Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.
Warna kanan trumpisme Amerika sangat kental di rezim penguasa Indonesia saat ini.
Viktor Orban, simbol kekuatan ekstrem kanan di Eropa, akhirnya jatuh. Perdana Menteri Hungaria itu kalah pemilu. Ia kalah dari Peter Magyar, bekas loyalisnya yang kemudian menjadi oposisi.
Orban adalah anak kesayangan politisi-politisi konservatif Amerika Serikat (AS). Donald Trump dumb dumb menjadi pendukung kuatnya. Wapres AS, ames David Vance, another Trump dumb dumb bahkan ke Hungaria dan berkampanye untuk Orban. Itu dilakukannya sebelum ke Pakistan dan berunding dengan Iran, yang hasilnya nol besar. Simbol kekuatan ekstrem kanan Eropa, yang anti imigran, ini akhirnya jatuh. Sekalipun sudah mendapat dukungan asing sepenuhnya!
Mungkin Anda tidak tahu siapa Viktor Orban dan apa relevansinya untuk Indonesia. Seperti yang saya sebutkan di atas, dia adalah PM Hungaria. Salah satu kebijakannya yang terkenal adalah anti-Soros, pendiri filantropi Open Society Foundation. Dia menutup universitasnya George Soros, The Central European University, yang ada di Budapest.
Uniknya lagi, studinya si Orban dulu juga diberi beasiswa oleh Soros. Untuk politisi macam Orban, seperti banyak politisi lain di dunia, membuat musuh bersama itu lebih menguntungkan ketimbang membuat kesejahteraan bersama. Musuh bersama itu lebih murah dan mudah dibuat serta lebih mampu mengalihkan perhatian.
Ini tidak diterapkan di Hungaria saja. Juga di Amerika. Rezim Trump dan kaum konservatif kanan menjadikan Soros sebagai samsak (punching bag) yang gampang dipukul. Dia Yahudi. Dia kaya raya. Filantropinya membiayai politik progresif dan masyarakat terbuka.
Di Indonesia, dosa Soros masih diingat orang. Dialah yang menghancurkan rupiah dan baht pada saat krisis ekonomi 1997. Dia meramalkan dua mata uang ini akan jatuh dan kemudian menjadikannya bahan spekulasi. Milyaran dolar hilang waktu itu. Hasilnya? Rezim Soeharto jatuh.
Soros adalah seorang ahli matematika. Selain itu, dia juga belajar filsafat di bawah Karl Popper. Filsafat itulah yang membuatnya berpikir bahwa kemajuan umat manusia hanya bisa tercapai dengan adanya masyarakat terbuka—yang bebas mengungkapkan ide-idenya. Bebas bicara. Punya ruang terbuka untuk mengadu gagasan. Dan semua pihak bisa bersuara dan yang berkuasa mendengarkan. Apa artinya itu? Silahkan tafsirkan sendiri. Namun, bukan prinsip itu yang membuat Soros dibenci banyak penguasa. Karena jika prinsip berhenti pada prinsip saja, tidak akan berarti apa-apa.
Soros, dengan kekayaannya, mendirikan filantropi untuk membangun masyarakat terbuka ini. Di situlah masalahnya. Secara natural, dia membiayai banyak gerakan progresif karena kaum ekstrem kanan, para otokrat, diktator, dan para pemimpin otoriter tidak suka masyarakat terbuka.
Soros memberi donasi untuk gerakan perempuan, gerakan LGBTQ, kaum muda, gerakan-gerakan emansipatif, pendeknya semua gerakan yang mendorong kaum marjinal supaya bisa berpartisipasi dan punya kekuatan. Itulah masyarakat terbuka.
Di negeri kita, gelombang anti-Soros pun sedang naik akhir-akhir ini. Teriakan “hai … antek-antek asing!” itu mengarah ke sana. Bahkan kemarin saya melihat staf kantor presiden membuat video yang merujak NGO-NGO (Non-Governmental Organization) yang menerima bantuan asing itu. Staf yang sama membuat pembenaran mengapa bosnya ikut Board of Peace (BoP). Bahkan bikin singkatan baru Board of Prabowo.
Hanya saja, kelihatan argumennya kedodoran karena dia tidak bisa membedakan begitu banyak aktor pendana gerakan emansipasi di dunia ini. Ingat, Soros hanya salah satunya! Namun, satu hal yang jelas dari semua lini argumen yang dikemukakan oleh orang-orangnya rezim penguasa di Indonesia ini. Mereka semua membeo pada argumen rezim Trump di Amerika Serikat. Untuk saya, yang belajar sedikit banyak politik Amerika, warna kanan trumpisme Amerika sangat kental di rezim penguasa Indonesia saat ini.
Satu hal juga sama persis adalah bahwa rezim-rezim ini adalah ‘the master of complainer‘ alias tukang mengeluh nomor satu. “Kita bangsa yang besar, yang dikibuli sehingga miskin terus!” … itu kalau di sini. “Make America Great Again” … itu kalau di sono. Namun, di sisi yang lain juga sangat bombastik. Di sini: “Kita buka 2,6 juta hektar food estate! 10 juta hektar sawit! 82 juta anak Indonesia makan MBG! 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih! 500 batalyon teritorial pembangunan yang bertani, beternak, piara ikan! 250 batalyon tempur baru!”
Di sono: Saya bisa selesaikan perang Ukraina-Rusia dalam 24 jam! Bensin akan murah! Semua negara akan datang ke kita dan nyembah-nyembah minta penurunan tarif…. Dan, terakhir, satu lagi yang sama: kedua-duanya sangat tidak kompeten mengerjakan apa pun! Di sono, negaranya terjebak dalam perang tak perlu. Di sini, negaranya terancam bangkrut karena program-program yang tidak perlu.
Yang salah siapa? Ya, Soros! Antek-antek asing! Sejak kecil kita belajar bahwa tanda dari ketidakmampuan adalah dengan menyalahkan orang lain.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

