BACAAJA, SOLO – Pemandangan yang tak biasa dari kawasan Taman Sriwedari, Solo, mendadak ramai dibicarakan warganet. Bukan karena atraksi wisata baru atau acara budaya yang digelar di lokasi tersebut, melainkan karena munculnya foto-foto rusa yang terlihat mengais makanan dari tempat sampah. Momen itu memancing perhatian publik sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang kondisi satwa yang selama ini menjadi salah satu daya tarik taman bersejarah tersebut.
Peristiwa itu pertama kali mencuri perhatian setelah seorang pengunjung mengunggah pengalamannya ke media sosial Threads. Dalam unggahan tersebut, terlihat beberapa foto rusa yang sedang berada di sekitar tempat sampah dan tampak mencari sesuatu untuk dimakan. Tak butuh waktu lama, unggahan itu menyebar luas dan menuai beragam komentar dari pengguna media sosial.
Banyak warganet mengaku prihatin melihat satwa yang selama ini menjadi ikon Taman Sriwedari justru terlihat mendekati area pembuangan sampah. Sebagian mempertanyakan apakah rusa-rusa tersebut kekurangan pakan, sementara yang lain berharap ada penjelasan dari pihak pengelola mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.
Unggahan tersebut juga disertai cerita dari pemilik akun yang mengaku terkejut saat melihat langsung perilaku rusa tersebut. Menurutnya, pemandangan itu cukup membuat miris karena hewan yang seharusnya mendapatkan perawatan justru terlihat mencari makanan di tempat yang tidak semestinya.
Ramainya perbincangan di media sosial akhirnya sampai ke telinga Pemerintah Kota Surakarta. Tak menunggu lama, jajaran pemerintah daerah langsung bergerak untuk memastikan kondisi satwa sekaligus mengecek situasi di kawasan wisata yang berada di pusat Kota Solo tersebut.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, turun langsung meninjau area Taman Sriwedari pada Sabtu, 6 Juni 2026. Kunjungan itu dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi rusa yang menjadi perhatian publik sekaligus mengevaluasi tata kelola kawasan wisata tersebut.
Dalam peninjauan itu, Astrid tidak hanya melihat kondisi rusa, tetapi juga memperhatikan lingkungan sekitar yang menjadi habitat sementara bagi puluhan satwa tersebut. Pemerintah ingin memastikan bahwa rusa-rusa yang ada di sana mendapatkan perlakuan dan ruang hidup yang layak.
Selain melakukan pengecekan lapangan, Pemkot Solo juga menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, serta unsur pendukung lainnya diajak duduk bersama untuk membahas langkah perbaikan yang bisa dilakukan ke depan.
Menurut Astrid, berbagai masukan dari masyarakat menjadi bahan evaluasi penting. Ia menilai perhatian publik terhadap kondisi rusa menunjukkan bahwa masyarakat peduli terhadap kesejahteraan satwa yang berada di ruang publik.
Pemerintah daerah pun menyadari bahwa kawasan Taman Sriwedari membutuhkan penataan yang lebih optimal. Tidak hanya dari sisi kebersihan dan kenyamanan pengunjung, tetapi juga terkait pengelolaan satwa yang menjadi bagian dari daya tarik kawasan tersebut.
Saat ini, terdapat 31 ekor rusa yang hidup di area Taman Sriwedari. Jumlah itu tentu membutuhkan perhatian khusus agar seluruh satwa mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Astrid menegaskan bahwa salah satu fokus utama yang akan dibahas adalah bagaimana menciptakan ruang yang lebih tertata bagi rusa-rusa tersebut. Dengan lingkungan yang lebih baik, diharapkan satwa tidak lagi berkeliaran hingga mendekati area tempat sampah.
Di sisi lain, pihak pengelola memastikan bahwa selama ini rusa-rusa tersebut tetap mendapatkan perawatan rutin. Pemerintah menegaskan bahwa keberadaan foto rusa di dekat tempat sampah tidak serta-merta menunjukkan bahwa satwa tersebut tidak terurus.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Maretha Dinar Cahyono, menjelaskan bahwa pemantauan kesehatan rusa dilakukan secara berkala. Dokter hewan juga disiapkan untuk memastikan kondisi satwa tetap terjaga.
Pemeriksaan kesehatan rutin menjadi bagian dari pengelolaan yang selama ini dijalankan. Selain itu, perkembangan kondisi rusa juga dilaporkan secara berkala kepada pihak yang berwenang dalam bidang konservasi satwa.
Menurut Maretha, pengelolaan rusa di Taman Sriwedari sudah memiliki izin resmi sebagai penangkaran sejak November 2025. Karena itu, setiap kegiatan pemeliharaan maupun pelaporan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap kritik dan masukan yang muncul. Justru viralnya foto-foto tersebut dianggap sebagai momentum untuk memperbaiki sistem pengelolaan agar lebih baik lagi ke depannya.
Salah satu opsi yang kini mulai disiapkan adalah pembangunan area penangkaran yang lebih tertata. Konsep tersebut diharapkan mampu memberikan ruang hidup yang lebih aman sekaligus membuat keberadaan rusa menjadi lebih terkontrol.
Dalam konsep yang sedang dikaji, rusa akan memiliki area khusus yang cukup luas untuk bergerak bebas tanpa harus keluar menuju lokasi-lokasi yang berpotensi membahayakan. Dengan begitu, interaksi dengan sampah maupun area publik yang tidak semestinya bisa diminimalkan.
Menariknya, konsep itu tetap mempertahankan interaksi antara pengunjung dan satwa. Masyarakat nantinya masih dapat melihat dan memberi pakan kepada rusa sesuai aturan yang ditentukan pengelola.
Pendekatan tersebut dianggap mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan konservasi dan pengalaman wisata. Satwa mendapatkan ruang yang lebih layak, sementara pengunjung tetap bisa menikmati salah satu daya tarik khas Taman Sriwedari.
Bagi banyak warga Solo, keberadaan rusa di kawasan tersebut bukan sekadar koleksi satwa biasa. Hewan-hewan itu sudah menjadi bagian dari identitas Taman Sriwedari yang dikenal lintas generasi dan kerap menjadi tujuan rekreasi keluarga.
Karena itu, perhatian publik yang muncul belakangan menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian besar terhadap keberlangsungan satwa tersebut. Harapan terbesar tentu bukan sekadar meredam polemik di media sosial, melainkan menghadirkan perubahan nyata di lapangan.
Kini, setelah foto-foto rusa mengais makanan dari tempat sampah menjadi viral, pemerintah bergerak untuk melakukan pembenahan. Langkah itu diharapkan tidak hanya memperbaiki citra kawasan wisata, tetapi juga memastikan puluhan rusa yang hidup di Taman Sriwedari dapat menikmati lingkungan yang lebih sehat, aman, dan jauh dari tumpukan sampah yang sempat menjadi sorotan publik. (*)

