BACAAJA, SEMARANG – KAI Daop 4 Semarang meningkatkan kewaspadaan setelah lima kebakaran atau titik api muncul di sekitar jalur kereta api sepanjang September 2026.
Petugas kini memperketat pemantauan untuk mencegah api maupun asap mengganggu perjalanan kereta.
Lima kejadian tersebut tersebar di sejumlah wilayah Daop 4.
Kebakaran pertama terjadi pada 6 September di area jalur Kapuan-Cepu. Api membakar lahan tebu di sekitar jalur KA, namun berhasil dipadamkan dan tidak mengganggu perjalanan kereta.
Bacaaja: Kebakaran Hutan dan Lahan di Jateng Meledak 700 Persen
Bacaaja: Antisipasi Kebakaran Hutan, Jateng Bentuk Satgas Karhutla
Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di belakang Griya Karya Tawang. Petugas KAI bersama pemadam kebakaran langsung terjun dan api berhasil dipadamkan.
Kebakaran berikutnya terjadi di Desa Slerok, Tegal, pada 8 September. Api muncul dari lahan dan rumput kering lalu merembet ke area sekitar sebelum berhasil ditangani petugas bersama warga dan pemadam kebakaran.
Dua kejadian lain muncul pada 15 dan 16 September. Titik api di petak Karangjati-Sedadi diduga berasal dari pembakaran sisa panen, sedangkan titik api di petak Comal-Petarukan masih dalam pemantauan.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, mengatakan musim kemarau membuat material kering di sekitar rel lebih mudah terbakar. Kondisi ini membuat KAI harus meningkatkan pengawasan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran di sekitar jalur KA karena api dapat merambat dan asapnya berpotensi mengurangi jarak pandang masinis,” ujar Luqman, Rabu (16/9/2026).
KAI juga memperkuat koordinasi dengan pemadam kebakaran, pemerintah daerah dan unsur kewilayahan. Jika ada titik api, petugas akan segera melakukan penanganan agar tidak mendekati jalur KA.
KAI meminta warga tidak membakar sampah, jerami, sekam, rumput kering maupun sisa hasil pertanian di dekat rel. Warga juga diminta segera melapor jika melihat api atau kepulan asap yang mengarah ke jalur kereta. (bae)

