Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ketika Manusia Dipandang Sebatas Angka
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ketika Manusia Dipandang Sebatas Angka

Redaktur Opini
Last updated: Maret 4, 2026 4:52 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N adalah mahasiswa UIN Walisongo jurusan Al-Qur’an dan Tafsir.

Ini cerita tentang bagaimana manusia dikurung oleh angka yang dia sendiri ciptakan.

 

Pernahkah kamu merasa keberadaanmu hanya dihitung dari angka, bukan dari siapa kamu tapi dari berapa nominal yang dihasilkan?

Di balik semua angka-angka itu—gaji, jabatan, dan omzet, tersembunyi realitas yang lebih pahit. Kita semua, mau tidak mau, sudah direduksi jadi angka dalam sistem yang cuma menguntungkan segelintir orang. Bukan lagi soal siapa kita atau apa yang kita perjuangkan, tapi berapa yang bisa kita hasilkan. Ini cerita tentang bagaimana manusia dikurung oleh angka yang dia sendiri ciptakan.

Kita diajarkan sejak kecil bahwasanya manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang bergantung kepada makhluk lain. Bukan makhluk yang menyendiri (individualis). Di era industri saat ini, manusia sangat sedikit dan jarang sekali memikirkan saudaranya, karena kebutuhan pribadinya saja jauh dari kata cukup. Memikirkan orang lain ujung-ujungnya malah disebut melakukan hal bodoh.

Tapi tunggu dulu, ini bukan salah manusianya yang tiba-tiba jadi egois. Individualisme antar manusia lahir dari sistem yang tamak. Sistem itulah yang mengendalikan modal dan upah. Sistem yang bikin kita semua harus survival mode terus-terusan.

Perusahaan besar memiliki uang yang banyak yang berasal dari laba keuntungan penjualan. Keuntungan yang berlimpah ruah sebaliknya hanya dirasakan oleh owner-nya saja. Sebaliknya, karyawan hanyalah budak korporat dengan gaji murah.

Bayangkan jika untung bersih sebulan 1 triliun, sementara pekerja di lapangan terima gaji 3-4 juta. Bahkan ada yang di bawah itu. Lalu muncul pertanyaan: jika negara ikut mengatur upah, mengapa yang diatur cuma batas bawah, bukan keadilan? Sebab dengan untung 1 T, membayar pekerja layak pasti sanggup. Tapi kenyataannya, keuntungan sebanyak itu dinikmati sendiri. Yang lain? Cuma bisa lihat dari jauh.

Dalam sebulan, owner bisa menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Sementara pekerjanya justru bernasib sebaliknya, berpikir keras apakah anaknya besok bisa sekolah. Satu pilih kampus, satu pilih antara beli buku atau beli beras. Lalu bagaimana nasib mereka yang setengah hidupnya dihabiskan di perusahaan itu?

Ini yang disebut manusia angka yang terkurung oleh angka. Sistem yang bobrok yang harus diperbaiki. Negeri ini kaya raya, tapi yang menikmati hanya itu-itu saja. Segelintir orang makin kaya dan nyaman, sementara ruang hidup jutaan rakyat hancur tanpa sisa. Bukan tanpa perlawanan, tapi suara perlawanan itu sengaja dibungkam. Dibungkam oleh perusahaan, dibungkam oleh sejawat yang bersekutu melanggengkan kekuasaan.

Bukti konkretnya? Lihatlah di Morowali tepatnya Sulawesi Tenggara, pertambangan nikel dicecarkan seakan membuka lapangan pekerjaan. Namun, sejatinya itu hanya penghancuran terhadap pengharapan. Kehidupan nelayan justru semakin sulit. Akibat pertambangan itu banjir datang. Belum lagi ancaman kesehatan gara-gara keserakahan tambang.

Fakta dari Morowali menunjukkan, terdapat banyak limbah nikel dibuang ke laut tiap produksi. Hasilnya pun bisa ditebak, tangkapan nelayan anjlok, bahkan penyakit aneh pun muncul. Semua terjadi demi kepentingan sepihak yang dipaksakan sebagai kepentingan bersama. Manusia angka diperbudak oleh angka pada akhirnya.

Kita cuma angka: nomor induk, nomor rekening, nominal utang. Yang di atas menghitung untung, yang di bawah menghitung agar bisa bertahan. Ketika hari Senin tiba, kita berduyun-duyun masuk pabrik dan kantor. Bukan karena cinta pekerjaan, tapi karena angka-angka di rumah sudah menunggu untuk dibayar.

Mungkin kita lupa kapan terakhir kali ditanya “apa kabar?” Tanpa dimaksud “apa kabar pekerjaanmu?” Sebab hari ini, “siapa dirimu” sudah tergantikan oleh “apa pekerjaanmu dan berapa gajimu.”(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Banjir Pesisir dan Dinding Raksasa yang Belum Menjawab

Mencari “Pangku” di Kamus-Kamus Lama

Banjir yang Naik Kelas: Alarm Keras untuk Tata Ruang Kota Semarang

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Akademisi UGM menyampaikan sikap, kritisi arah kebijakan politik luar negeri Indonesia. Mulai dari Bop hingga ART atau perjanjiang dagang dengan AS. Akademisi UGM Sebut ART hingga BoP Berpotensi Gerus Kedaulatan Rakyat
Next Article BI Jateng Buka 251 Titik Tukar Uang Baru

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

EVAKUASI BARANG BUKTI - Polisi mengevakuasi sepeda motor N-Max yang mengalami kecelakaan menabrak truk yang sedang diparkir di pinggir jalan, di Jalan Arteri Yos Sudarso, kawasan Cipta, Bandarharjo, Semarang Utara, Rabu (3/6/2026). (dul)

Niat Menepi Buat Istirahat, Truk yang Dikemudikan Broto Jadi Sasaran Tabrak N-Max

PUTUSAN SELA--Majelis hakim membacakan putusan sela kasus TPPU terdakwa Gus Yazid di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (3/7/2026). (bae)

TPPU Korupsi BUMD Cilacap: Eksepsi Kandas, Gus Yazid Bersiap Hadapi Saksi dan Bukti Jaksa

LAYANI PELANGGAN--Pelanggan warteg melayani pembeli di Semarang, Rabu (3/7/2026). (bae)

Dolar Melesat Rupiah Ambruk, Pelanggan Warteg Mulai Tinggalkan Lauk Ayam

BERI KETERAGAN - Kepala Dinkes Semarang, Abdul hakam, memberi keterangan kepada sejumlah awak media. (dul)

Jangan Jauhi ODHIV, Dinkes Semarang: HIV Nggak Nular dari Salaman atau Makan Bareng

Jalur Prestasi Kini Punya Racikan Baru, TKA Ikut Menentukan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Mengapa Perdebatan di Media Sosial Mudah Berakhir Ejekan

Maret 12, 2026
Opini

Tragedi Kaca Transparan

Februari 11, 2026
Opini

Debat Publik dan Devaluasi Kepakaran

Maret 16, 2026
Opini

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Desember 15, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ketika Manusia Dipandang Sebatas Angka
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?