BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng resmi melantik Handi Priyanto sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Senin (18/5/2026).
Handi ditetapkan sebagai Sekda definitif setelah meraih nilai tertinggi dalam seluruh tahapan seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama yang berjalan sejak Februari 2026.
Agustina menegaskan proses seleksi berlangsung objektif dan tidak bisa diintervensi siapa pun. “Panselnya tidak bisa diintervensi. Sangat kredibel. Sampai akhir waktu saya mendapatkan laporan bahwa nilai tertinggi memang diperoleh Pak Handi,” kata Agustina dalam sambutannya.
Baca juga: Budi Prakosa Resmi Jadi Pj Sekda Semarang, Ditantang Kendalikan 16 Ribu ASN dan Program Strategis
Seleksi Sekda Kota Semarang melibatkan panitia independen dari kalangan birokrat dan akademisi. Mulai dari Sekda Jateng, Sumarno hingga sejumlah profesor dari BRIN, Undip, Unnes, dan Unika Soegijapranata.
Seluruh tahapan seleksi juga disebut sudah mengantongi rekomendasi Badan Kepegawaian Negara (BKN), mulai administrasi, asesmen kompetensi, rekam jejak sampai wawancara akhir.
Pekerjaan Rumah
Menurut Agustina, Sekda baru tidak akan punya banyak waktu buat adaptasi. Sebab, sederet pekerjaan rumah sudah menunggu di depan meja kerja. Mulai dari penanganan banjir dan genangan, pengawalan MTQ tingkat nasional, integrasi layanan digital Semarang Dalam Genggaman, sampai penurunan angka stunting, kemiskinan, dan anak putus sekolah.
“Kita punya PR besar. Akan ada MTQ dan tuan rumahnya Kota Semarang. Tantangan pertama bagaimana caranya Simpang Lima ini tidak banj solidasikan birokrasi agar pelayanan publik makin cepat dan profesional. “Tancap gas, Pak. Pastikan pegawai fokus kerja melayani warga,” tandasnya.
Baca juga: Pemkot Perketat Pengawasan Jalur Silayur
Sebelum hijrah ke Semarang, Handi Priyanto diketahui berkarier cukup lama di Pemerintah Kota Malang dan terakhir menjabat Kepala Badan Pendapatan Daerah Kota Malang.
Pengalaman itu diharapkan bisa jadi modal buat mempercepat transformasi birokrasi di Kota Semarang. Kini publik tinggal menunggu: setelah seleksi panjang dan nilai tertinggi diumumkan, apakah banjir Semarang juga siap ikut “diseleksi keluar” dari daftar masalah tahunan? (tebe)

