BACAAJA – Data center membutuhkan banyak energi. Termasuk di antaranya menguras persediaan air dan listrik.
Di tengah ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI), banyak negara justru mulai mengerem pembangunan data center. Alasannya bukan karena anti-teknologi, melainkan khawatir fasilitas raksasa ini bakal menguras listrik, air, hingga membebani lingkungan.
Dilansir dari Reuters, Rabu (15/7/2026), sejumlah pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa sudah menerapkan moratorium, pembatasan, bahkan pelarangan pembangunan data center baru demi menjaga keseimbangan infrastruktur dan lingkungan.
Bacaaja: Daya Saing Indonesia di Pasar Global Nyungsep, Peringkat 58 dari 70 Negara
Bacaaja: Warga Amerika Ramai-ramai Tolak Pembangun Data Center AI, Ada Apa?
New York Jadi yang Pertama Ngerem
New York menjadi negara bagian pertama di Amerika Serikat yang memberlakukan moratorium penuh untuk pembangunan data center dengan kebutuhan listrik 50 megawatt (MW) atau lebih.
Gubernur Kathy Hochul menghentikan sementara penerbitan izin selama satu tahun. Waktu tersebut akan digunakan pemerintah untuk menyusun standar baru terkait dampak lingkungan sebelum proyek-proyek serupa kembali diizinkan.
Di Negara Bagian Maine, pemerintah sebenarnya juga sempat ingin menghentikan pembangunan data center besar selama 18 bulan.
Namun, Gubernur Janet Mills memveto aturan itu. Bukan karena menolak moratorium, tetapi karena aturan tersebut dinilai tidak memberi ruang bagi proyek tertentu yang sudah direncanakan di Town of Jay.
Warga California Bilang: No!
Kalau di Monterey Park, California, penolakannya datang langsung dari warga.
Lewat referendum pada Juni 2026, masyarakat memilih melarang pembangunan data center secara permanen. Keputusan ini menjadikan Monterey Park sebagai kota pertama di AS yang resmi menolak data center lewat pemungutan suara publik.
Amsterdam Sudah Lebih Dulu Rem
Di Eropa, Amsterdam sebenarnya sudah mulai membatasi pembangunan data center sejak 2019.
Kebijakan itu makin diperketat pada April 2025. Pemerintah kota melarang pembangunan data center baru maupun perluasan fasilitas yang sudah ada hingga setidaknya tahun 2030.
Pemerintah Belanda juga sudah melarang pembangunan hyperscale data center sejak 2022. Hanya dua lokasi yang diizinkan untuk proyek berskala sangat besar.
Meski begitu, Microsoft tetap mendapat lampu hijau pada awal 2026 karena membangun proyek dalam tiga bangunan terpisah yang ukurannya masih sesuai aturan.
Irlandia Ikut Pasang Rem
Irlandia juga pernah menghentikan sambungan listrik baru untuk data center di kawasan Dublin sejak 2021 karena jaringan listrik dinilai mulai kewalahan.
Aturan itu memang sudah dicabut pada akhir 2025. Tapi sekarang ada syarat baru: setiap data center yang dibangun wajib memiliki pembangkit listrik sendiri agar tidak membebani jaringan umum.
Kenapa Data Center Jadi Sorotan?
Semakin berkembangnya AI membuat kebutuhan data center ikut melonjak. Masalahnya, fasilitas ini membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar, konsumsi air yang tinggi untuk sistem pendingin, serta lahan yang luas.
Karena itu, banyak pemerintah kini mulai mencari titik tengah antara mendorong perkembangan teknologi dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Singkatnya, AI memang terus melaju. Tapi di berbagai negara, pembangunan “rumah” bagi AI justru mulai diperlambat agar dampaknya tidak lebih besar daripada manfaatnya. (*)

