BACAAJA, SEMARANG – Kakek Prabowo Subianto, Margono Djojohadikusumo, disandingkan dengan ulama besar KH Sholeh Darat, dalam pengusulan keduanya menjadi Pahlawan Nasional.
Margono Djojohadikusumo merupakan kakek Presiden Prabowo dari jalur ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo.
Sementara, KH Sholeh Darat adalah ulama besar Nusantara yang menjadi salah satu penyebar Islam di Pulau Jawa. Mbah Sholeh disebut sebagai guru dari sejumlah Pahlawan Nasional.
Bacaaja: Sah! Prabowo Tetapkan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
KH Sholeh disebutkan menjadi guru dari RA Kartini, KH Hasyim Asyari sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan juga KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah.
Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah, Imam Maskur, mengatakan kedua nama tersebut telah melalui kajian di tingkat provinsi. Tim yang mengkaji Margono dibentuk oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
“Ya tahun ini ada dua nama yang diusulkan sebagai pahlawan nasional yaitu Kiai Sholeh Darat dan Margono Djojohadikusumo, mbahnya Pak Prabowo,” kata Imam, Senin (17/8/2026).
Menurut Imam, hasil kajian menyimpulkan Margono memenuhi persyaratan untuk diajukan ke pemerintah pusat. Dari sisi administrasi, dua calon tersebut juga dinyatakan memenuhi ketentuan.
“Pengkajian dari daerah lalu kami usulkan ke pusat,” ujarnya.
Pengajuan calon Pahlawan Nasional merupakan agenda tahunan yang biasanya dilakukan menjelang Hari Pahlawan pada 10 November. Setelah melewati proses di tingkat daerah, usulan Margono kini masih dalam tahapan di pemerintah pusat.
Bacaaja: Kiai Sholeh Darat Guru RA Kartini Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Namun, ada satu persoalan yang cukup menarik perhatian. Imam menyebut pihak keluarga Presiden belum berkenan mengajukan Margono sebagai Pahlawan Nasional.
“Keluarga Presiden, belum mau diajukan,” ungkapnya.
Meski begitu, Pemprov Jateng tetap meneruskan proses pengusulan karena secara administratif Margono dinilai telah memenuhi persyaratan.
Sosok Margono
Margono Djojohadikusumo lahir di Purwokerto pada 16 Mei 1894. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perbankan Indonesia sekaligus pendiri Bank Negara Indonesia (BNI).
Margono merupakan putra seorang asisten Wedana Banyumas dan tercatat sebagai cucu buyut Raden Tumenggung Banyakwide, tokoh yang dikenal sebagai pengikut Pangeran Diponegoro.
Jejaknya tidak hanya berada di sektor perbankan. Pada masa awal kemerdekaan, Margono dipercaya menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) pertama. Dari posisi tersebut, ia mengusulkan pembentukan bank sentral atau bank sirkulasi sebagaimana amanat UUD 1945.
Pada 16 September 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memberikan mandat kepada Margono untuk mempersiapkan pembentukan bank tersebut.
Upaya itu kemudian berlanjut hingga pemerintah menerbitkan Perppu Nomor 2 Tahun 1946 tentang pendirian Bank Negara Indonesia pada 15 Juli 1946. Dalam keputusan tersebut, Margono ditunjuk sebagai Direktur Utama BNI.
Margono juga merupakan ayah ekonom kenamaan Indonesia, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, sekaligus kakek Presiden Prabowo Subianto. Dua putranya yang lain, Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna Soejono Djojohadikoesoemo, gugur dalam Pertempuran Lengkong.
Dengan rekam jejak tersebut, Pemprov Jawa Tengah menilai Margono layak masuk proses pengusulan Pahlawan Nasional.
Jejak KH Sholeh Darat
Lahir di Jepara pada tahun 1820, KH Sholeh Darat sejak kecil sudah dikenal sebagai pencari ilmu sejati. Ia belajar dari sejumlah ulama besar di Jawa, termasuk K. Ishak Damaran Semarang dan K. Raden Haji Muhammad Salih bin Asnawi Kudus. Selain itu, ia juga berguru pada KH M Sahid, cucu dari Syaikh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama besar dari Kajen, Pati.
Tak hanya belajar di tanah air, KH Sholeh Darat juga menimba ilmu di Makkah. Di sana, ia berguru kepada Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasullah Al Makki, Syekh Umar Al Sami, dan Syekh Muhammad Al Mishri Al Makki. Keilmuannya meliputi fiqih, tauhid, hadist, gramatika Arab, tafsir Al-Qur’an, nahwu sharaf, falaq, dan tasawuf. Berkat kapasitasnya, KH Sholeh Darat mendapatkan izin mengajar di Makkah.
Usai pulang dari Makkah, KH Sholeh Darat mengabdikan diri pada dakwah Islam. Ia mendirikan pesantren di Darat, Semarang, dan fokus pada pendidikan masyarakat yang kala itu masih minim pemahaman agama. Dengan pendekatan yang akomodatif terhadap budaya Jawa, KH Sholeh Darat menerjemahkan berbagai kitab ke dalam bahasa Jawa.
Salah satu karya monumental yang ia hasilkan adalah terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon, diberi nama Faidhur Rohman. Kitab ini tercatat sebagai Al-Qur’an pertama di dunia yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. Selain itu, ia juga menulis Syarah Al Hikam, terjemah Matan Al-Hikam, dan Sabilu al-‘abid sebagai panduan tasawuf dalam bahasa Jawa.
KH Sholeh Darat adalah sosok guru yang menghasilkan murid-murid cemerlang. Dua muridnya yang sangat dikenal adalah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. KH Hasyim Asy’ari kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, sementara KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Kedua organisasi tersebut kini menjadi pilar Islam terbesar di Indonesia. (*)

