, alasan lengkap mengapa menguap bisa “menular” masih terus diteliti.
Jadi, jangan heran kalau tubuh tiba-tiba mengeluarkan respons yang terasa di luar kendali. Bersin, batuk, cegukan, mendengkur, dan menguap pada dasarnya merupakan bagian dari berbagai mekanisme otomatis tubuh.
Meski terlihat biasa, reaksi-reaksi tersebut menunjukkan bahwa tubuh terus bekerja menjaga saluran pernapasan, merespons rangsangan, dan menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar. (*)

