Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Cek, Napas Masih Panjang atau Mulai Pendek? Paru-Paru Punya Jawaban
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Cek, Napas Masih Panjang atau Mulai Pendek? Paru-Paru Punya Jawaban

Banyak orang menganggap paru-paru hanya berfungsi untuk bernapas. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Organ ini memiliki hubungan erat dengan kesehatan jantung, daya tahan tubuh, hingga kemampuan otak bekerja secara optimal. Saat fungsi paru-paru menurun, dampaknya bisa terasa ke berbagai bagian tubuh, bukan hanya sekadar membuat napas terasa lebih berat.

Nugroho P.
Last updated: Juni 1, 2026 9:13 pm
By Nugroho P.
8 Min Read
Share
ilustrasi paru-paru
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Paru-paru ternyata menyimpan cerita panjang tentang kondisi tubuh yang sering luput diperhatikan banyak orang. Setiap hari, organ yang bekerja tanpa henti ini menghadapi berbagai tantangan mulai dari polusi udara, debu jalanan, asap kendaraan, alergen, hingga berbagai mikroorganisme yang beterbangan di sekitar kita. Tanpa terasa, semua paparan tersebut ikut memengaruhi kualitas paru-paru seiring bertambahnya usia.

Banyak orang menganggap paru-paru hanya berfungsi untuk bernapas. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Organ ini memiliki hubungan erat dengan kesehatan jantung, daya tahan tubuh, hingga kemampuan otak bekerja secara optimal. Saat fungsi paru-paru menurun, dampaknya bisa terasa ke berbagai bagian tubuh, bukan hanya sekadar membuat napas terasa lebih berat.

Karena itulah para ahli kesehatan kini semakin menyoroti pentingnya menjaga paru-paru sejak usia muda. Kondisi paru-paru yang baik tidak hanya membuat aktivitas sehari-hari terasa ringan, tetapi juga menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang manfaatnya bisa dirasakan hingga usia lanjut.

Penelitian terbaru yang dirilis tim ilmuwan internasional bidang kesehatan pernapasan pada 2025 memberikan gambaran menarik mengenai perjalanan fungsi paru-paru manusia dari masa muda hingga tua. Studi tersebut melibatkan sekitar 30.000 laki-laki dan perempuan yang datanya dikumpulkan selama puluhan tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan paru-paru mencapai performa terbaiknya saat seseorang berada di usia awal hingga pertengahan 20-an. Pada fase tersebut, kapasitas paru-paru berada di titik tertinggi sebelum perlahan mulai mengalami penurunan alami sebagai bagian dari proses penuaan.

Peneliti utama, Judith Garcia-Aymerich, yang merupakan profesor dari Barcelona Institute for Global Health, menjelaskan bahwa perempuan umumnya mencapai puncak fungsi paru beberapa tahun lebih cepat dibanding laki-laki. Setelah mencapai titik tersebut, kapasitas paru secara perlahan mulai berkurang seiring berjalannya waktu.

Meski terdengar mengkhawatirkan, penurunan fungsi paru sebenarnya merupakan proses biologis yang normal. Tubuh manusia memang mengalami berbagai perubahan seiring bertambahnya usia. Namun, sejumlah faktor eksternal bisa mempercepat proses tersebut sehingga dampaknya menjadi lebih terasa.

Kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor yang paling sering disebut. Selain itu, kualitas udara yang buruk, paparan polusi dalam jangka panjang, serta asma yang sering kambuh juga dapat mempercepat penurunan kemampuan paru-paru dalam mengolah udara.

Kabar baiknya, kapasitas paru-paru yang baik saat muda ternyata memberikan perlindungan tambahan di masa depan. Seseorang yang memiliki paru-paru sehat sejak awal cenderung memiliki ketahanan lebih besar terhadap berbagai penyakit pernapasan kronis ketika memasuki usia lanjut.

Karena itu, menjaga kesehatan paru bukan hanya urusan mereka yang sudah lanjut usia. Justru langkah pencegahan paling efektif dimulai sejak usia produktif ketika fungsi paru masih berada dalam kondisi terbaiknya.

Menariknya, kondisi paru-paru tidak selalu harus diperiksa melalui alat medis yang mahal. Para ahli menyebut ada cara sederhana yang dapat dilakukan di rumah untuk memperkirakan kapasitas paru-paru seseorang.

Metode ini berfokus pada pengukuran Forced Vital Capacity atau FVC, yaitu jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan seseorang setelah menarik napas sedalam mungkin. Meski tidak seakurat pemeriksaan klinis, metode ini bisa menjadi gambaran awal kondisi paru.

Peralatan yang dibutuhkan pun cukup sederhana. Hanya memerlukan botol plastik berukuran besar, air, wadah berisi air seperti ember atau bak, serta selang karet yang mudah ditemukan di rumah.

Langkah pertama adalah mengisi botol dengan air sebanyak 200 mililiter secara bertahap. Setiap penambahan air diberi tanda menggunakan spidol sehingga nantinya terdapat beberapa garis penanda volume di sisi botol.

Setelah botol penuh, botol tersebut dimasukkan ke dalam wadah berisi air lalu dibalik hingga posisi mulut botol berada di bawah permukaan air. Posisi ini memungkinkan udara dari selang mendorong air keluar saat seseorang menghembuskan napas.

Selanjutnya, salah satu ujung selang dimasukkan ke mulut botol. Pengguna kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya melalui selang hingga udara masuk ke dalam botol.

Udara yang masuk akan mendorong air keluar dari botol. Semakin banyak garis penanda yang terlewati, semakin besar kapasitas udara yang berhasil dikeluarkan dari paru-paru.

Jumlah garis yang terlewati kemudian dikalikan 200 mililiter. Hasil akhirnya menjadi perkiraan kapasitas vital paru atau FVC yang dimiliki seseorang saat itu.

Meski terlihat sederhana, para ahli mengingatkan agar hasil tes rumahan tidak dijadikan dasar diagnosis kesehatan. Banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil, termasuk teknik pengambilan napas dan kemampuan seseorang mengosongkan paru-paru secara maksimal.

Menurut American Lung Association, kapasitas vital paru dapat berkurang sekitar 0,2 liter setiap satu dekade bahkan pada individu yang sehat dan tidak memiliki riwayat merokok.

Secara umum, kapasitas paru normal berada di kisaran tiga hingga lima liter. Namun angka tersebut bisa berbeda tergantung usia, tinggi badan, jenis kelamin, hingga kondisi kesehatan masing-masing orang.

Selain mengukur volume udara, terdapat cara sederhana lain yang sering digunakan untuk menilai fungsi paru. Metode ini dilakukan dengan mengukur berapa lama seseorang mampu menghembuskan napas secara perlahan setelah menarik napas penuh.

Jika seseorang dapat menghembuskan napas selama sekitar 11 detik atau lebih, kondisi paru-parunya umumnya masih tergolong baik. Meski demikian, hasil ini tetap tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis profesional.

Seiring bertambahnya usia, paru-paru mengalami berbagai perubahan alami. Jaringan yang sebelumnya elastis mulai kehilangan kelenturannya, otot-otot pernapasan melemah, dan struktur tulang rusuk perlahan berubah.

Perubahan tersebut membuat proses bernapas tidak lagi seefisien ketika seseorang masih muda. Akibatnya, sebagian orang mulai merasa lebih mudah lelah atau mengalami sesak napas saat melakukan aktivitas tertentu.

Apabila penurunan fungsi paru berlangsung terlalu cepat atau terlalu besar, risiko munculnya penyakit seperti penyakit paru obstruktif kronis atau COPD menjadi semakin tinggi.

Yang menarik, dampak penurunan fungsi paru ternyata tidak berhenti pada sistem pernapasan saja. Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara kesehatan paru dengan tekanan darah tinggi, gangguan metabolisme tubuh, hingga penurunan kemampuan berpikir.

Para ilmuwan juga menemukan adanya hubungan kuat antara paru-paru dan sistem kekebalan tubuh. Di dalam paru-paru terdapat jutaan sel imun yang setiap hari bekerja membersihkan partikel asing yang masuk bersama udara.

Sel-sel tersebut bertugas melawan infeksi, membersihkan polusi, serta memperbaiki kerusakan kecil yang muncul akibat proses pernapasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup manusia.

Jika paparan partikel berbahaya terlalu besar atau kemampuan paru-paru mulai menurun, peradangan bisa berkembang lebih luas. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat memicu terbentuknya jaringan parut atau fibrosis yang mengganggu fungsi paru secara permanen.

Karena itu, jangan mengabaikan gejala seperti sesak napas yang muncul tanpa sebab jelas, batuk berkepanjangan, atau mudah kehabisan napas saat melakukan aktivitas ringan. Pemeriksaan menggunakan spirometer di fasilitas kesehatan dapat membantu mendeteksi masalah lebih dini.

Para ahli menyarankan pemeriksaan fungsi paru dilakukan secara berkala, bahkan pada orang yang tidak memiliki keluhan. Semakin cepat perubahan fungsi paru diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah masalah kesehatan yang lebih serius di masa depan. Pada akhirnya, menjaga paru-paru tetap sehat bukan hanya soal bernapas lebih lega, tetapi juga menjaga kualitas hidup agar tetap prima hingga usia lanjut. (*)

You Might Also Like

Wadidaw, Razia Gedean di Lapas, HP Disita, Narkoba Pun Kena

Skandal Dapur Fiktif dan Isu Minyak Babi di Wadah Makan MBG: DPR Desak Transparansi Total

Tas Isi Ratusan Juta Ketinggalan Toilet Malah Balik Utuh, Masih Ada Orang Baik

Guru SMA di Banyumas Dinyatakan Lakukan Pelecehan, Sekolah Minta Maaf dan Nonaktifkan Pelaku

Dari Proyek Ke Kampus, Jalan Nekat Berbuah Prestasi

TAGGED:napasparu-paru
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article 2 Juni Dompet Mulai Senyum, Gaji Ke-13 Cair Bawa Kabar Lega
Next Article Sate Berujung Maut, Menantu Klaim Dikasih Jampi-Jampi Bukan Racun

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sate Berujung Maut, Menantu Klaim Dikasih Jampi-Jampi Bukan Racun

Cek, Napas Masih Panjang atau Mulai Pendek? Paru-Paru Punya Jawaban

2 Juni Dompet Mulai Senyum, Gaji Ke-13 Cair Bawa Kabar Lega

Terong Tiap Hari Memang Nikmat, Tapi Ada Batas Aman, Simak yuk

Kompas Sudah Ada, Tinggal Jangan Jalan Sambil Merem

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.
Info

Banyak Kasus Keracunan MBG, BGN Santui Akui Gas Terus Kejar Target Kuantitas daripada Kualitas

September 26, 2025
Pendidikan

224 Ribu Calon Siswa Lolos SPMB Jateng 2025

Juni 25, 2025
Info

Gagal Panen Mengintai, Gubernur Minta Daerah Ajukan Asuransi

Januari 14, 2026
Info

Aduh! Jateng Nggak Santai, Lagi Terik-teriknya Gaes

Oktober 17, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Cek, Napas Masih Panjang atau Mulai Pendek? Paru-Paru Punya Jawaban
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?