BACAAJA, JEPANG – Kalau melihat halte bus berbentuk stroberi, semangka, atau melon di Jepang, banyak orang mengira bangunan itu dibuat hanya demi menarik wisatawan. Padahal, di balik tampilannya yang unik, ada cerita panjang yang melekat dengan sejarah dan identitas daerah setempat.
Deretan halte nyentrik itu berada di kawasan Konagai, Kota Isahaya, Prefektur Nagasaki. Sepanjang jalan, wisatawan akan menemukan halte dengan bentuk buah-buahan berwarna cerah yang langsung mencuri perhatian.
Mulai dari stroberi, jeruk mikan, melon, semangka, hingga tomat, semuanya dibuat berukuran besar sehingga mudah terlihat dari kejauhan. Tak heran kalau lokasi ini kini menjadi salah satu spot foto favorit para pelancong.
Namun, tujuan pembangunannya bukan sekadar mempercantik jalan. Halte-halte tersebut sejak awal dirancang untuk memperkenalkan kekayaan daerah sekaligus meninggalkan kesan bagi wisatawan yang datang.
Inspirasi desainnya ternyata berasal dari kereta labu dalam dongeng Cinderella. Konsep itu kemudian dikembangkan menjadi berbagai bentuk buah yang dianggap lebih dekat dengan karakter wilayah Konagai.
Pembangunan halte buah dimulai setelah Nagasaki Travel Expo yang digelar pada 1990. Saat itu, pemerintah daerah ingin menghadirkan ikon wisata yang berbeda sekaligus mengenalkan Nagasaki kepada pengunjung dari berbagai daerah.
Seiring waktu, halte-halte tersebut berkembang menjadi simbol khas kawasan. Kini, banyak wisatawan sengaja datang hanya untuk berburu foto di setiap halte yang memiliki bentuk berbeda.
Lebih dari sekadar tempat menunggu bus, setiap desain buah juga mewakili hasil pertanian yang menjadi kebanggaan Prefektur Nagasaki. Wilayah ini memang dikenal memiliki kondisi alam yang mendukung budidaya berbagai jenis buah.
Stroberi dan jeruk mikan menjadi dua komoditas yang paling terkenal. Karena itu, bentuk halte dipilih sebagai cara kreatif untuk memperkenalkan produk lokal kepada siapa pun yang melintas.
Warga setempat bahkan menjuluki kawasan itu sebagai Tokimeki Fruit Bus Stop Street, atau jalan dengan deretan halte buah. Nama tersebut kini makin populer di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ada sisi sejarah yang membuat halte-halte ini terasa lebih bermakna. Kehadirannya dianggap sebagai simbol optimisme dan semangat bangkit masyarakat Nagasaki setelah tragedi bom atom pada 1945.
Meski Konagai bukan lokasi pusat ledakan, kawasan tersebut ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang pemulihan Nagasaki. Halte-halte berwarna cerah itu pun seolah menggambarkan harapan baru dan kehidupan yang terus berjalan.
Saat ini terdapat 16 halte buah yang tersebar di kawasan tersebut. Sebanyak 14 halte berada di sepanjang Jalan Nasional 207, sementara dua lainnya berada di Jalan Prefektur Konagai.
Komposisinya terdiri dari empat halte stroberi, empat jeruk mikan, tiga melon, tiga semangka, dan dua tomat. Sebagian besar berdiri di jalur pesisir sehingga pengunjung bisa menikmati panorama laut sekaligus berfoto dengan latar halte unik yang ikonik.
Kalau berencana liburan ke Nagasaki, mampir ke halte buah bisa jadi pengalaman yang berbeda. Bukan cuma dapat foto estetik, tetapi juga mengenal bagaimana sebuah halte sederhana bisa berubah menjadi simbol budaya, pertanian, dan semangat sebuah daerah (*)

