BACAAJA, JAKARTA – Sentimen negatif terhadap Indonesia lagi ramai dibahas investor global. Bahkan, muncul seruan “Sell Indonesia” setelah rupiah terus melemah dan pasar saham dalam negeri ambruk dalam beberapa bulan terakhir.
Dilansir dari Bloomberg, kondisi pasar Indonesia sekarang disebut jadi salah satu yang paling terpukul di dunia tahun ini.
IHSG tercatat anjlok sekitar 37 persen hanya dalam lima bulan setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi. Sementara rupiah terus melemah dan bahkan sempat tembus level Rp18 ribu per dolar AS.
Buat banyak investor asing, kondisi ini mulai bikin alarm bahaya menyala.
Bacaaja: Asing Kabur Rp67 Triliun! IHSG Jadi Bursa Terburuk di Dunia, Sempat Rontok hingga 5 Persen
Bacaaja: Terburuk Sepanjang Sejarah! Rupiah Makin Lemah, Jebol Rp18.000 per Dolar AS
“Tren utama di Asia saat ini adalah ‘Sell Indonesia’,” kata George Boubouras dari K2 Asset Management yang mengelola dana sekitar US$ 4,3 miliar.
George bahkan mengaku sudah keluar total dari pasar Indonesia sejak 2024.
Kondisi ini dianggap cukup dramatis karena sebelumnya Indonesia dikenal sebagai salah satu ‘anak emas’ di pasar negara berkembang berkat kekayaan komoditas dan pertumbuhan ekonominya.
Tapi sekarang, kepercayaan investor mulai goyah. Salah satu penyebabnya disebut berasal dari arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai makin agresif dan penuh intervensi negara.
Mulai dari program makan gratis skala besar, perluasan peran negara dalam ekonomi, sampai pengelolaan dana lewat Danantara, semuanya ikut jadi sorotan investor global.
Belum lagi kebijakan pengambilalihan kontrol ekspor komoditas oleh pemerintah yang memicu aksi jual saham perusahaan eksportir.
Banyak investor juga menganggap mundurnya Sri Mulyani dari kursi Menteri Keuangan tahun lalu jadi titik balik penting.
Selama ini, Sri Mulyani dianggap sebagai sosok yang bikin pasar percaya kalau Indonesia bakal tetap disiplin menjaga keuangan negara.
Sekarang, sebagian investor mulai ragu apakah komitmen itu masih kuat.
Nggak cuma saham, pasar obligasi juga ikut kena imbas. Investor asing disebut sudah melepas obligasi pemerintah Indonesia senilai Rp86 triliun sejak Agustus tahun lalu.
Sementara rupiah sendiri jadi mata uang dengan performa terburuk di Asia tahun ini.
Kondisi global juga bikin tekanan makin berat. Konflik Timur Tengah dan harga minyak dunia yang tinggi dianggap memperburuk posisi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
Yang bikin makin bikin waswas, pasar opsi bahkan mulai memperkirakan peluang rupiah bisa tembus Rp19 ribu sampai Rp20 ribu per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan.
Meski begitu, nggak semua investor langsung pesimis total terhadap Indonesia.
Sebagian masih percaya prospek jangka panjang Indonesia tetap besar karena ekonomi masih tumbuh di atas 5 persen, utang negara relatif rendah, dan Indonesia punya posisi penting dalam rantai pasok global, terutama sebagai produsen nikel terbesar dunia.
Populasi muda yang besar juga dianggap jadi modal kuat buat pertumbuhan ekonomi domestik ke depan.
Tapi sekarang, pasar disebut lagi menunggu satu hal penting: kepastian. Mulai dari kepastian arah kebijakan ekonomi, transparansi pengelolaan dana negara, sampai independensi Bank Indonesia.
“Pemerintah butuh mengembalikan kepercayaan pasar. Kalau belum, strategi ‘jual Indonesia’ masih akan terus berlanjut,” ujar George. (*)

