BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang terus bersiap menyambut pelaksanaan MTQ Nasional XXXI. Persiapan tidak hanya dilakukan di lokasi acara, tetapi juga melibatkan camat, lurah, hingga warga.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, persiapan venue dan sarana pendukung terus dilakukan. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Lapangan Pancasila, Simpang Lima.
Lapangan tersebut akan menjadi lokasi pembukaan dan penutupan MTQ Nasional XXXI. Saat ini, persiapannya disebut sudah mencapai sekitar 90 persen.
Baca juga: Kejari Bilang Serius Awasi Penggunaan Anggaran MTQ Nasional di Semarang
Pengecekan masih dilakukan untuk memastikan berbagai fasilitas siap digunakan. Mulai dari listrik, air, internet hingga kebersihan kawasan. “MTQ Nasional ini adalah hajatan kita bersama. Masyarakat Kota Semarang juga menjadi bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraannya,” kata Agustina.
MTQ Nasional XXXI akan berlangsung pada 11-20 September 2026. Berbagai rangkaian kegiatan akan digelar di sejumlah venue yang tersebar di Kota Semarang.
Tingkat Wilayah
Karena lokasi acara tersebar, persiapan juga dilakukan hingga tingkat wilayah. Camat dan lurah menggerakkan warga untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitar venue. Warga juga diminta ikut menyambut para kafilah dan tamu dari berbagai daerah yang datang ke Kota Semarang.
Salah satu persiapan yang dilakukan adalah gerakan bersih-bersih masjid. Kegiatan ini sudah dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada Mei lalu dengan melibatkan 177 masjid yang tersebar di seluruh kelurahan di Kota Semarang.
Baca juga: MTQ Nasional Bukan Sekadar Soal Lomba
Kegiatan bersih-bersih kemudian dilanjutkan pada akhir Agustus. Tahap kedua difokuskan pada kawasan di sekitar venue MTQ. Selain membersihkan lingkungan, warga juga ikut menata kawasan. Sejumlah wilayah memasang spanduk dan penjor sebagai bentuk sambutan bagi peserta dan tamu MTQ.
Kalau tamunya datang dari berbagai penjuru Indonesia, yang ikut tampil sebenarnya bukan cuma panitia. Wajah kampung, kebersihan jalan, sampai keramahan warga juga ikut “naik panggung”. Jadi, jangan sampai MTQ-nya nasional, tapi sampahnya masih lokal. (bae)

