BACAAJA, SEMARANG – Prestasi membanggakan diukir mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Nurisa Dian Ashrifah. Ia mengukir tinta emas dalam sejarah olahraga panahan di Indonesia setelah meraih emas dalam gelaran Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Atlet asal Semarang yang akrab disapa Hani itu sukses meraih medali emas nomor compound individu putri pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Bukan sekadar emas. Prestasi tersebut menjadi medali emas pertama Indonesia dari cabang olahraga panahan sepanjang sejarah keikutsertaan di Asian Games.
Pencapaian itu terasa semakin spesial karena Nurisa masih berusia 20 tahun. Di tengah kesibukannya sebagai atlet, ia juga tetap menjalani pendidikan sebagai mahasiswa Program Sarjana Manajemen di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.
Perjalanan Hani menuju podium tertinggi ternyata tidak terjadi dalam semalam. Ia telah menggemari olahraga panahan sejak masih belia.
Berawal dari Kartun dan Busur Panah
Nurisa lahir di Semarang pada 30 November 2005. Ketertarikannya terhadap panahan muncul ketika masih kecil. Ia kerap melihat karakter dalam film maupun kartun menggunakan busur dan anak panah.
Dari rasa penasaran itu, Hani akhirnya mencoba olahraga panahan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Ia mulai serius menekuni panahan sejak usia 11 tahun.
“Sejak umur 11 tahun, saya sudah mulai mencoba olahraga panahan. Kompetisi pertama yang saya ikuti adalah POPDA Kota tingkat SD di tahun 2016,” ujar Nurisa kepada Udinus.
Memasuki SMP, latihan mulai dijalani dengan lebih rutin. Dari sekadar mencoba, panahan perlahan berubah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Saat SMA di SMM Alam Ar Ridho Semarang, Nurisa juga memanfaatkan kegiatan project di sekolah untuk tetap berlatih.
Pertandingan demi pertandingan menjadi pengalaman yang membentuk kemampuannya hingga akhirnya fokus berkembang di nomor compound.
Kuliah Terus, Latihan Jalan
Menjadi atlet bukan berarti membuat Nurisa meninggalkan pendidikan. Di tengah jadwal latihan, kompetisi, dan perjalanan ke berbagai kejuaraan, ia tetap menjalani perkuliahan di Udinus.
Ia harus membagi waktu antara dunia akademik dan olahraga yang sudah ditekuninya sejak usia belia. Hasil kerja keras itu pun mulai terlihat dari sejumlah prestasi yang diraih sebelum Asian Games.
Pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, Nurisa menjadi bagian dari tim panahan compound putri Jawa Tengah yang berhasil meraih medali perak. Dalam babak kualifikasi beregu, ia mencatat skor individual 690.
Prestasi lainnya datang dari Grand Triumph International Indoor Archery Championship 2024 di Yogyakarta.
Saat itu, Nurisa berhasil menjadi juara nomor compound open women setelah menempati posisi teratas pada babak kualifikasi dengan raihan 597 poin.
Kini Namanya Mengukir Sejarah
Berbagai pengalaman tersebut akhirnya mengantarkan Nurisa ke panggung terbesar di Asia.
Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, ia berhasil berdiri di podium tertinggi nomor compound individu putri. Emas tersebut sekaligus menjadi tonggak baru bagi panahan Indonesia.
Dari seorang anak yang awalnya tertarik pada busur dan anak panah karena melihat karakter dalam film atau kartun, Hani kini justru menjadi sosok yang membuat sejarah untuk Indonesia.
Semarang punya cerita. Indonesia punya emas. Dan nama Nurisa Dian Ashrifah kini resmi menjadi bagian dari sejarah panahan Tanah Air. (*)

