BACAAJA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah makin bikin waswas. Pada Kamis (4/6/2026) pagi, rupiah resmi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Investing, kurs rupiah pada pukul 06.20 WIB berada di posisi Rp18.001 per dolar AS atau melemah sekitar 0,43 persen dibanding sebelumnya.
Hingga pukul 09.28 WIB, rupiah pun terus melemah ke level Rp 18.029 per dolar AS. Pada perdagangan intraday, ini adalah level terburuk rupiah sepanjang sejarah.
Kondisi ini langsung jadi perhatian pelaku pasar sampai netizen karena level Rp18 ribu dianggap jadi batas psikologis yang cukup penting.
Bacaaja: Asing Kabur Rp67 Triliun! IHSG Jadi Bursa Terburuk di Dunia, Sempat Rontok hingga 5 Persen
Bacaaja: Rakyat Gak Pakai Dolar, tapi Harga Menu Makanan di Warteg Semarang Melonjak
Banyak yang mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang bikin rupiah makin tertekan?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan yang menyebut pelemahan rupiah terjadi karena kebijakan fiskal pemerintah yang dianggap berantakan.
“Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini justru lebih baik dibanding tahun lalu. Ia menyebut penerimaan pajak tahun 2026 meningkat dan menjadi tanda reformasi perpajakan mulai menunjukkan hasil.
Meski begitu, para analis menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu kondisi global yang lagi nggak stabil.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar sedang khawatir dengan konflik Timur Tengah yang makin memanas, terutama antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketidakpastian hubungan kedua negara itu bikin harga minyak dunia ikut melonjak dan membuat pasar keuangan global jadi tegang.
Pengamat mata uang Ariston Tjendra juga menilai konflik AS-Iran masih jadi faktor utama yang menekan rupiah.
“AS dan Iran sampai sekarang belum menemukan titik damai, bahkan tensinya meningkat. Itu mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bikin dolar AS makin kuat,” katanya.
Kalau situasi global belum mereda, rupiah diperkirakan masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.
Meski begitu, para analis meminta masyarakat nggak langsung panik berlebihan. Sebab pergerakan nilai tukar memang sangat dipengaruhi sentimen pasar global yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Tapi satu hal yang pasti, ketika rupiah makin melemah, efeknya bisa terasa ke banyak hal. Mulai dari harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, sampai potensi kenaikan harga kebutuhan tertentu di dalam negeri. (*)

