BACAAJA, JAKARTA – Ucapan Presiden Prabowo Subianto kembali bikin jagat politik dan media sosial ramai. Kali ini bukan soal kabinet atau program baru, melainkan pernyataannya tentang nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS. Dalam sebuah pidato di Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo sempat mengatakan masyarakat desa tak perlu terlalu khawatir soal dollar karena warga desa tidak memakai mata uang tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kalimat itu langsung menyebar cepat di berbagai platform dan memancing banyak reaksi. Ada yang menganggap ucapan itu sekadar candaan untuk mencairkan suasana, ada pula yang menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi yang sebenarnya cukup serius.
Saat itu, nilai tukar rupiah memang sedang tertekan dan menembus angka Rp17.500 per dollar AS. Angka tersebut memunculkan kekhawatiran di banyak sektor karena berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, bahan bakar, hingga biaya produksi industri.
Dalam pidatonya saat peluncuran gerai Koperasi Merah Putih di Nganjuk, Prabowo mencoba menenangkan publik. Ia bahkan sempat menyebut selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum, masyarakat tidak perlu terlalu cemas dengan kondisi rupiah saat ini.
Namun potongan ucapan “di desa-desa tidak pakai dollar” justru menjadi bagian yang paling ramai dibahas publik. Banyak orang menganggap kalimat itu unik, sementara sebagian lain langsung mempertanyakan logikanya karena dampak dollar sebenarnya bisa terasa sampai ke desa meski masyarakat tidak bertransaksi langsung memakai mata uang asing.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, termasuk salah satu yang memberikan kritik terhadap pernyataan tersebut. Menurutnya, ucapan itu mungkin bertujuan menenangkan psikologi publik agar tidak panik berlebihan terhadap pelemahan rupiah.
Meski begitu, ia menilai ketenangan masyarakat tidak bisa dibangun dengan penyederhanaan masalah ekonomi yang terlalu jauh. Sebab dalam kenyataannya, warga desa tetap terhubung dengan sistem ekonomi nasional yang sangat dipengaruhi kurs dollar.
Syafruddin menjelaskan, masyarakat desa memang tidak membeli cabai atau pupuk memakai dollar. Namun barang-barang yang mereka gunakan sehari-hari tetap terhubung dengan rantai distribusi dan impor yang bergantung pada nilai tukar mata uang asing.
Ketika rupiah melemah, biaya impor migas ikut naik. Harga pupuk, pestisida, pakan ternak, alat pertanian, hingga barang konsumsi yang memakai bahan baku impor juga bisa ikut terdorong naik. Efeknya memang tidak langsung terasa dalam bentuk dollar di tangan warga, tetapi muncul lewat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, dampak itu bergerak perlahan melalui rantai distribusi panjang. Dari pelabuhan ke gudang, distributor, truk pengangkut, kios pertanian, hingga akhirnya sampai ke rumah tangga desa. Jadi meski tidak pernah memegang dollar, warga desa tetap bisa terkena efek dari naik turunnya mata uang AS tersebut.
Pernyataan Prabowo sendiri sebenarnya bukan pertama kali memancing perhatian publik. Dalam berbagai kesempatan pidato, Ketua Umum Partai Gerindra itu memang dikenal sering memakai gaya bicara spontan, lugas, dan kadang diselipi kalimat yang memancing perdebatan.
Di kesempatan lain saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Prabowo juga sempat berbicara soal konsep “Indonesia Incorporated”. Menurutnya, Indonesia seharusnya berjalan seperti negara kekeluargaan di mana seluruh rakyat merasa menjadi bagian dari satu korporasi besar yang sama-sama menjaga aset negara.
Prabowo menyebut rakyat Indonesia adalah pemegang saham dari seluruh kekayaan bangsa ini. Karena itu, para pemimpin menurutnya harus memperjuangkan hak rakyat atas kekayaan negara, bukan malah bekerja sama mengambil keuntungan untuk kelompok tertentu.
Ucapan itu mendapat respons beragam. Sebagian orang menilai konsep “negara kekeluargaan” terdengar menarik dan dekat dengan budaya gotong royong Indonesia. Tapi ada juga yang mempertanyakan bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam praktik ekonomi dan pemerintahan modern yang penuh persaingan global.
Di media sosial, potongan pidato Prabowo soal desa dan dollar langsung berubah jadi bahan meme, candaan, hingga debat serius. Ada yang membela dengan mengatakan konteks pidatonya untuk menenangkan masyarakat agar tidak panik. Namun ada juga yang menilai pemimpin seharusnya lebih hati-hati saat berbicara soal ekonomi karena dampaknya bisa memengaruhi persepsi publik.
Beberapa netizen bahkan membuat guyonan bahwa warga desa memang tidak memakai dollar, tapi tetap membeli pupuk, BBM, dan kebutuhan lain dengan harga yang ikut naik saat rupiah melemah. Candaan seperti ini cepat menyebar karena dianggap menggambarkan realita yang dirasakan masyarakat.
Di tengah pro dan kontra tersebut, satu hal yang terlihat jelas adalah isu nilai tukar rupiah kini makin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dulu pembahasan kurs dollar mungkin terasa jauh dan hanya milik kalangan ekonomi. Sekarang, warga biasa pun mulai sadar bahwa pelemahan rupiah bisa berdampak sampai ke harga kebutuhan dapur.
Situasi ini membuat setiap ucapan pejabat soal ekonomi lebih mudah jadi sorotan publik. Apalagi di era media sosial, satu potongan video pidato bisa langsung menyebar ke mana-mana dan memunculkan berbagai tafsir hanya dalam hitungan menit.
Meski menuai kritik, gaya komunikasi Prabowo yang spontan memang sering membuat pidatonya cepat viral. Kadang menuai pujian karena dianggap apa adanya, kadang juga memicu kontroversi karena dinilai terlalu sederhana membahas isu yang kompleks.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh tekanan, masyarakat tentu berharap pemerintah bukan cuma mampu menenangkan situasi, tetapi juga menghadirkan kebijakan yang benar-benar terasa dampaknya bagi kehidupan sehari-hari. Sebab bagi banyak orang, naik turunnya dollar pada akhirnya tetap akan berhubungan dengan satu hal yang paling nyata: harga kebutuhan hidup yang terus bergerak. (*)

