BACAAJA, SEMARANG – Harga bahan pokok yang terus merangkak naik mulai terasa dampaknya di warung makan. Sejumlah warteg di Kota Semarang terpaksa menaikkan harga menu karena biaya belanja harian makin besar.
Salah satunya dirasakan Warteg Arman di kawasan Pleburan. Pegawai warteg, Fifah, mengaku kenaikan terjadi pada berbagai bahan, terutama ayam dan aneka ikan yang menjadi lauk favorit pelanggan.
Menurutnya, harga ayam yang sebelumnya sekitar Rp30 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp35 ribu. Kenaikan serupa juga terjadi pada ikan seperti lele, tongkol, pindang, hingga bandeng.
Bacaaja: Rakyat Gak Butuh Dolar tapi Ukuran Tempe Jadi Kecil, Pedagang Ngeluh Sepi Pembeli
Bacaaja: Rupiah Makin Keok! Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia
Dampaknya langsung terasa pada harga makanan yang dijual. Menu nasi dengan lauk ikan yang sebelumnya dibanderol Rp13 ribu kini naik menjadi Rp16 ribu per porsi.
“Kami naikkan sesuai harga pasar,” kata Fifah, Rabu (3/7/2026).
Cerita serupa datang dari Warteg di Jalan Kusumawardani. Pedagang di warteg tersebut, Siti, mengatakan harga makanan juga sudah disesuaikan sejak beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, kenaikan memang tidak terlalu besar. Namun hampir semua menu mengalami penyesuaian sekitar Rp1.000 per porsi.
“Harga nasi yang dulu Rp4.000 sekarang naik Rp1.000. Kertas nasi juga mahal, jadi ikut berpengaruh,” kata Siti.
Meski harga naik, pelanggan masih tetap datang. Sebagian hanya bertanya soal kenaikan harga, lalu tetap membeli makanan seperti biasa.
“Paling tanya, kok naik. Ya saya jelaskan karena harga bahan dan bungkus juga naik,” ujarnya.
Namun di balik itu, ia mengaku biaya belanja harian semakin berat. Uang Rp500 ribu yang dulu cukup untuk belanja banyak kebutuhan kini terasa jauh lebih sedikit.
“Belanja sekarang mahal semua. Bawa Rp500 ribu rasanya enggak cukup seperti dulu,” katanya.
Menurut Siti, kondisi ini membuat pedagang warteg berada di posisi serba sulit. Harga bahan pangan naik, modal membengkak, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Meski begitu, para pedagang tetap berusaha bertahan. Mereka memilih menaikkan harga secara bertahap ketimbang mengurangi porsi makanan yang diterima pelanggan.
Kenaikan harga bahan pangan ini terjadi di tengah nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah bahkan nyaris menyentuh Rp18 ribu per dolar AS setelah berada di level Rp17.926 per dolar AS.
Meski pedagang kecil tak berurusan langsung dengan dolar, dampaknya tetap terasa. Harga berbagai kebutuhan pangan di tingkat pasar ikut merangkak naik dan akhirnya menekan biaya operasional warung makan.
Hari ini, rupiah jadi mata uang terlemah di Asia
Nilai tukar rupiah makin nggak baik-baik aja. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi, rupiah kembali ambruk hingga nyaris menyentuh Rp18 ribu per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.13 WIB, rupiah melemah 0,49 persen ke posisi Rp17.926 per dolar AS.
Angka ini bikin rupiah jadi mata uang dengan pelemahan paling dalam di kawasan Asia pagi ini. (bae)

