BACAAJA, SOLO – Sengketa Taman Sriwedari Solo kembali memanas. Ahli waris berencana mendirikan Sekretariat Bersama (Sekber), namun terhalang adanya panggung pentas seni.
Keberadaan panggung seni dan budaya di lokasi yang disebut akan menjadi tempat pembangunan Sekber sempat dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap ahli waris.
Forum Komunitas Sriwedari (Foksri) membantah anggapan tersebut. Pembina Foksri Kusumo Putro menjelaskan, panggung itu didirikan untuk mendukung agenda pertunjukan seni dan budaya yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Kegiatan di panggung seni tersebut menampilkan berbagai potensi seni di kawasan Sriwedari, mulai dari tari hingga musik keroncong.
Bacaaja: Miris!! Rusa Taman Sriwedari Makan Sampah
Bacaaja: Keinginan Ahli Waris Sriwedari Dirikan Sekber Mendapat Penolakan, Sengketa Bonrojo Memanas
“Kegiatan ini ada tari, potensi seni budaya, ada musik keroncong. Semua potensi budaya yang ada di Sriwedari ditampilkan. Acara mulai hari ini sampai Minggu, pukul 15.00 sampai 19.00,” kata Kusumo, Selasa (15/9/2026).
Kusumo menegaskan pihaknya tidak mengetahui adanya rencana ahli waris mendirikan Sekber di lokasi tersebut. Karena itu, ia membantah jika panggung sengaja didirikan untuk menggagalkan pembangunan.
Menurutnya, persiapan kegiatan seni telah dilakukan jauh sebelum rencana pembangunan Sekber mencuat.
“Kami tidak tahu kalau ada rencana pembangunan atau apa. Persiapan acara ini sudah cukup lama. Tidak serta-merta hari ini langsung berdiri,” ujarnya.
Kusumo mengatakan kegiatan tersebut melibatkan sejumlah komunitas dan paguyuban yang selama ini menggantungkan aktivitasnya di kawasan Sriwedari.
Komunitas yang terlibat tak hanya dari kalangan seniman. Ada pula pelukis, kelompok parkir, pelaku kuliner hingga berbagai komunitas lainnya.
Menurut Kusumo, Foksri selama ini menjadi wadah komunikasi berbagai paguyuban di Sriwedari sekaligus menjadi penghubung aspirasi mereka dengan pemerintah.
“Di sini merupakan tempat komunitas terbesar yang ada di Solo. Banyak paguyuban, ada pelukis, seni dan budaya, parkir, kuliner dan berbagai komunitas lainnya. Posisi kami menjadi wadah dari semua paguyuban yang ada di kawasan ini,” jelasnya.
Terkait lokasi panggung yang bertepatan dengan titik rencana pembangunan Sekber, Foksri memilih tidak mengambil keputusan sendiri.
Kusumo menyerahkan persoalan tersebut kepada pihak yang memiliki kewenangan. Ia bahkan menyatakan siap memindahkan atau menggeser panggung apabila ada keputusan resmi dari pihak berwenang.
“Kalau memang ada yang mempunyai kewenangan untuk meminta kami memindahkan atau menggeser, ya kami akan pindah. Yang jelas kami lebih dulu mau bikin acara budaya,” pungkasnya.
Polemik ini memperlihatkan bahwa sengketa Sriwedari bukan hanya menyangkut klaim kepemilikan lahan, tetapi juga bersinggungan dengan keberadaan berbagai komunitas yang telah lama menjalankan aktivitas di kawasan tersebut.
Kini, penyelesaian persoalan tersebut kembali bergantung pada kejelasan kewenangan dan pelaksanaan putusan hukum, agar konflik di lapangan tidak semakin melebar. (*)

