BACAAJA, SEMARANG – Momen Hari Jadi Kota Semarang jadi pengingat soal PR lama yang belum kelar. Banjir rob dan genangan masih datang berulang, terutama di kawasan pesisir.
Organisasi yang fokus di bidang lingkungan, Walhi Jateng menilai, akar masalahnya ada di penataan ruang kota yang belum beres. Pemerintah diminta mulai berani merapikan dari hulunya, bukan cuma tambal sulam di hilir.
“Hendaknya Wali Kota Semarang mulai membenahi permasalahan banjir mulai dari pembenahan tata ruangnya,” kata aktivis Walhi, Nur Colis, Rabu (29/4/2026).
Ia menekankan pentingnya ketegasan dalam menetapkan kawasan konservasi dan daerah resapan air. Tujuannya biar pemanfaatan ruang nggak tumpang tindih, apalagi sampai merusak fungsi lingkungan.
Baca juga: Satu Tahun Agustina-Iswar: Titik Lama Belum Beres, Banjir Muncul di Area Baru
Menurutnya, wilayah atas harus dijaga sebagai resapan dan penyangga. Sementara kawasan pesisir yang sekarang dipenuhi industri dan infrastruktur juga perlu ditata ulang.
Colis bilang, tanpa pembenahan itu, banjir rob bakal terus jadi langganan. Apalagi ditambah persoalan intrusi air laut yang bikin air makin susah meresap ke tanah.
Pemicu Genangan
Selain tata ruang, ia juga menyoroti urusan drainase dan sampah yang belum optimal. Dua hal ini sering jadi pemicu genangan makin parah saat hujan datang.
“Lalu dilanjutkan pembenahan drainase dan pengelolaan sampahnya, serta soal intrusi air laut yang membuat sulit air meresap ke tanah,” ujarnya. Untuk jangka panjang, Colis menyarankan penyediaan air bersih dari sumber permukaan.
Baca juga: Kawasan Atas Berubah Jadi Hutan Beton, Warga Semarang Khawatir Tambah Sering Kebanjiran
Cara ini dinilai bisa menekan penggunaan air tanah, khususnya di wilayah pesisir. “Penyediaan air bersih dari permukaan bisa menjadi salah satu ide solusi dalam memasok air untuk warga dan industri, dan bisa mengurangi penggunaan air tanah di pesisir,” pungkasnya.
Selama kota masih ditata “sesuai kebutuhan sesaat”, jangan heran kalau rob datang tepat waktu tiap tahun. Soalnya yang berubah cuma airnya, cara ngatur kotanya masih itu-itu aja. (bae)
Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota”. (Red)

