BACAAJA, TEMANGGUNG- Pemprov Jateng memperketat langkah antisipasi menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Selain membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian dan Penanganan Karhutla, pemprov juga memperkuat keberadaan 46 kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang tersebar di berbagai daerah.
Salah satu kelompok yang aktif bergerak adalah MPA Abdi Bumi di lereng Gunung Sumbing, Desa Batursari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Setiap musim kemarau, para relawan rutin melakukan patroli, membersihkan jalur hutan, membuat sekat bakar, hingga memastikan saluran mata air tetap aman dari ancaman kebakaran.
Baca juga: Wagub Minta Hutan Lindung Jangan Cuma Nama
Anggota MPA Abdi Bumi, David Yusuf Setiawan mengatakan, sekat bakar menjadi salah satu cara paling efektif untuk memperlambat penyebaran api apabila kebakaran terjadi.
“Dulu sekitar tahun 2016 kebakaran hutan cukup sering terjadi. Setelah mendapat pelatihan dari Cabang Dinas Kehutanan Pemprov Jateng, kami dibekali pengetahuan dan peralatan untuk penanganan kebakaran,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Menurut David, dampak kebakaran hutan jauh lebih besar daripada sekadar hilangnya pepohonan. Sumber mata air bisa mengering, vegetasi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih, bahkan aktivitas wisata pendakian ikut terdampak.
“Yang paling krusial setelah kebakaran adalah sumber air bisa mati. Pemulihan vegetasi bisa memakan waktu empat sampai lima tahun,” katanya. Selain patroli, relawan MPA juga aktif mengingatkan para pendaki agar tidak menyalakan api unggun sembarangan dan memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang.
Ujung Tombak
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng, Heru Djatmika mengatakan, keberadaan MPA menjadi ujung tombak dalam upaya pencegahan karhutla di lapangan.
Hingga saat ini, sebanyak 46 kelompok MPA telah dibentuk di berbagai wilayah Jawa Tengah dengan dukungan pelatihan serta peningkatan kapasitas dari pemerintah provinsi.
Tak hanya itu, Pemprov juga telah membentuk Satgas Pengendalian dan Penanganan Karhutla melalui Keputusan Gubernur. Satgas tersebut melibatkan BPBD, DLHK, Dinas Kesehatan, serta berbagai perangkat daerah terkait agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara cepat dan terpadu.
“Harus ada sinergi antara Satgas dan MPA. MPA menjadi ujung tombak yang memperkuat kerja Satgas di lapangan,” ujar Heru. Ia menjelaskan, luas kawasan hutan di Jateng mencapai sekitar 1,38 juta hektare atau 42,56 persen dari total luas wilayah provinsi.
Baca juga: Puntung Rokok Diduga Bikin Lereng Slamet Nyaris Terbakar
Kawasan yang paling rawan mengalami karhutla berada di wilayah pegunungan saat vegetasi mulai mengering, serta daerah-daerah kering seperti Kabupaten Blora dan Rembang.
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, Pemprov juga telah menggelar apel siaga tingkat provinsi sekaligus mengintensifkan pemantauan titik panas (hotspot) selama musim kemarau berlangsung.
Hutan memang tak bisa bicara saat mulai mengering. Tapi kalau api sudah telanjur datang, penyesalan selalu terdengar paling keras. Karena itulah, mencegah kebakaran tetap jauh lebih murah daripada menghitung kerusakan yang ditinggalkannya. (tebe)

