BACAAJA, SEMARANG – Gelombang penolakan terhadap pembangunan data center pendukung kecerdasan buatan (AI) mulai ramai di Amerika Serikat. Warga kini makin khawatir soal dampak lingkungan yang ditimbulkan, mulai dari boros listrik sampai ancaman krisis air bersih.
Terbaru, warga Monterey Park, California, kompak memilih melarang pembangunan data center di wilayah mereka lewat referendum yang digelar Selasa (2/6/2026).
Hasilnya nggak main-main. Sekitar 86 persen suara mendukung pelarangan tersebut. Keputusan ini bikin Monterey Park jadi salah satu kota pertama di AS yang resmi mengesahkan referendum anti-data center.
Bacaaja: Krisis Memori Chip Diramal sampai 2030, Alamat Harga Gadget Makin Melambung
Bacaaja: Dari Gerobak ke Data Center: Perjalanan Yandi Hermawan, Pemulung yang Menyulap Nasib jadi CEO IT
Buat banyak warga, keberadaan data center dianggap lebih banyak bikin masalah daripada keuntungan. Soalnya, fasilitas penunjang AI itu membutuhkan listrik dan air dalam jumlah super besar buat menjaga ribuan server tetap hidup dan nggak overheat.
Belum lagi penggunaan generator diesel cadangan yang disebut bisa memicu polusi udara.
Wali Kota Monterey Park, Elizabeth Yang, bilang keputusan ini kemungkinan bakal jadi “efek domino” buat kota-kota lain di AS.
“Banyak kota lain yang kemungkinan akan mengikuti langkah ini. Pusat data punya reputasi buruk di banyak wilayah, terutama kalau dibangun dekat permukiman,” ujarnya dikutip dari Politico.
Pemerintah kota sendiri mengaku larangan itu dibuat buat melindungi kualitas udara, cadangan air minum, sampai mencegah tagihan listrik dan air warga makin mahal.
Awalnya, penolakan muncul setelah perusahaan asal Australia, DigiCo Infrastructure REIT, mengajukan proposal pembangunan data center di wilayah tersebut.
Warga langsung ramai-ramai protes karena takut konsumsi listrik dan air bakal melonjak drastis.
“Kami nggak ingin satu pun pusat data dibangun di wilayah kami,” kata relawan San Gabriel Valley Progressive Action, Amy J Wong.
Tekanan warga akhirnya bikin pemerintah kota memberlakukan moratorium dan memasukkan usulan pelarangan data center ke surat suara referendum.
Setelah gelombang penolakan makin besar, DigiCo akhirnya menarik proposal proyeknya.
Meski begitu, industri data center nggak tinggal diam. Pihak pelaku industri memperingatkan kalau larangan seperti ini bisa bikin investasi dan lapangan kerja kabur dari daerah tersebut.
Direktur Kebijakan Negara Bagian Data Center Coalition, Khara Boender, mengatakan kebijakan anti-data center bisa memberi kesan bahwa suatu wilayah menutup diri terhadap proyek ekonomi besar.
Fenomena penolakan data center ternyata nggak cuma terjadi di California.
Kelompok masyarakat di Ohio, Georgia, Maryland, sampai Utah juga mulai ramai mengkampanyekan pembatasan pembangunan data center seiring pesatnya perkembangan industri AI.
Bahkan, parlemen Negara Bagian New York disebut sedang mempertimbangkan moratorium satu tahun untuk pembangunan data center skala besar yang baru.
Buat aktivis lingkungan, kemenangan di Monterey Park dianggap jadi momentum penting buat memperluas gerakan penolakan data center di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Di tengah booming AI dunia, perang baru ternyata bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal listrik, air, dan lingkungan hidup. (*)

