Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Megawati: “Kudatuli Bukan Debu Sejarah, Itu Luka Demokrasi yang Belum Selesai”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Politik

Megawati: “Kudatuli Bukan Debu Sejarah, Itu Luka Demokrasi yang Belum Selesai”

Tiga puluh tahun berlalu, tetapi luka Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli masih terasa bagi Megawati Soekarnoputri. Di hadapan publik, Presiden ke-5 RI itu mengingatkan bahwa Kudatuli bukan sekadar halaman sejarah yang boleh dilupakan.

T. Budianto
Last updated: Juli 22, 2026 9:52 am
By T. Budianto
3 Min Read
Share
PAMERAN SEJARAH: Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri membuka pameran sejarah dan arsip foto dalam memperingati 30 tahun peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli), di Ruang Museum Koleksi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Selasa (21/7/2026). (Foto: DPP PDIP)
SHARE

BACAAJA, JAKARTA- Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri kembali mengenang Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) sebagai salah satu babak paling kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Menurutnya, penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, bukan hanya tragedi politik, tetapi simbol ketidakadilan yang hingga kini masih membekas.

Hal itu disampaikan Megawati saat membuka pameran peringatan 30 tahun Kudatuli di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).

“Kudatuli itu adalah simbol. Simbol dari apa? Ketidakadilan. Tempatnya saja sah, saya didukung juga sah. Tapi kenapa karena saya yang menang lalu diperlakukan seperti itu?” ujar Megawati.

Baca juga: Megawati Soekarnoputri: “Congrats, Mojtaba Khamenei”

Ia mengaku hingga kini masih sulit memahami alasan di balik penyerbuan kantor partai yang saat itu dipimpinnya. Yang membuatnya semakin terpukul, menurut Megawati, aksi tersebut justru melibatkan aparat negara.

“Tempatnya diberikan negara, kantornya sah. Tapi kenapa diserang? Dan yang menyerang bukan dari luar, melainkan aparat kita sendiri,” katanya. Megawati juga mengenang tekanan yang dialaminya setelah peristiwa itu. Ia mengaku beberapa kali dipanggil aparat penegak hukum untuk menjalani pemeriksaan.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Megawati mempertanyakan apakah aparat negara akan terus digunakan sebagai alat kepentingan politik. “Apakah alat negara itu akan dijadikan terus-menerus seperti apa yang saya alami pada waktu Kudatuli?” ucapnya.

Dalam pidatonya, Megawati mengaku peristiwa tersebut meninggalkan luka batin yang mendalam. Namun, ia memilih tetap tegar menghadapi situasi saat itu. “Saya sedih, tapi saya enggak menangis. Buat saya menangis itu cengeng. Tapi di dalam hati, saya perih sekali,” ungkapnya.

Fenomena Buzzer

Tak hanya berbicara soal masa lalu, Megawati juga menyinggung fenomena buzzer yang marak melibatkan generasi muda. Menurutnya, anak muda seharusnya memanfaatkan kemampuan dan kreativitas untuk membangun bangsa, bukan menjatuhkan orang lain di ruang digital.

Ia pun mengajak generasi muda menanamkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia dan memiliki arah hidup yang jelas. “Masukkan ke dalam hati sanubari bahwa saya adalah orang Indonesia dan saya punya harga diri untuk menjadi orang Indonesia,” tuturnya.

Usai membuka pameran dengan pemotongan pita, Megawati menyusuri berbagai arsip, foto, dan dokumentasi sejarah yang menampilkan perjalanan demokrasi Indonesia, termasuk kronologi penyerbuan Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 serta berbagai momen perjuangan PDI Perjuangan.

Baca juga: Megawati: Pancasila Jangan Cuma Jadi Lirik Lagu

Peristiwa Kudatuli sendiri dikenang sebagai salah satu tragedi politik di penghujung era Orde Baru. Konflik bermula dari dualisme kepemimpinan PDI antara Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi setelah digelarnya Kongres Medan pada Juni 1996.

Sebulan kemudian, massa pendukung Soerjadi yang didukung aparat melakukan pengambilalihan kantor DPP PDI di Jakarta. Berdasarkan temuan Komnas HAM, peristiwa tersebut menyebabkan lima orang meninggal dunia, 149 orang luka-luka, 23 orang hilang, dan 136 orang ditahan.

Sejarah memang tidak bisa diulang, tetapi bisa saja dilupakan. Dan ketika ingatan mulai memudar, yang paling berbahaya bukan masa lalunya, melainkan kemungkinan kesalahan yang kembali menemukan jalannya. (tebe)

You Might Also Like

Tumpukan Sampah di Jalur Semarang-Purwodadi Dikeluhkan

Hari Jadi ke-479 Semarang, Kesenjangan Ekonomi Masih Mengintai

Sudewo Serang Haryanto dalam Kasus Korupsi Jual-Beli Jabatan: “Sebelumnya Kan Jelas”

Tuntut Upah Layak, KASBI Jateng: Buruh Lajang Minimal Rp9 Juta Per Bulan

Pimpin Kurvei Pasar Gedhe Solo, Respati Sorot Buruknya Manajemen Sampah

TAGGED:headlinekudatuliMegawati Soekarnoputriorde barupdip
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article PB Ismapeti Pilih Turun ke Panti Demi Gizi Tepat Sasaran
Next Article Pelayanan Serba Online, Sekda Jateng Ingatkan Bahaya Pembobolan Data

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat.

Disdikpora Wonosobo bakal Dipecah, Afif: 2027 Dispora Jadi OPD Sendiri

BARANG BUKTI: Barang bukti kasus judi togel dari 3 daerah yang diungkap tim Polda Jateng, dipamerkan saat konferensi pers, Selasa (20/10/2026). (ist)

Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Tiga Wilayah, Rp2,4 Miliar Diblokir

SIKAPI PERCERAIAN: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama pihak Pengadilan Agama Semarang menjalin kerja sama menyikapi kasus perceraian. (ist)

Tiap Tahun Ribuan Pasutri Cerai, Pemkot Semarang Pikirkan Nasib Janda dan Anaknya

Ilustrasi pengemudi ojek online (ojol).

Harapan Ojol Jateng di Tengah Rencana Revisi UU Lalu Lintas

Demo Memanas di Eropa, KBRI Diminta Siaga Lindungi WNI

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Program MBG Jateng Dipuji, Jadi Barometer Nasional

Agustus 5, 2025
Info

Salat Idulfitri Bersama Anak, Luthfi: Lebaran Itu Soal Hati, Bukan Sekadar Hari Raya

Maret 21, 2026
Ilustrasi personel TNI yang menjalankan tugas menjadi pasukan penjaga perdamaian PBB.
Unik

Militer Israel Serang Sesama Anggota BoP, Satu Personel TNI di Lebanon Gugur

Maret 30, 2026
Ilustrasi rekening bank.
Politik

Rekening Pejabat Makin Gendut! Presiden Teken Perpres Kenaikan Gaji Pejabat, ASN, dan TNI-Polri

September 20, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Megawati: “Kudatuli Bukan Debu Sejarah, Itu Luka Demokrasi yang Belum Selesai”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?