BACAAJA, SEMARANG- Di tengah ketatnya persaingan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), sekolah swasta masih berupaya mencari ruang untuk tetap bertahan. Salah satu harapan terbesar datang dari program kemitraan pemerintah yang dinilai mampu menjadi jembatan antara kebutuhan sekolah dan akses pendidikan bagi masyarakat.
SMK Ibu Kartini Semarang menjadi salah satu sekolah yang merasakan dampak nyata dari kebijakan tersebut. Setelah sempat mengalami penurunan jumlah siswa akibat perpindahan lokasi sekolah, Subagio Subali, Wakil Kepala Kesiswaan SMK Ibu Kartini Semarang menyebut kondisi perlahan mulai membaik di tahun ajaran terakhir.
“Kalau animo sebenarnya cukup tinggi, terutama pada konsentrasi keahlian kuliner,” ujarnya Rabu (15/4/2026). Ia menjelaskan bahwa jurusan kuliner masih menjadi daya tarik utama bagi calon siswa dibandingkan jurusan lain seperti rekayasa perangkat lunak, desain komunikasi visual, maupun desain produksi busana.
Secara keseluruhan, jumlah siswa yang diterima pada tahun ajaran lalu mencapai 171 orang. Angka ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 106 siswa. “Berarti kan lompatannya luar biasa dari 106 menjadi 171,” tegasnya.
Baca juga: Pemkot Tambah Sekolah Swasta Gratis
Menurut Subagio, peningkatan ini tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan sekolah dalam program kemitraan pemerintah melalui jalur afirmasi. Dalam skema tersebut, sekolah swasta diberi kesempatan menerima siswa dari keluarga kurang mampu yang sebelumnya mengikuti seleksi di sistem SPMB negeri.
“Tahun kemarin kami menerima 170 siswa dengan 10 siswa status afirmasi dari negeri,” jelasnya. Meski jumlah siswa afirmasi hanya sebagian kecil, kehadiran program ini memberi dampak yang lebih luas.
Tidak hanya membantu dari sisi jumlah siswa, tetapi juga menjadi bentuk pengakuan pemerintah terhadap keberadaan sekolah swasta. “Bagi kami, kepercayaan itu sudah luar biasa. Walaupun kami tidak boleh melakukan pungutan untuk siswa afirmasi, itu tetap menjadi kebanggaan,” katanya.
Jalur Kemitraan
Namun demikian, pihak sekolah menilai bahwa kebijakan yang ada saat ini masih belum sepenuhnya memberi ruang yang adil. Jalur kemitraan yang hanya terbatas pada afirmasi dinilai belum cukup untuk mengangkat posisi sekolah swasta dalam sistem pendidikan.
Karena itu, mereka berharap adanya perluasan skema kerja sama ke jalur lain. “Kalau kami boleh memohon, kemitraan ini berlanjut. Yang kedua ditingkatkan bukan hanya lewat jalur afirmasi, tapi juga jalur prestasi, zonasi maupun mutasi,” ungkapnya
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Selama ini, sekolah swasta kerap menjadi pilihan terakhir bagi siswa yang tidak diterima di sekolah negeri. Padahal, dari sisi kualitas, banyak sekolah swasta yang merasa mampu bersaing.
Baca juga: Keren! Gubernur Jateng Gratiskan Siswa Miskin di Sekolah Swasta
“Kalau kompetensi guru, sarana prasarana, program, kami siap. Kecuali satu, kami tidak siap bersaing gratis,” ujarnya jujur. Di sisi lain, muncul kabar bahwa program kemitraan tersebut berpotensi dihentikan.
Meski belum ada kepastian resmi, isu ini sudah cukup membuat pihak sekolah khawatir terhadap dampaknya di masa mendatang. “Saya berharap ya jangan dihapus atau dihilangkan. Jika perlu ya ditambah kewenangannya,” tegasnya.
Bagi SMK Ibu Kartini, program kemitraan bukan sekadar soal angka penerimaan siswa. Lebih dari itu, ini adalah tentang keberlanjutan sekolah swasta di tengah sistem yang belum sepenuhnya berpihak.
Jika akses diperluas dan kebijakan dibuat lebih inklusif, bukan tidak mungkin sekolah swasta dapat berdiri sejajar sebagai pilihan utama, bukan lagi sekadar alternatif terakhir. Karena kalau sistemnya masih bikin swasta nunggu “sisa”, jangan kaget kalau yang tersisa nanti bukan cuma bangku kosong, tapi juga kepercayaan. (dul)

