Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Semangkuk Jenang dan Cerita Lama Ramaikan Suro Triwindu
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Plesir

Semangkuk Jenang dan Cerita Lama Ramaikan Suro Triwindu

Dulu, jenang Suro hanya dibagikan di kalangan pedagang pasar. Namun seiring waktu, tradisi itu berkembang menjadi kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.Kini siapa saja yang datang ke Pasar Triwindu bisa ikut merasakan sajian khas yang hanya hadir pada momen tertentu tersebut.

Nugroho P.
Last updated: Juni 16, 2026 9:56 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi jenang Suro.
SHARE

BACAAJA, SOLO – Suasana Pasar Triwindu Solo terasa berbeda menjelang malam pergantian tahun baru Islam. Di tengah lalu lalang pengunjung yang datang berburu barang antik, aroma jenang Suro menguar dari sudut pasar dan mengundang banyak orang untuk mendekat.

Ratusan warga tampak mengantre dengan tertib pada Selasa, 16 Juni 2026. Mereka datang bukan untuk berbelanja, melainkan menikmati jenang Suro yang dibagikan gratis oleh para pedagang.

Tahun ini, Paguyuban Pasar Triwindu menyiapkan sekitar 500 porsi jenang Suro untuk dibagikan kepada masyarakat.

Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya. Antusiasme pengunjung yang terus bertambah membuat para pedagang memutuskan memperbanyak porsi agar lebih banyak warga bisa ikut menikmati tradisi tersebut.

Ketua Paguyuban Pasar Triwindu, Nur Bramantyo, mengatakan tradisi membagikan jenang Suro sudah berlangsung turun-temurun di lingkungan pasar.

Menurutnya, kebiasaan itu diwariskan dari generasi sebelumnya yang selalu memasak jenang saat memasuki bulan Suro lalu menikmatinya bersama-sama.

Tradisi tersebut tidak sekadar soal makanan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur saat memasuki tahun baru dalam penanggalan Jawa dan Islam.

Dulu, jenang Suro hanya dibagikan di kalangan pedagang pasar. Namun seiring waktu, tradisi itu berkembang menjadi kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.Kini siapa saja yang datang ke Pasar Triwindu bisa ikut merasakan sajian khas yang hanya hadir pada momen tertentu tersebut.

Para pedagang bahkan rela menyisihkan waktu dan tenaga demi menjaga tradisi itu tetap hidup.

Sejak Senin, 15 Juni 2026, mereka sudah mulai bergotong royong menyiapkan seluruh kebutuhan memasak.

Ibu-ibu pedagang menjadi motor utama dalam proses pembuatan jenang yang berlangsung hingga menjelang siang hari.

Kesibukan terlihat sejak pagi. Ada yang menyiapkan bahan, mengaduk bubur, memasak lauk pelengkap, hingga mengemas sajian untuk dibagikan kepada pengunjung.

Semua biaya kegiatan berasal dari swadaya para pedagang tanpa bantuan pihak luar.

Semangat kebersamaan itu menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ini mampu bertahan selama bertahun-tahun.

Bagi para pedagang, menjaga tradisi sama pentingnya dengan menjaga aktivitas ekonomi pasar.

Mereka berharap kegiatan seperti ini membuat Pasar Triwindu semakin dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Selain terkenal sebagai pusat barang antik, pasar tersebut juga ingin dikenal sebagai ruang yang menjaga warisan budaya lokal.

Jenang Suro yang dibagikan memiliki cita rasa gurih khas yang berbeda dengan bubur pada umumnya.

Sajian itu dilengkapi berbagai ubarampe atau pelengkap tradisional yang membuat rasanya semakin kaya.

Dalam satu porsi terdapat perkedel, telur, sambal goreng tholo yang berbahan kacang tunggak, serta kedelai hitam yang menjadi ciri khasnya.

Perpaduan berbagai bahan tersebut menciptakan rasa gurih yang cukup unik dan jarang ditemui dalam makanan sehari-hari.

Tidak hanya jenang, para pedagang juga menyediakan aneka jajanan pasar secara cuma-cuma bagi pengunjung.

Berbagai kudapan tradisional disiapkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali makanan khas yang mulai jarang dijumpai.

Banyak pengunjung mengaku tertarik karena selain bisa mencicipi makanan gratis, mereka juga mendapatkan pengalaman budaya yang berbeda.

Salah satunya adalah Nisa Hidayah asal Wonogiri yang datang untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan tersebut.

Ia mengaku terkesan dengan rasa jenang yang disajikan dan suasana hangat yang tercipta di tengah keramaian pasar.

Menurutnya, pelayanan para panitia dan pedagang juga membuat pengalaman itu terasa semakin menyenangkan.

Di tengah berbagai dinamika yang terjadi di masyarakat saat ini, Nisa berharap momentum Tahun Baru Islam bisa membawa suasana yang lebih baik.

Ia berharap masyarakat dapat menjalani hari-hari ke depan dengan lebih tenang, optimistis, dan penuh semangat baru.

Sementara bagi para pedagang Triwindu, semangkuk jenang Suro bukan hanya hidangan tradisional. Di dalamnya tersimpan cerita tentang gotong royong, warisan leluhur, dan harapan agar budaya lama tetap punya tempat di tengah kehidupan yang terus bergerak maju. (*)

You Might Also Like

Bingung Cari Bukber? Ini Spot Asyik Buka Puasa Tegal

Dari Panggung ke Kera: Cara Semarang Bikin Tradisi Tetap ‘Hidup’

Lari Sampai Nanjak 82 Km? Di Ungaran, Capek Jadi Wisata

Kemenpar Dorong Shiva Festival Naik Level Nasional

Kota Lama Lagi Viral di Dunia Nyata: Wisatawan Meledak, Semua Hotel Nyaris Full!

TAGGED:gurihjenangjenang suro
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article JALIN MOU‐-PERADI Profesional dan Dekan FH UNS (dari kiri) menunjukkan berkas MoU. (ist) Peradi Profesional Gandeng UNS, Siapkan Advokat Bergelar “Adv”
Next Article Kereen, Maling Buat Surat Permohonan Maaf, Eh Dimaafkan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ilustrasi aksi penganiayaan.

Tiga Tahun Hilang Kabar, Perempuan Bandung Muncul Terluka Parah

Ratusan Calon Dokter Mentok Ujian, Kampus Ikut Disorot

Kontainer Numpuk Bukan Bea Cukai, Importir Malah Santai Dulu

Kereen, Maling Buat Surat Permohonan Maaf, Eh Dimaafkan

Semangkuk Jenang dan Cerita Lama Ramaikan Suro Triwindu

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

MELANGITKAN DOA - Seorang perempuan menyalakan dan menaruh dupa setelah berdoa di sebuah klenteng di kawasan Pecinan, Semarang. (dul)
Plesir

Tembok Mural hingga Festival Mooncake Internasional, Geliat Wisata Pecinan Semarang

Juni 12, 2026
Plesir

Mau Coba Keong Sawah Rebus Rempah? Ini Takjil Legendaris Purwokerto

Maret 13, 2026
Plesir

Semarang Zoo Tambah Koleksi

Mei 30, 2025
Plesir

Harimaunya Kok Tinggal Empat? Pemkot Semarang Buka Suara

Desember 18, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Semangkuk Jenang dan Cerita Lama Ramaikan Suro Triwindu
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?