Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dari Indonesia ke Jepang: Cerita Sopir Bus Lulusan JIDS Meraih Masa Depan di Negeri Sakura
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Dari Indonesia ke Jepang: Cerita Sopir Bus Lulusan JIDS Meraih Masa Depan di Negeri Sakura

R. Izra
Last updated: Januari 8, 2026 8:39 am
By R. Izra
5 Min Read
Share
Dwi Harjanto saat masa adapatasi sebagai pengemudi bus profesional di Jepang.
Dwi Harjanto saat masa adapatasi sebagai pengemudi bus profesional di Jepang.
SHARE

BACAAJA, NAGOYA — Di balik kemudi sebuah bus di kota Nagoya, Jepang, ada cerita yang lebih besar dari sekadar setir dan jalan raya.

Cerita tentang seorang ayah asal Indonesia yang memilih pergi jauh demi masa depan anak-anaknya.

Namanya Dwi Harjanto, usia 41 tahun. Ia berasal dari Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), datang ke Jepang bukan untuk liburan atau mengejar mimpi glamor.

Alasannya sederhana, tapi berat: ingin menyekolahkan tiga anaknya sampai perguruan tinggi.

Bacaaja: JIDS Resmi Dibuka Nih, Jalur Cepat Buat Jadi Driver Profesional di Jepang
Bacaaja: Kolaborasai LPK Hiro-LPK Kamisora Cetak Sejarah Pemberangkatan Driver Bus Profesional ke Jepang

“Saya sayang keluarga saya. Di sini saya bisa memberi kehidupan yang lebih baik. Kalau hanya tinggal dan bekerja di Indonesia, itu cukup sulit,” ucap Dwi pelan, dikutip dari TV AnnNewsCH, belum lama ini.

Keputusan itu datang di usia yang tak lagi muda. Dwi sadar, peluang kerja di Jepang semakin kecil seiring bertambahnya umur.

Tapi ia melihat satu pintu yang masih terbuka: menjadi sopir bus. Batas usia maksimalnya 45 tahun. Artinya, waktu Dwi tak banyak.

“Saya 41 tahun. Kalau tidak sekarang, mungkin tidak ada kesempatan lagi,” katanya.

Dari JIDS menumbuhkan harapan masa depan

Dwi adalah lulusan program Japan Indonesia Driving School (JIDS) Karanganyar. JIDS berada di bawah naungan PT Hiro Sejahtera Bersama (LPK Hiro) dan berkolaborasi dengan LPK Kamisora Boyolali.

Fokusnya jelas: nyiapin driver profesional asal Indonesia buat langsung gas kerja di Jepang, terutama di sektor transportasi.

Direktur PT Hiro Sejahtera Bersama, Bowo Kristianto, menyatakan JIDS dibangun buat nyiapin pengemudi sejak nol sampai siap kerja di Jepang, bukan setengah-setengah.

Setelah lulus program JIDS, Dwi dan sejumlah orang lainnya diberangkatkan ke Jepang.

Hari itu, Dwi menjalani latihan mengemudi pertamanya di Jepang. Ya, sebelum dipekerjakan, Dwi harus kembali berlatih di Negeri Sakura itu.

Selama 30 menit, ia mengemudi tanpa penumpang, melewati rute yang sudah ditentukan. Setiap gerakan direkam kamera dari sudut pandangnya sendiri.

Selesai mengemudi, Dwi duduk menatap layar. Rekaman diputar ulang, dievaluasi detik demi detik. Beberapa titik jalan terasa sulit, tapi ia berhasil melewatinya dengan baik.

Bukan cuma soal teknis. Di balik itu, ada rasa gugup, harap, dan tanggung jawab yang ia bawa, tentang keluarga yang menunggu hasil dari keputusan besar ini.

Kerja sama dua negara yang saling menguntungkan

Dwi tidak berjuang sendiri. Bersamanya ada Seto dan Azzam, dua warga Indonesia lain yang juga menjadi sopir bus di perusahaan Meitetsu Bus. Mereka bertiga adalah sopir asing pertama di perusahaan tersebut.

Karena sama-sama pendatang, mereka saling menguatkan. Kadang soal pekerjaan, kadang sekadar saling mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian di negeri orang. Dukungan kecil itu penting, apalagi jauh dari rumah.

Di sisi lain, masuknya Dwi ke dunia kerja Jepang bukan kebetulan. Jepang sedang kekurangan tenaga kerja muda akibat menurunnya angka kelahiran dan penuaan penduduk.

Sementara Indonesia justru kelebihan tenaga usia produktif. Di satu sisi, Jepang butuh orang. Di sisi lain, orang-orang seperti Dwi butuh kesempatan.

Perbedaan penghasilan juga jadi kenyataan yang tak bisa diabaikan. Sopir bus di Jepang rata-rata memperoleh 4,61 juta yen per tahun, atau setara sekitar Rp500 juta.

Tentu, angka itu jauh di atas pendapatan sopur-sopir di Indonesia. Namun bagi Dwi, angka itu bukan soal gaya hidup mewah. Itu tentang biaya sekolah anak-anaknya.

Meski negaranya berbeda, banyak hal terasa familiar. Posisi kemudi sama, lalu lintas di kiri, warna lampu lalu lintas serupa. Mobil Jepang pun sudah lama jadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.

Adaptasi tetap butuh waktu, tapi tidak seseram yang dibayangkan.

Lebih dari sekadar sopir

Menurut Kenichi Hikawa, penanggung jawab kerja sama ini di Jepang, kerja sama ini akan terus berkembang. Jepang kekurangan anak muda di sektor transportasi, sementara Indonesia punya banyak tenaga kerja yang siap belajar.

Tapi bagi Dwi, semua analisis itu kembali ke satu hal: keluarga.

Di balik seragam sopir dan rutinitas baru di Jepang, ada seorang ayah yang menaruh harapan besar pada setiap kilometer yang ia tempuh.

Agar suatu hari nanti, anak-anaknya bisa duduk di bangku kuliah, dan hidup mereka tak perlu mengulang perjuangan yang sama.

Dari Tsushima, cerita Dwi jadi pengingat sederhana: kadang, keberanian terbesar bukan pergi jauh, tapi memilih berjuang demi orang-orang yang kita cintai.

Dan di JIDS ada banyak Dwi-Dwi lain yang sedang merajut harapan, menumbuhkan mimpi, untuk bisa segera berangkat ke Jepang. Mungkin kamu adalah salah satunya. (*)

You Might Also Like

OJK Jelaskan Nasib Peserta DPLK DPPK Jiwasraya Sekarang

Labfor Polda Jateng Turun Cari Penyebab Kebakaran Pasar Belik

Semarang Lagi Menata Masa Depan 850 Keluarga

Siswa SMPN 22 Surakarta Diajak Jadi Calon Entrepreneur

Truk Sumbu Tiga Dilarang Melintas Saat Mudik

TAGGED:driver profesionaldwi harjantoheadlinejepangjidslpk hirolpk kamisorasopir bus profesional
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Superflu Cuma Lewat Timeline, Jateng Masih Aman
Next Article Padi Jateng Diproyeksi Nanjak 5,5 Persen di 2026

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kemenkum Jateng Dorong Pelaku Usaha Tak Asal Pilih Merek

Mooncake Festival 2026 Hidupkan Kawasan Pecinan Semarang

Sekda Banyumas Mundur Usai Diperiksa KPK

ILUSTRASI KERACUNAN MBG: Anggota TNI dan Polri mengevakuasi salah satu siswa yang diduga keracunan MBG di SMA 2 Kudus, Kamis, (29/1/2026). (Foto: Ist)

Korban Keracunan MBG di Batang Terus Meningkat Capai 498 Orang, Masih Bisa Tambah Lagi

Kemarau Makin Seret, Polres Banjarnegara Kirim 25 Ribu Liter

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Dukungan Meluas, Bantuan Besar Mengalir dari Yayasan Yudhoyono untuk Pandanarum Bangkit

November 22, 2025
Daerah

Batik Pegon Difabel Kebumen Tembus Panggung Dunia

September 17, 2025
Info

Nawal Ajak Santri Nempel Terus Sama Alquran

Februari 2, 2026
BERIHKAN PANTAI--Mahasiswa FH Undip sedang membersihkan sampah di kawasan Pantai Mororejo, Jepara. (ist)
Info

Mahasiswa FH Undip Bersih-Bersih Pantai Mororejo Jepara

September 18, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dari Indonesia ke Jepang: Cerita Sopir Bus Lulusan JIDS Meraih Masa Depan di Negeri Sakura
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?