Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Redaktur Opini
Last updated: Januari 12, 2026 7:53 am
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Muhammad Fiam Setyawan adalah pemerhati isu lingkungan. Tinggal di Laweyan, Surakarta.

Dunia yang ideal bukanlah dunia tanpa kemiskinan, tapi dunia di mana setiap manusia sadar akan martabatnya dan menolak menyerah pada nasib.

 

Kemiskinan bukan hanya tentang kegagalan mencukupi kebutuhan, tetapi tentang kehilangan rasa berdaya. Ia bukan sekadar ketimpangan ekonomi, melainkan cermin dari cara manusia memahami dirinya dan Tuhannya. Di negeri yang kaya sumber daya, kemiskinan tetap mudah dijumpai sehari-hari.

Banyak orang bekerja keras, tapi tak juga sejahtera. Ada yang menabung doa setiap malam, tapi tetap terikat pada nasib yang sama. Di titik itu, muncul pertanyaan yang menggugah: apakah kemiskinan hanyalah takdir yang harus diterima, atau tanda bahwa kesadaran manusia sedang tertidur?

Pertanyaan seperti ini pernah diajukan oleh Muhammad Iqbal (1877–1938), seorang penyair, filsuf, sekaligus pejuang spiritual asal Pakistan. Ia dikenal sebagai tokoh besar yang menghidupkan kembali kesadaran Islam modern. Melalui karya-karya seperti The Reconstruction of Religious Thought in Islam dan Asrar-i Khudi, Iqbal menyeru umat Islam untuk bangkit dari kepasrahan. Bagi Iqbal, umat yang hanya berdoa tanpa berpikir, atau bekerja tanpa makna, sejatinya telah kehilangan semangat hidupnya.

Ia tidak menolak doa, tapi menolak doa yang mati, yaitu doa yang tidak memantik gerak. Iqbal ingin iman menjadi energi, bukan pelarian. Ia percaya bahwa kemiskinan tidak akan pernah terhapus hanya dengan belas kasihan, tetapi dengan revolusi kesadaran diri, yakni kesadaran bahwa setiap manusia memiliki potensi ilahiah yang bisa mengubah dunia.

Bagi Iqbal, kemiskinan sejatinya bermula dari krisis kesadaran. Ia menolak pandangan bahwa manusia hanyalah makhluk pasif yang menunggu takdir. Dalam pandangan Iqbal, Tuhan menciptakan manusia bukan hanya untuk menerima dunia, tetapi untuk mengolahnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kemiskinan tidak bisa dilihat semata sebagai masalah ekonomi, tetapi sebagai akibat dari hilangnya kesadaran eksistensial manusia. Ketika manusia tidak lagi percaya bahwa dirinya memiliki daya, maka seluruh usaha menjadi sia-sia. Ia berhenti mencipta, berhenti berharap, dan hidup hanya untuk bertahan.

Konsep utama dalam pemikiran Iqbal adalah khudi, yaitu kesadaran diri atau ego spiritual. Khudi bukan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa dalam diri manusia ada percikan ilahi, potensi yang memungkinkan manusia berbuat dan mencipta. Bukan untuk menyaingi Tuhan, tapi menjadi wakil-wakil Tuhan untuk menjaga bumi.

Bagi Iqbal, manusia yang kehilangan khudi seperti cermin yang berdebu: ia masih memantulkan cahaya, tapi tak lagi jernih. Ia hidup tanpa arah, hanya mengikuti arus dunia. Dalam konteks sosial, manusia seperti ini mudah menyerah pada kemiskinan dan ketidakadilan. Ia menyalahkan keadaan, tapi enggan bergerak.

Iqbal juga mengkritik cara berpikir keagamaan yang menumpulkan semangat hidup. Agama, katanya, seharusnya membebaskan manusia dari ketakutan, bukan membuatnya pasrah. Ketika agama hanya mengajarkan kesabaran tanpa perjuangan, maka ia kehilangan roh spiritualnya.

Dengan demikian, melawan kemiskinan berarti membangkitkan kembali kesadaran khudi dalam diri manusia. Ia harus memahami bahwa setiap individu punya tanggung jawab terhadap sejarahnya. Manusia bukan hanya objek takdir, tetapi subjek yang ikut menentukan arah dunia.

Dalam konteks Indonesia, gagasan ini terasa relevan. Banyak orang miskin bukan karena malas, tapi karena sistem sosial yang menindas, dan yang lebih utama karena mereka tidak lagi percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari diri sendiri. Iqbal mengingatkan, kesadaran adalah bentuk pertama dari kemerdekaan. Seseorang bisa miskin secara ekonomi, tetapi tidak boleh miskin secara jiwa.

Konsep insan kamil (manusia sempurna) merupakan inti spiritual dari pemikiran Iqbal. Ia bukan sekadar gambaran mistik tentang manusia suci, tetapi model eksistensial tentang manusia yang sadar penuh akan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di bumi.

Bagi Iqbal, insan kamil adalah manusia yang telah melalui proses panjang revolusi diri. Ia bukan lahir dari kesempurnaan, tapi dari perjuangan melawan kelemahan. Manusia semacam ini tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi menjadikan kehidupannya sebagai ladang makna bagi sesama.

Iqbal menekankan bahwa insan kamil bukanlah sosok yang melarikan diri dari dunia, melainkan yang hadir penuh di dalamnya. Ia tidak menolak dunia materi, tetapi menguasainya dengan kesadaran spiritual. Dunia ini bukan musuhmu, tetapi ladang bagi pertumbuhan jiwamu.

Dalam konteks kemiskinan, insan kamil adalah manusia yang tidak hanya menuntut perubahan, tetapi menjadi perubahan itu sendiri. Ia memahami bahwa menolong sesama bukan hanya kewajiban moral, melainkan bentuk pengabdian pada Tuhan. Iqbal percaya bahwa kerja sosial adalah bentuk tertinggi dari ibadah. Manusia yang berjuang untuk keadilan sosial sejatinya sedang menjalankan misi spiritualnya.

Pemikiran Iqbal ini terasa menohok bagi masyarakat modern yang sering memisahkan agama dari tindakan sosial. Kita terlalu sibuk membangun rumah ibadah, tapi abai membangun manusia. Terlalu sibuk berdoa minta rezeki, tapi lupa menanam benih kerja keras. Dalam dunia yang demikian, gagasan Iqbal hadir sebagai kritik sekaligus ajakan untuk berpikir ulang tentang makna iman dan kemanusiaan.

Insan kamil mengajarkan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti di masjid, tetapi bergerak di pasar, di sekolah, di jalan, di ruang publik—tempat manusia berinteraksi dan menciptakan nilai. Seorang insan kamil berani menantang struktur yang tidak adil, tetapi tetap rendah hati karena tahu bahwa kekuatannya bersumber dari Tuhan.

Bagi Iqbal, kemiskinan adalah panggilan untuk menemukan kembali kekuatan diri. Revolusi sosial sejati hanya mungkin lahir dari revolusi batin. Ketika manusia mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya. Dan ketika ia mengenal Tuhannya, ia menemukan keberanian untuk mengubah dunia.

Bagi Iqbal, menjadi insan kamil berarti menjadikan hidup sebagai karya spiritual. Ia mengubah penderitaan menjadi tenaga, doa menjadi tindakan, dan cinta menjadi keadilan. Dunia yang ideal bukanlah dunia tanpa kemiskinan, tapi dunia di mana setiap manusia sadar akan martabatnya dan menolak menyerah pada nasib.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

BoP Kesalahan Paling Epik Prabowo

Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Dalang di Balik Perpecahan PPP dan Bayangan Jokowi

Eksistensi Sedekah Bumi di Tengah Hegemoni Budaya Industri

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan
Next Article Ilustrasi jemaah sedang melalukan ritual ibadah haji di Masjidil Haram. Prabowo Maunya Petugas Haji Mayoritas Dikasih ke TNI-Polri Saja

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Undip Kenalkan Kopi Tawangmangu ke Dunia

KPK Kulik Aktivitas Fadia Arafiq Saat Menjabat

Bayar Sampah di Semarang Sekarang Nggak Tunai Lagi

Waisak Belum Mulai, Borobudur Sudah Full Booking

Ibu-Ibu Pegang Pisau Kurban, Ternyata Hukumnya Bikin Banyak Kaget

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Soros dan Antek-Antek Asing

April 23, 2026
Opini

Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah

Maret 30, 2026
Opini

Transisi Energi atau Transisi Bencana?

Januari 7, 2026
Opini

Valuasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Jalan Tengah Pembangunan Banjarnegara Maju 2025

September 9, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?